Posted by: Jamilin Sirait | December 29, 2010

Selamat Natal dan Tahun Baru


Saya, Pdt Dr Jamilin Sirait, bersama semua keluarga (Isteri dan anak-anak) menyampaikan:

Selamat Hari Natal, 25-26 Desember 2010

dan

Selamat Tahun Baru, 1 Januari 2011

kepada Ibu, Bapak, Saudara/saudari yang kami hormati dan kasihi.

Kalau ada kesalahan, disengaja atau tidak disengaja. mohon dimaafkan.

 Tuhan Memberkati

Posted by: Jamilin Sirait | November 6, 2010

Bencana. Pedulikah kita??


Mengapa bangsa kita terus menerus menghadapi bencana? Sejak tsunami  Desember 2004 bangsa kita tidak henti-hentinya dilanda musibah, bencana yang membuat kita menangis. Banyak orang kehilangan saudara, keluarga, harta dan benda. Apa yang mereka bangun sejak beberapa puluh tahun lalu hilang dan sirna dalam waktu sekejap.

Anehnya di tengah bencana seperti itu sebagian pejabat pergi keluar negeri dengan alasan studi banding dan sebagainya. Seolah-olah hatinuraninya sudah tertutup tidak iba melihat saudaranya menderita.

Mau ke mana bangsa ini????

Posted by: Jamilin Sirait | September 28, 2010

Permasalahan, Kekerasan dan Konflik di dalam masyarakat serta Solusinya


Mencari Akar Konflik dan Solusinya

Belakangan ini kita dikejutkan dengan berbagai kekerasan yang terjadi di dalam masyarakat kita, kekerasan dalam rumah tangga atau keluarga hingga kekerasan dalam masyarakat secara umum. Di dalam keluarga misalnya kita mendengar berita tentang seorang ibu yang membunuh anaknya yang masih baru dilahirkan, seorang isteri yang menjual anaknya, seorang suami yang membunuh isterinya dan seorang isteri yang menyiram suaminya dengan air mendidih. Ini hanya sedikit peristiwa dari berbagai masalah yang terjadi di masyarakat. Hampir setiap hari kita mendengarnya.

Pertanyaan di benak kita sehubungan dengan masalah ini adalah: apakah memang sebagian manusia sekarang semakin gila, tidak dapat menahan diri? Mengapa peristiwa seperti ini tidak kita dengar tiga puluh tahun yang lalu? Mungkinkah peristiwa yang sama memang terjadi juga sebelumnya tetapi karena teknologi komunikasi semakin maju maka berita-berita dan peristiwa di daerah terpencil pun semakin mudah diakses?

Kita akui bahwa pengaruh teknologi komunikasi yang semakin modern turut mempercepat akses berita. Selain itu, para pekerja dalam lingkungan komunikasi seperti itu gemar mencari berita. Mungkinkah diusulkan agar para wartawan dan yang seprofesi dengan itu di dalam media elektronik perlu lebih teliti menyiarkan berita dan tidak menyiarkan sesuatu tanpa konfirmasi yang benar dengan orang yang memiliki kompetensi untuk itu?

Ini menjadi pertanyaan serius dan refleksi kepada saudara-saudara pemberita. Oleh sebab itu, saya mencoba berpikir bahwa permasalahan yang kita hadapi sekarang bukan hanya sekedar di ekspose tetapi terutama kita perlu mencari akar-akar yang menjadi penyebab terjadinya konflik, permasalahan, kekerasan di dalam masyarakat dan kemudian mengusulkan solusi terhadap permasalahan itu.

Bersambung………………..

 

Posted by: Jamilin Sirait | September 7, 2010

Idul Fitri


Saya dan keluarga mengucapkan Selamat Idul Fitri, 1-2 Syawal 1431 H. kepada saudara-saudara umat Islam di Nusantara ini yang telah menunaikan ibadah puasa selama bulan Ramadhan ini. Semoga amal dan ibadahnya menjadi berkah bagi Nusa dan bangsa serta umat manusia di jagad ini.

Kiranya kemenangan itu menjadikan bangsa kita semakin damai dan sejahtera.

Maaf lahir dan bathin.

Kantor Pusat HKBP,

Kepala Departemen Koinonia HKBP

Pdt Dr Jamilin Sirait

Posted by: Jamilin Sirait | August 24, 2010

Warga HKBP Saling Mendukung?


Belakangan ini beberapa gereja HKBP menghadapi masalah, ada gedung gereja yang dibakar, ada yang dirobohkan, ada yang surat ijinnya sudah ada kemudian dicabut pemko dan di tempat lain gedung gereja dibiarkan berdiri tetapi anggota jemaat dihadang di jalan masuk, tidak diperbolehkan mempergunakan gedung tersebut beribadah. Kini, HKBP yang sudah berdiri sejak 7 Oktober 1861, jauh sebelum Indonesia merdeka, dan telah memiliki Pengakuan Pemerintah 11 Juni 1931 No. 48, Staatsblad tahun 1932 No. 360, Pengakuan Ulang Pemerintah RI cq Departemen Agama RI no. 33 Tgl 6 Ferbruari 1988, diusik dan mengalami kesulitan untuk mendirikan rumah ibadah di RI yang didasarkan pada UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa.

Sebenarnya, bukan hanya gedung gereja HKBP yang diusik tetapi juga gedung gereja dari denominasi lain. Hanya saja, beberapa bulan terakhir ini nampaknya sasaran utama adalah HKBP. HKBP Filadelfia Bekasi diusik dan dilarang melakukan ibadah Minggu di gedung gereja yang jemaat bangun. HKBP Pondok Timur Indah diserbu oleh sekelompok orang berjubah putih dan memukuli pendeta serta anggota jemaat. Dan terakhir terjadi di HKBP Dusun IV Hau Napitu Desa Gajah Sakti, Kecamatan Bandar Pulau dirusak oleh massa tertentu. Mengapa gereja HKBP menjadi sasaran?  Kita tidak tahu. Tetapi apakah karena HKBP sebagai gereja terbesar di Indonesia selama ini menempuh jalur diam atau paling banter hanya jemaat setempat yang berteriak mengalami masalah, juga menjadi pertanyaan kita. Apakah kesatuan dan persatuan orang Batak sedang diuji melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini? Orang Batak memiliki paguyuban-paguyuban marga tetapi bagaimana dengan komitmen kegerejaan? Sebagai warga HKBP dan sebagai orang Batak mari kita renungkan bersama. Apa yang harus kita lakukan mengatasi permasalahan sekarang dan mengantisipasi kerusakan yang lebih besar?

Jamilin

Posted by: Jamilin Sirait | August 18, 2010

HKI Turut Mengupayakan Kesejahteraan Umat


 

HKI turut serta mengupayakan kesejahteraan umat

(Oleh: Pdt Dr Jamilin Sirait)

Pengantar

Thema Sidang Raya LWF ke-11 tahun 2010 yang diselenggarakan pada tanggal 20-27 Juli di Stuttgart Jerman adalah Mat.6:11, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Thema ini dapat menjadi petunjuk tentang pergumulan utama dari gereja-gereja Lutheran pada masa sekarang dan masa yang akan datang, paling tidak untuk masa waktu selama tujuh tahun ke depan, jumlah yang membutuhkan roti semakin banyak sementara roti tidak bertambah malah cenderung berkurang. Kita, khususnya masyarakat di Negara-negara yang sedang membangun menghadapi persoalan besar, yakni jumlah orang-orang miskin semakin bertambah akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Tetapi sebenarnya bukan hanya Negara-negara sedang membangun yang mengalami krisis ekonomi, tetapi Negara-negara yang sudah maju pun kena imbas krisis ekonomi. Jumlah pengangguran di Negara maju bertambah. Di Jerman misalnya, angka pengangguran mencapai 7,9% pada awal tahun ini.  Di Amerika jumlah pengangguran beberapa bulan terakhir ini tembus hingga ke angka 8,5%. Akibatnya Negara harus menanggung beban besar untuk membiayai mereka.

Pada dasarnya, masalah utama kita bukan hanya sekedar “roti” atau makanan sehari-hari, tetapi jauh lebih kompleks. Ada banyak yang terkait dengan masalah roti itu, antara lain: system di suatu Negara tertentu yang membuat sebagian orang hidup miskin, ketidak-adilan di tengah-tengah masyarakat, kekerasan, penggundulan hutan, perubahan iklim yang membuat pertanian terganggu, polusi udara, masalah pendidikan, dan sebagainya. Kemiskinan juga mengakibatkan terjadinya hal-hal negatip lainnya seperti perampokan, penjarahan, dsb. Walaupun roti atau makanan menjadi kebutuhan utama manusia sehari-hari,  manusia juga membutuhkan keamanan, kedamaian, ketenangan, tempat berteduh, kebebasan beribadah serta berekspresi, jaminan  hak azasi.

Nampaknya tema dan sub-tema Synode HKI ke-59 yang diadakan beberapa hari ini diinspirasi oleh thema SR LWF 2010. Mudah-mudahan, pergumulan bersama dari gereja-gereja juga menjadi pergumulan HKI sekarang dan ke depan. Dengan sub-thema “HKI turut mengupayakan kesejahteraan umat” mengisyaratkan agar dalam Synode ini akan dibicarakan garis-garis besar program jangka panjang untuk mencapai implementasi tema dan sub-tema ini. Kemudian garis-garis besar program itu akan diterjemahkan oleh Pimpinan yang akan terpilih bersama semua unit terkait dan jemaat.

Kesejahteraan Masyarakat

            Sejahtera, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan). Dari sumber yang sama, sentosa diartikan sebagai bebas dari segala kesukaran dan bencana; aman dan tenteram; sejahtera. Sedangkan untuk kata makmur, terdapat tiga arti: 1) banyak hasil, 2) banyak penduduk dan sejahtera, sertya 3) serba kecukupan; tidak kekurangan. Dari Wikipedia, kita mendapatkan beberapa pengertian sejahtera. Pengertian umum untuk kesejahteraan menurut ensiklopedi bebas tersebut, menunjuk ke keadaan yang baik, kondisi manusia di mana orang-orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat dan damai.

Pemaknaan kata hidup sejahtera, kesejahteraan dipahami secara berbeda. Sebagian orang mengatakan, seseorang dapat disebut sejahtera  jika dia sudah mencapai kebebasan keuangan (financial freedom), yaitu ketika dia  tidak perlu lagi bekerja, namun segala kebutuhan keuangan dia bisa terpenuhi dari aset produktif, misalnya dari deposito, saham, reksadana, pensiun dan sebagainya. Apabila seseorang masih harus bekerja keras dan menggantungkan seluruh biaya hidup dari gaji, sebenarnya dia belum tergolong sejahtera, sebab  jika dia non-job maka kondisi keuangannya pasti terganggu.

Sebagian lainnya mengatakan bahwa sejahtera atau merdeka secara keuangan tidak bergantung pada besarnya aset yang dimiliki seseorang, melainkan bergantung kepada seberapa besar kebutuhan yang bisa dibiayai oleh penghasilan pasif (passive income). Misalkan seseorang punya tabungan berjangka dengan bunga tiga juta rupiah perbulan, sedangkan kebutuhan keuangannya dua setengah juta rupiah perbulan maka dia sudah bisa disebut sejahtera.

Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa yang disebut sejahtera adalah jika seseorang sudah memiliki minimal satu rumah yang bagus, satu unit mobil yang bagus, penghasilan rata-rata setiap bulan dapat membiayai semua kebutuhan yang diperlukan, dan sekaligus mampu menyisihkan sebagian untuk tabungan di hari tua. Seseorang bisa hidup sejahtera jika mempunyai penghasilan puluhan juta rupiah setiap bulan. Tetapi ada juga yang mendebatnya dan mengatakan bahwa menjadi sejahtera tidaklah harus menjadi kaya raya, karena kebutuhan keuangan setiap orang ukurannya relatif, tergantung dari tujuan dan gaya hidup  masing-masing. Oleh sebab itu, makna sejatera tidak ditentukan oleh banyaknya uang, tetapi bagaimana seseorang itu dapat menikmati hidupnya dengan baik dan penuh ucapan syukur. Namun pernyataan seperti ini pun dapat diperdebatkan, sebab ada yang mengatakan, seseorang tidak mungkin sejahtera jika hidupnya masih melarat. Dengan kata lain, makna sejahtera dan kesejahteraan itu terbuka untuk didiskusikan dan perlu dipertimbangkan konteks di mana seseorang hidup dan perkembangan dari suatu masyarakat.

Setelah meneliti perkembangan ekonomi di berbagai Negara, para pemerhati ekonomi dari UNDP (United Nation Development Program) mengatakan bahwa definisi “kesejahteraan” melampaui ukuran-ukuran angka pertumbuhan ekonomi semata. Masyarakat di Negara superpower yang tingkat pertumbuhan ekonominya sangat tinggi belum tentu lebih sejahtera dari  masyarakat di Negara kecil yang pertumbuhan ekonominya lebih kecil. Masyarakat Negara kecil Switzerland misalnya bisa lebih sejahtera daripada masyarakat USA, sebab rata-rata masyarakat dari Negara kecil ini dapat menikmati kehidupan secara merata. Masyarakat Singapore bisa lebih sejahtera dari masyarakat Arab Saudi sekalipun lebih kaya dalam sumber-sumber alam sebab kekayaan Arab Saudi tersebut lebih banyak dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat. Mereka menyebutnya “Human Development Index”(HDI). Secara umum dipahamani, HDI merupakan urusan “pengembangan sumber daya manusia/SDM” seperti urusan pelatihan, kursus dan training. Tetapi ini sebenarnya merupakan pengertian seperti itu tidak dapat dipertahankan lagi. Pengembangan SDM bersangkut-paut dengan cara pandang tentang “pembangunan”, tentang apa yang harus dicapai dengan pembangunan, ke arah mana pembangunan harus dilakukan, siapa yang harus disentuh oleh pembangunan itu.

            Oleh sebab itu, kesejahteraan berarti semakin terbukanya kesempatan dan kemampuan (capability) untuk mendapatkan  hak dasarnya sebagai seorang manusia: misalnya terpenuhinya kebutuhan pangan, mendapatkan pendidikan dasar yang memadai, bebas dari buta huruf, selalu dalam keadaan sehat, terhindar dari kematian dini (avoiding escapable morbidity), atau berupa kondisi abstrak semisal menjadi bahagia, dihormati, bebas dari rasa takut, bebas dari ancaman penghilangan secara paksa, bebas mengemukakan pendapat, maupun bisa berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Menurut pemikiran saya, sekalipun ada perbedaan pendapat tentang makna kesejahteraan itu, tetapi kesejahteraan itu tidak mungkin terlepas dari kebutuhan manusia sehari-hari, yaitu sandang dan pangan. Tetapi pada sisi lain, ukuran kesejahteraan itu semata-mata tidak hanya ditentukan oleh banyaknya sandang dan pangan yang dimiliki seseorang,  tetapi kebutuhan lainnya pun yang bersifat psikis harus terpenuhi, antara lain: masyarakat aman dan damai, hidup dalam keluarga rukun, diterima di tengah-tengah masyarakat lingkungan, memiliki kebebasan berpendapat, ada kepastian hukum, bebas melakukan ibadah sesuai dengan kepercayaannya, ada jaminan hidup untuk masa depan.

Peran Gereja  dalam mewujudkan kesejahteraan Umat

            Sesuai dengan penjelasan di atas, oleh sebab kesejahteraan bersangkut paut pertama-tama dengan masalah ekonomi, kita tidak mungkin berandai-andai bahwa gerejalah satu-satunya yang harus bertanggung-jawab untuk melengkapi kebutuhan hidup sehari-hari atau memberikan makanan dan minuman umatnya. Gereja tidak mampu melakukannya dan tidak mungkin mempersiapkan lapangan kerja bagi semua umat. Tetapi berhubung kesejahteraan juga kompleks, berkaitan dengan kehidupan manusia secara utuh, maka gereja (agama) memiliki peran strategis dalam pencapaian kesejahteraan umat (masyarakat). Dengan peran strategis dimaksudkan adalah: di samping menyampaikan Berita Injil tentang kehidupan surgawi yang sudah diterima pada hidup di dunia ini tetapi akan digenapi kemudian di surga, tetapi harus terlibat aktif dalam menggumuli kehidupan kondisi dan perkembangan masyarakat, kemudian memberikan pedoman-pedoman etika dan moral Kristiani kepada umat. Gereja harus menyampaikan berita sukacita surga bahwa Kerajaan Surga telah datang melalui Yesus Kristus, melalui pemberitaan mengarahkan umat memiliki komitmen menurut ajaran Kristus. Oleh sebab itu, para pelayan gereja tidak boleh hanya asyik dan sibuk di belakang podium (sekalipun mungkin terbuat dari emas) dengan khotbah-khotbah yang sangat indah, tetapi harus keluar dari dalam gedung gereja, turun menjumpai umat di tengah-tengah pergumulan dan kehidupan nyata sehari-hari. Allah perduli kepada kehidupan manusia secara utuh, mengutus hamba-hambaNya, para nabi dan rasul menjumpai manusia dalam konteks kehidupan masing-masing.

            Di dalam Alkitab ada beberapa teks yang dapat menjadi landasan teologis keperdulian Tuhan kepada kesejehteraan umat.  Di dalam Alkitab, manusia dijelaskan sebagai manusia yang utuh, tidak tercerai-berai antara roh, jiwa dan tubuh. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, diberikan nafas kehidupan secara langsung, kemudian  kepadanya diberikan tanggung-jawab besar untuk mengurusi memelihara alam semesta dan semua ciptaan lainnya. Dalam berita tentang penciptaan itu sangat jelas, Allah menciptakan segala sesuatu sebelum manusia diciptakan. Artinya, Allah telah menyediakan semua yang dibutuhkan manusia tetapi harus dalam rangka tanggungjawabnya kepada kesegambaran itu. Oleh sebab itu, dalam rangka lebih memahami implementasi dari sub-tema di atas, kita perlu melihat tantangan dan peran kita sebagai gereja dewasa ini.

            Pertama, ada kelompok Kristen yang memahami kehidupan kesejahteraan itu secara berbeda, mengutamakan ibadah-ibadah yang mengarahkan orang melupakan masalah-masalah kehidupannya sehari-hari, mengarahkan seluruh hidupnya dalam persekurtuan dengan Tuhan Allah. Liturgi dan ibadahnya ditata sedemikian rupa sehingga umat yang memasukinya seolah-olah mengalami ekstasi dan menyatu dengan Allah sehingga segala sesuatu yang bersifat duniawi dilupakan (untuk sementara), melupakan dunia ini yang penuh dengan kuasa-kuasa iblis yang tidak mungkin diperbaiki lagi. Kerinduan satu-satunya adalah menantikan kedatangan Tuhan Yesus kedua-kalinya untuk mengakhiri segala sesuatu. Hidup harus diarahkan kepada penantian itu, keterlibatan orang Kristen kepada pembangunan dan pengembangan masyarakat serta keikut-sertaan dalam politik merupakan pekerjaan yang sia-sia saja.

            Sikap kekristenan seperti itu dapat kita bandingkan dengan apa yang dialami oleh orang-orang Yahudi pada masa pembuangan di Babel. Pada waktu itu para nabi palsu menubuatkan “harapan yang sia-sia” dan “keselamatan semu” (Yer.23:16-17). Para nabi palsu mengatakan bahwa mereka sudah menerima nubuatan dari Allah yang isinya: orang-orang Yahudi tidak akan dikalahkan Babel, mereka tidak mungkin ditawan, mereka boleh hidup tenang sebab mereka akan selamat. Tetapi berbeda dengan para nabi palsu,  nabi Yeremia yang menerima nunbuatan dari Allah mengatakan dengan tegas bahwa mereka harus merasakan penderitaan itu, mereka akan berada di pembuangan sampai 70 tahun lamanya sebelum janji kesejahteraan Tuhan dianugerahkan kepada umatnya yang setia. Nabi mengingatkan agar berhati-hati terhadap tipu daya para nabi yang memanipulasi nubuatan-nubuatan, ramalan maupun mimpi-mimpi sebagai komoditas rohani, padahal apa yang mereka katakan bukan berasal dari Tuhan. Yeremia mengatakan agar selama dalam pembuangan mereka harus berjuang keras kearah “kesejahteraan kota karena kesejahteraan kota adalah kesejahteraan mereka juga” (Yer.29:4-9). Sebagai kelompok Kristen main-stream tentu kita menolak cara pandang yang melihat tugas dan tanggung-jawab gereja hanya pada arasy spiritual saja. Sekalipun tugas utama gereja bukan untuk mempersiapkan lapangan kerja bagi umat, ada peran strategis yang dapat dilakukan sehingga kesejahteraan umat bukan hanya mimpi tetapi suatu kenyataan yang dapat dinikmati.

Kedua, kita juga menghadapi serangan dari kelompok anti-Kristen (kelompok-kelompok agama tertentu dan ideology) yang menuduh ajaran gereja sebagai obat bius sebab hanya mengajarkan hal-hal surgawi sehingga membuat masyarakat tidak bersemangat bekerja berserah kepada nasib, merupakan tuduhan sembarangan dan tidak punya bukti, atau didasarkan kepada cara-cara kelompok-kelompok tertentu dari Kristen. Mereka tidak memahami ajaran Alkitab dengan sebenarnya dan hanya mengambil teks-teks tertentu untuk mendukung argumentasi mereka.  Padahal, teks-teks Alkitab yang menekankan agar manusia bekerja dengan sungguh-sungguh serta memikirkan masa depannya tidak diperhatikan (Amsal 6:6; 2 Tess. 3:10).  Menurut Max Weber, Etika Kristen Protestan (khususnya Calvinisme) menjadi dorongan utama bagi semangat kapitalisme. Dengan kata lain, kekristenan (Protestan) bukanlah obat candu yang membuat manusia tertidur sebagaimana dituduhkan banyak orang tetapi justeru menjadi pembakar semangat untuk mengupayakan kesejahteraan masyarakat.

            Ketiga, kita harus senantiasa kritis terhadap pemahaman dan prinsip yang hanya mengutamakan kesejahteraan manusia sebagai satu-satunya tujuan hidup. Perjalanan umat Israel di gurun pasir dari Mesir ke tanah Kanaan merupakan contoh konkrit pemeliharaan Allah kepada umat dan menjadi dasar pemahaman yang jelas tentang peran memikirkan kesejahteraan umat (Kel 16:14-31; Bil.11:4-9). Allah memberikan manna kepada mereka. Setiap pagi mereka harus mengumpulkannya, tetapi tidak perlu menyimpan manna sebagai perbekalan untuk keesokan harinya. Jadi untuk bertahan hidup selama di padang gurun mereka diajar untuk sungguh-sungguh bergantung kepada kemurahan dan pemeliharaan Allah setiap hari.

Perjalanan umat Israel merupakan pro-type dari perjalanan orang-orang Kristen (Gereja) di dunia ini. Selama di dalam perjalanan, Tuhan memelihara umatNya dan memberikan apa yang dibutuhkan. Sebenarnya yang diperlukan hanya sebatas apa yang dibutuhkan. Tetapi ternyata manusia kadang kala melupakannya dan berupaya untuk mengumpulkan lebih banyak dengan keyakinan bahwa hidupnya akan jauh lebih senang jika dia mengumpulkan banyak harta. Demi harta kekayaan sebagian orang melakukan apa saja, tidak perduli apakah tindakannya merusak masa depan umat manusia, tidak perduli sekalipun menyengsarakan banyak orang. Tuhan Yesus memperingatkan sikap hidup seperti itu melalui suatu perumpamaan tentang orang kaya yang hasil panennya berhasil dan menggantungkan keamanan hidupnya kepada hartanya itu. Dia juga menegor sikap para pemimpin Yahudi yang tidak memperdulikan orang-orang miskin melalui suatu perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin (Luk. 16:19-31).  Para rasul dan pelayan dari Gereja mula-mula memberi perhatian kepada mereka yang kekurangan dan bahkan berupaya agar mereka menikmati kehidupan yang lebih baik sama seperti yang lainnya. Mereka menegur orang-orang kaya yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak pernah memikirkan nasib orang-orang miskin dengan memakan makanan lebih dahulu serta tidak mengindahkan mereka yang datang belakangan.

               Keempat, Gereja ada bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk berkarya di tengah-tengah dunia, oleh sebab itu gereja tidak boleh menjadi persekutuan yang statis dan apatis melainkan harus dinamis, responsif sesuai dengan makna dan jati diri gereja sebagai persekutuan yang kreatif, konstruktif,  dinamis dan kritis. Keharusan bagi Gereja untuk terlibat aktif dalam perkembangan kehidupan bangsa ini karena: Gereja mempunyai tanggung jawab untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah; dan mengusahakan agar kehidupan masyarakat didasarkan atas keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang tanpa membedakan ras, suku, agama, budaya sebagai wujud cinta kasih Allah bagi dunia (Yeremia 22:3, Amos 5:15-24). Dalam hubungannya dengan negara, meskipun Gereja mengakui bahwa negara adalah alat dalam tangan Tuhan yang bertujuan untuk mensejahterakan manusia, sebagai lembaga yang otonom dalam mengemban fungsi dan otoritasnya maka gereja harus bebas dari pengaruh negara. Gereja harus kritis dan tajam dalam melihat tanda-tanda jaman sambil berupaya terus untuk memperhadapkan realitas yang dihadapi dalam terang Firman Tuhan. Dengan menghidupi makna pelayanan termasuk mensejahterakan sesama berdasarkan Firman Tuhan, maka warga jemaat akan dimampukan melakukan tindakan pelayanan yang berpihak kepada sesamanya yang membutuhkan, misalnya: orang-orang miskin, kaum tertindas, para janda dan orang-orang yang tertindas oleh karena ketidakadilan atau ketidakbenaran.

Tantangan dan harapan untuk HKI

            Melalui sub-tema Sinode HKI tahun ini,  diharapakan agar gereja (para pelayan dan jemaat) dipanggil Allah untuk meningkatkan kesejahteraan umat Kristen secara khusus dan masyarakat pada umumnya. Terlepas dari kondisi negara kita dan dunia pada umumnya, HKI turut dipanggil Tuhan untuk mensejahterakan umat HKI khususnya dan masyarakat bangsa umumnya. Meningkatkan kesejahteraan umat tersebut bukan berarti kita hanya tinggal diam dan hanya meminta dengan doa: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami secukupnya”, melainkan dibutuhkan tindakan konkrit bersama. Dalam hal ini, HKI melalui para pelayannya pada prinsipnya memiliki potensi untuk meningkatkan pelayanan yang bersifat transformatif dengan mencontoh pelayanan yang dilakukan oleh Dr. I.L. Nommensen untuk meningkatkan kesejahteraan orang-orang Batak sebagai bagian tidak terpisahkan dari pemberitaan Firman Tuhan. Pola yang digunakan oleh Nommensen dan para missioner lainnya untuk mensejahterakan umat yakni melalui system pelayanan “Pargodungan” yakni: Pendidikan, ekonomi, bahasa bahkan kesehatan untuk masyarakat dalam persekutuan di gereja. Pelayanan holistik sudah dikembangkan sejak awal oleh para pembawa berita Injil di tanah Batak dan meninggalkan pola pietisme yang hanya mengutamakan hidup kudus. Pola yang seperti itulah yang dapat kita contoh untuk mensejahterakan umat secara konkrit. Dengan kata lain, selain kita berdoa atau meminta kepada Tuhan melalui iman yang teguh, juga diperlukan tindakan konkrit melalui pengurus dan pelayannya dengan cara tersebut di atas sehingga bersama-sama menerima kesejahteraan yang telah Tuhan sediakan bagi setiap orang percaya.

            Permasalahannya sekarang adalah: apakah gereja sungguh-sungguh mau berbuat untuk memperjuangkan kesejahteraan umat? Apa tindakan konkrit yang harus dilaksanakan oleh gereja di tengah-tengah masyarakat dan dunia sekarang yang diperhadapkan dengan berbagai masalah dan tantangan. Sebagaimana dibicarakan dalam sidang-sidang gereja Lutheran se-dunia, kita melihat kenyataan-kenyataan yang berbeda dengan cita-cita ideal gereja di tengah-tengah masyarakat, khususnya di Negara-negara yang sedang membangun.  Terdapat kesenjangan antara Negara-negara kaya dengan Negara miskin, kesenjangan antara orang-orang kaya dengan orang miskin, kekerasan terjadi di mana-mana yakni kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, kekerasan kepada para pekerja di perusahaan-perusahaan,  bahkan kekerasan atas nama agama pun masih sering terjadi, sebagian penduduk dunia mengalami kekurangan air bersih, dan sebagainya.

Ketika kita menghendaki adanya kehidupan masyarakat sejahtera, kenyataannya sebagian terbesar dari masyarakat hidup miskin (melarat). Hanya sebagian kecil saja yang menikmati hidup sejahtera. Masyarakat kecil tidak hanya mengalami kehidupan serba kekurangan di tengah-tengah glamour hidup mewah sebagian orang, tetapi sering menghadapi ketidak-adilan. Seorang wanita tua pencuri coklat mendapat vonis hukuman beberapa bulan di meja pengadilan, sementara para koruptor kelas kakap berkeliaran dengan bebas tanpa pernah disentuh oleh hokum.

Nampaknya kesejahteraan umat (masyarakat) masih merupakan cita-cita ideal yang harus terus menerus diperjuangkan. Sikap hidup dan moral sebagian masyarakat sudah sangat merosot yang ditandai dengan perilaku anak-anak bangsa yang korup, memakan makanan orang-orang kecil dan miskin, melahap apa saja yang bisa dilahap tanpa memiliki perasaan peri kemanusiaan lagi. Gereja harus benar-benar menolak segala bentuk penyimpangan perilaku di dalam masyarakat termasuk KKN, mengembangkan sikap kritis kepada pemerintah yang korup, menentang segala perilaku  yang tidak berpihak kepada masyarakat.

            Dalam konteks Synode Godang ke-59 HKI saat ini, barangkali kita perlu melihat kembali apa yang dicita-citakan para pendirinya dahulu:

Pertama, agar gereja yang mandiri (zelfstandig) di bidang daya, dana dan teologi berdiri. Mereka memiliki pendirian yang jelas, tegas dan berani dengan mengatakan bahwa suatu suku bangsa akan mampu berdiri sendiri (majujung baringinna) tanpa mengharapkan bantuan dari suku bangsa lainnya.  Cita-cita itu memang luar biasa dan ideal, tetapi nampaknya sulit diwujudkan jika taraf kehidupan masyarakat yang rata-rata bekerja sebagai petani belum dapat diperbaiki.

Kedua, para pendiri dan pemimpin HChB terdahulu berupaya untuk mewujudkan cita-cita ideal mensejahterakan masyaraka dengan: memberi perhatian kepada pendidikan dengan mendirikan sekolah di setiap jemaat. Berbagai usaha telah dilakukan agar sekolah-sekolah tersebut bisa bertahan dan mampu menghasilkan murid-murid yang berkualitas. Tetapi nampaknya, sama seperti sekolah-sekolah Kristen lainnya (Sumut), banyak sekolah yang telah dimulai dengan baik dan sempat menjadi sekolah unggulan akhirnya tutup. 

            Oleh karena kita sepakat bahwa gereja harus terlibat aktif untuk turut mengupayakan kesejahteraan umat, gereja harus benar-benar memikiran dan merencanakan program yang dapat mendukung terciptanya umat (masyarakat) sejahtera, melanjutkan apa yang telah dilakukan pimpinan terdahulu dan pimpinan periode yang lalu. Gereja tentu tidak mungkin melupakan bahwa semua tindakan nyata dari orang-orang Kristen dalam wujud diakonia harus berangkat dari persekutuan (koinonia) yang kokoh dan teguh. Jika tidak, pelayanan gereja tidak ada bedanya dengan pekerjaan lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Gereja memberdayakan masyarakat dan memperjuangkan kesejahteraannya, tetapi semuanya itu dilakukan dalam pemahaman teologi bahwa kehidupan di dalam Kerajaan Surga telah dinikmati ketika masih berada di bumi ini. Itu bisa terjadi jika setiap orang dapat merasakan syalom (damai sejahtera) dari Allah dan menyadari hidupnya sebagai hidup yang berguna untuk Tuhan dan untuk dunia.

Penutup   

            Mudah-mudahan butir-butir pemikiran yang sederhana ini dapat menolong kita untuk sungguh-sungguh lebih memberi perhatian kepada peran gereja (HKI) secara keseluruhan, dan membiarkan Tuhan dengan kuasa Roh Kudus bekerja di dalam hati semua synodisten untuk mengupayakan yang terbaik bagi HKI ke depan. Persekutuan, keutuhan, kedamaian dan keberhasilan HKI dalam merumuskan program-programnya ke depan melalui Synode ini dan memilih Pimpinan HKI untuk periode berikut menjadi berkat pertama-tama bagi warga HKI dan kemudian juga bagi gereja-gereja dan masyarakat bangsa secara keseluruhan.

*********************************

Posted by: Jamilin Sirait | June 3, 2010

Meretas Frontiers Teologi


Studium Generale Program Pascasarja

MERETAS FRONTIERS TEOLOGI AGAMA-AGAMA

DI DALAM  KONTEKS PLURALISME

(Oleh: Pdt.Dr.Jamilin Sirait)

Pengantar

Teologi agama-agama (kadang-kadang disebut juga teologi religionum) merupakan subyek baru dalam bidang kajian teologi. Berhubung kemajemukan semakin mewarnai kehidupan masyarakat (termasuk di Barat) subyek ini menjadi kajian penting terutama di kalangan akademisi (para teolog). Metode yang dikembangkan adalah deskriptif, menjelaskan pemahaman atau pokok-pokok pikiran tentang tema-tema tertentu di dalam agama yang diteliti dan merefleksikannya kepada teologi sendiri. Dengan cara itu diharapkan para peneliti (teolog) ditantang agar semakin mendalami pokok-pokok penting dari agamanya sendiri dan pada akhirnya akan menajamkan penghayatan  imannya. Teologi agama-agama bukan merupakan jerat atau perangkat untuk menangkap orang-orang berbeda agama dengan tujuan proselitisasi. Tujuannya juga bukan menyuntikkan serum baru dari pihak kita agar kadar pemahamannya semakin tercampur, tetapi justeru sebaliknya, mendorong mereka melakukan kajian-kajian kritis kepada teologinya sendiri. Para teolog yang berkecimpung di bidang ini didorong (bahkan mungkin dipaksa) untuk mengkaji ulang teologinya sendiri. Mereka harus mendalami teologi agamanya sendiri. Tanpa itu, dia tidak mampu melakukan pemikiran-pemikiran kritis, mungkin saja menjadi bingung atau salah satu akibat lainnya adalah terdorong masuk  ke pemahaman fundamentalis. Dengan demikian, prasangka bahwa para teolog ini kurang mendalami teologinya atau hanya tahu tentang agama lain merupakan streotipe yang keliru. Subyek ini sangat perlu menantang proses berteologi kita, apalagi jika disadari bahwa kita berada di tengah-tengah masyarakat plural.

          Menyikapi pluralisme atau kehadiran agama-agama, umat Kristen memberi respon yang berbeda: Pertama, mereka yang memilih memisahkan diri, menutup pintunya dan asyik berkutat dengan dogmanya sendiri; Kedua, melakukan reconquista, menaklukkan umat beragama lain dengan cara halus ataupun kasar; dan ketiga, sikap terbuka pada dialog dengan dasar pemikiran bahwa pengalaman bersama-sama dengan orang lain memperkaya keyakinannya sendiri.[1]

Perkembangan Studi Agama-agama

Bertahun-tahun studi agama-agama tidak menarik perhatian atau bahkan ditolak karena dianggap dapat melemahkan keyakinan umat sebab sebagai suatu studi ilmiah diperkirakan juga dapat mendistorsi perasaan batin. Bagi kelompok ini studi agama-agama tidak penting. Tetapi studi yang dilakukan Max Muller di India melalui karyanya Introduction to the Science of Religion yang dia introduksi di hadapan kelompok intelektual Inggeris pada tahun 1873 menarik perhatian banyak orang. Dengan karya berikutnya Lectures on the Origin and Growth of Religion, as Illustrated by Religions of India, pada tahun 1878 maka minat untuk ikut ambil bagian mengadakan penelitian di kalangan para ahli semakin meningkat. Pendekatan Max Muller dari sudut filologi (ilmu bahasa) merupakan hal baru. Sebelumnya, agama-agama besar dunia didekati hanya untuk kepentingan misi Kristen (atau mungkin juga kepentingan kolonialisme).[2]

Keberhasilan  Max Muller meneliti agama Hindu di India telah mendorong para peneliti lainnya, termasuk mereka yang meneliti perkembangan Islam di Timur Tengah, Afrika dan Asia. Maka muncullah sejumlah nama yang memberikan waktu dan perhatian sepenuhnya meneliti agama-agama di Timur dengan cara pendekatan filologi, sejarah agama, fenomenologi agama, ilmu perbandingan agama, misalnya: Edmund Hardy (1898), Cornelis P. Tiele (+1902), G. van der Leeuw (+1950), Louis Massignon (+1958), Gustave von Grunebaum (+1946). Semangat untuk mengenal agama-agama itu secara dekat ditandai dengan upaya para peniliti hidup di tengah-tengah komunitas bersangkutan dan merasakan kehidupan mereka. Dengan demikian, mereka tidak menilai agama-agama itu dari jauh tetapi berupaya sungguh-sungguh untuk merasakannya.

Untuk membantu mereka melakukan penelitian itu, budaya (termasuk bahasa) dipelajari dengan seksama, meneliti benda-benda kuno dan bahasa-bahasa kuno yang tidak dipergunakan lagi pada abad ini.  Metode atau cara yang dikembangkan sangat menolong untuk membuka secara luas teologi agama-agama itu. Sekalipun penghayatan mereka  tidak sama para ahli telah berhasil membuka selubung yang selama ini tertutup.  Selain itu, hasil-hasil penelitian itu telah mendorong para peneliti dari negeri Timur untuk melakukan hal yang sama sehingga munculllah nama-nama seperti J. Takasusu dari Jepang, S.Radhakrisnan di India, dan sebagainya. Para ahli di bidang ini terus menerus bertambah, baik dari kalangan teolog Kristen, Islam, Hindu, Budha dan agama-agama lainnya. Lebih menarik lagi, bukan hanya agama-agama besar dunia yang diteliti tetapi juga agama-agama suku di Asia dan Afrika.  

Sebagaimana biasa dalam khazanah perkembangan ilmu pengetahuan, dialog dan kritik antar sesama disiplin ilmu sering terjadi. Hal seperti itu terjadi juga di dalam studi agama-agama. Para pemikir dalam filsafat agama melontarkan kritik kepada para ahli sejarah agama-agama:[3]

Pertama, para ahli filsafat agama menganggap bahwa para ahli sejarah agama-agama haruslah memberi perhatian kepada filsafat agama. Sejarah agama-agama hanya berguna jika ditujukan untuk mengembangkan filsafat agama yang mentransendensikan elemen-elemen regional dan subyektif dari semua system keagamaan. Harus ditemukan suatu agama primordial yang mendasari semua agama sehingga dapat mencari relasi suatu agama dengan agama lain menuju suatu kebenaran absolute;

Kedua, agar para ahli sejarah agama memfokuskan diri kepada aspek-aspek agama yang historis fenomenologis dan institusional dengan bantuan para antropolog, sosiolog dan filolog;

Ketiga, para ahli sejarah tidak cukup serius menangani elemen-elemen subyektif agama-agama, mereka hanya mengitarinya tanpa pernah merasakan kehidupan dari orang-orang yang beragama itu, sebab tidak ada percakapan dengan mereka;

Keempat, para ahli sejarah agama terlalu dikondisikan subyektivitas dari latarbelakang budaya dan agamanya sendiri.

Oleh sebab itu menurut Joachim Wach pengajaran sejarah agama harus: a) integral, b) kompeten, c) terkait dengan persoalan eksistensial, d) selektif, e) seimbang, f) legitimatif, g) disesuakan dengan pengajaran masing-masing.[4] Seanjutnya,  Hendrik Kraemer mengatakan, ilmu sejarah agama-agama harus dibantu teologi.[5]

Kritik seperti ini bisa saja terjadi. Namun menurut pemikiran saya, kritik seperti itu muncul karena pemahaman yang berbeda terhadap arti sejarah. Ahli sejarah agama-agama pun dapat melakukan kritik kepada para peneliti di bidang fenomenologi agama. Bagi sebagian orang, sejarah lebih berpusat pada tarikh atau tahun-tahun peristiwa. Padahal, harus diakui secara jujur sejarah juga membutuhkan interpretasi. Jika kita melakukan studi terhadap sejarah perkembangan Islam, kita tidak hanya sekedar mengenal atau menghapal tahun-tahun tetapi juga melakukan interpretasi terhadap peristiwa, bahasa, simbol-simbol, yang dapat memperjelas sejarah itu. Para  ahli sejarah agama mengatakan bahwa ada tiga sifat fundamental yang mendasari disiplin sejarah agama-agama, yakni: a) pemahaman simpatik terhadap agama selain agamanya sendiri, b) sikap kritis diri atau skeptis terhadap latarbelakang keagamaannya, c) karakter ilmiah.

          Dengan kata lain, studi agama-agama yang dilakukan dengan berbagai cara atau metode merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan teologi agama-agama di kemudian hari. Walaupun teologi yang dikembangkan lebih bercorak Barat, tetapi harus kita akui bahwa para teolog di Timur belum mampu melakukan hal yang sama. Karya  Paul F. Knitter, No Other Name?, Jesus and Other Names: Christian Mission  and Global Responsibility, Olaf Schumann, Pemikiran Keagamaan dalam Tantangan dan , Menghadapi Tantangan, Memperjuangkan Kerukunan.                             

Teologi Agama-agama Sebagai Mata kuliah Baru

Kesepuluh cabang Ilmu Agama yang dituliskan oleh J.A.B.Jongeneel, Ilmu Agama dan Telogi Kristen (Arkeologi Agama, Filologi Agama, Geografi Agama, Sosiologi Agama, Statistik Agama, Psikologi Agama, Pedagogi Agama, Fenomenologi Agama, Filsafat Agama) menjadi alat pembantu penting untuk melakukan pendekatan kepada teologi agama-agama. Barangkali pada awalnya, penelitian bersangkut paut dengan cabang-cabang di atas lebih berorientasi kepada studi ilmiah semata-mata. Tetapi seiring dengan perubahan yang terjadi sejak pasca perang dunia kedua, maka terjadi pula kesadaran baru tentang agama-agama Timur (awalnya para peneliti berasal dari Barat).  Kesadaran tentang kenyataan pluralitas keagamaan telah mendorong para teolog untuk meneliti dan mempelajari teologi agama-agama lain. Istilah pluralisme agama menjadi kata kunci penting dalam menentukan sikap dan posisi kepada teologi agama-agama yang berbeda.

Setelah Teologi diterima secara formal menjadi salah satu ilmu setara dengan ilmu-ilmu lainnya di Indonesia melalui SK Mendikbud No. 0359/U/1996 tanggal 24 Desember 1996, maka ditetapkan Kurikulum Nasional (Kurnas) untuk bidang Ilmu Teologi. Ada beberapa mata kuliah baru yang sebelumnya tidak (belum) dimasukkan dalam Kurikulum, antara lain: Teologi dan Komunikasi, Teologi Sosial, Teologi Agama-agama. Selain itu, beberapa mata kuliah lainnya berubah nama.              

Di dalam Kurikulum Nasional yang diterbitkan Persetia tahun 1997, deskripsi teologi agama-agama yang bobotnya 3 sks adalah: mempelajari penganalan diri dari agama-agama lain dan merumuskan tempat mereka di dalam teologi Kristen di dalam rangka pluralisme keagamaan. Kemudian deskripsi ini diperjelas pada tahun 2003 dengan menambahkan kompetensi yang akan dicapai dan substansi mata kuliah itu, sebagai berikut: Mempelajari pengenalan diri agama-agama lain sebagaimana adanya dan dapat merumuskan tempat mereka di dalam teologi Kristen dalam rangka pemahaman pluralitas keagamaan; Kompentensi: Supaya mahasiswa mampu melihat adanya interaksi antar agama sebagai fenomena kehidupan social; Substansi: (1) Teologi Kristen dapat mengembangkan paradigma baru dalam upaya relasi antar agama, (2). Membangun sikap bertanggungjawab, dialogis, fungsional dan transformatif.

Berdasarkan deskripsi yang dibuat Persetia, STT HKBP dalam buku Panduan yang diterbitkan tahun 2000 membuat deskripsi, sebagai berikut: Kajian dan pembahasan tentang ajaran dan teologi agama-agama berkaitan dengan aspek-aspek yang dapat menjadi pokok-pokok penting untuk dialog, mencari titik temu agama-agama dalam rangka memberdayakan masyarakat. Untuk itu akan dibahas pokok-pokok yang relevan dengan kehidupan bermasyarakat secara bersama-sama, antara lain: manusia, kesejahteraan dan keselamatan, masyarakat dan Negara dari semua agama yang diakui di Indonesia. Kemudian pada bagian akhir akan dikembangkan analisis dari titik pandang teologi Kristen.

Menurut pemikiran saya, deskripsi yang dibuat oleh Persetia dengan yang dibuat STT HKBP. Mungkin di belakang otak team perumus deskripsi itu kompetensi akhir yang akan dicapai sama (istilah ini menjadi sangat penting pada dunia pendidikan tinggi di Indonesia sekarang), tetapi substansi  tidak begitu jelas dirumuskan. Persetia membuat istilah: “mempelajari pengenalan diri agama-agama lain”, sementara STT membuat rumusan langsung kepada materinya yaitu “kajian  dan pembahasan ajaran dan teologi agama-agama”. Apa yang harus kita kaji dan dari mana kita mulai  untuk mengenal teologi agama-agama lain, menjadi suatu pertanyaan besar. Substansi ajaran atau teologi suatu agama itu sangat luas. Para pemikir yang berasal dari suatu agama pun belum tentu sepaham tentang sesuatu pokok teologi. Perbedaan pandangan teologi itu merupakan hal yang lajim, tergantung bagaimana pendekatan terhadap suatu permasalahan teologis. Belum lagi kita berbicara tentang kelompok-kelompok yang terdapat dalam agama-agama (semua agama). Landasan teologi dari suatu agama yang diterima secara universal oleh para teolog serta penganutnya merupakan hal yang lajim. Misalnya, semua orang Kristen (dari kelompok mana pun) mengakui dan mempercayai Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat dunia.  Tetapi ketika kita menafsirkan beberapa peristiwa yang dilaporkan dalam Injil tentang pengalaman dan kehidupan Yesus maka akan muncul perbedaan tafsir.  Peristiwa pembaptisan Yesus di sungai Yordan, percakapan dengan Nikodemus tentang hidup baru, pengutusan, bahasa lidah, dan sebagainya  akan dipahami dan dijelaskan secara berbeda oleh kelompok-kelompok Kristen, antara teolog dari gereja mainstream dan kelompok Injili. Demikian juga dalam Islam.  Semua umat dan kelompok Islam mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah dan al-Qur’an sebagai wahyu Allah, sumber utama hukum Islam. Tetapi ketika mereka berbicara tentang sumber hukum kedua, yaitu Hadits, tentang pewarisan kepemimpinan para khalifah, tentang ijma, perkawinan, hubungan dengan non-Muslim maka akan terdapat perbedaan tafsir di antara Sunni dan Syiah, Ahmadiyah. Bahkan di antara kelompok-kelompok yang tergabung dalam  Syi’ah pun terdapat perbedaan tafsir. Jika agama-agama besar dunia lainnya diteliti, maka fenomena yang sama akan nampak.

Berhubung ruang lingkup teologi agama-agama itu sangat luas, mustahillah semua permasalahan teologi diteliti dan dijelaskan. Barangkali lebih tepat jika kita katakana, teologi agama-agama (“hanya”)memberi perhatian utama kepada pokok-pokok teologi prinsipil yang dapat dipergunakan sebagai landasan kebersamaan dari agama-agama. Teologi agama-agama bukan merupakan suatu upaya mencari dan merumuskan suatu teologi universal yang dapat diterima semua umat. Jika Hans Kung pernah mengusulkan suatu “etika universal” menurut pemikiran saya, etika yang dimaksud bukanlah etika dari suatu agama tertentu. Itu tidak mungkin. Tetapi etika universal adalah etika yang dapat diterima semua orang dan tidak menimbulkan permasalahan baru dipandang dari sudut teologi agama-agama. Misalnya, etika tentang tanggungjawab manusia memelihara alam semesta atau lingkungan hidup. Semua agama dapat menerima bahwa manusialah, bukan makhluk lain,  yang pertama-tama bertanggungjawab untuk memelihara alam.

Teologi agama-agama tidak menjadi suatu arena diskusi ilmiah untuk mengeliminasi perbedaan teologi, atau untuk membuang semua pandangan-pandangan teologi yang tidak cocok dengan teologi kita sendiri. Pandangan para teolog atau pemikir dan kelompok-kelompok berbeda dari suatu agama pun tidak mungkin dijadikan satu. Pandangan kelompok mainstream tentang pembaptisan anak-anak sangat sulit diterima oleh kelompok Baptis yang hanya mengakui pembaptisan dewasa.

Pandangan teolog Sunni tentang tradisi pewarisan jabatan kepemimpinan di dalam suku bangsa Arab sehingga pengangkatan (bayat) Abu Bakr sebagai khalifah pertama tidak perlu dipermasalahkan. Sebaliknya, kelompok Syi’ah mempunyai pandangan berbeda sehingga bagi mereka, Khalifah Ali, menantu Nabi Muhammad-lah yang harus memimpin komunitas Islam setelah Nabi meninggal, bukan Abu Bakr. Bagaimana pun pandangan yang berbeda ini sulit dipersatukan (atau barangkali tidak mungkin). Dengan demikian, teologi agama-agama merupakan suatu upaya pendekatan melalui kajian teologis dari agama-agama besar dunia (Islam, Hindu, Budha, Konfusius) sebagaimana adanya (obyektif).

Pendekatan yang semakin mengarah kepada objektivitas dapat dilakukan dengan adanya sumber-sumber yang dihasilkan oleh para pemikir dari penganut agama-agama itu sendiri. Berbeda dengan abad ke-19 sampai pertengahan abad lalu, para peniliti berasal dari Barat, sebagaimana disebutkan di atas akhir-akhir ini semakin banyak para peniliti dari Timur (dari penganut agama itu sendiri).  Sumber-sumber asli itu sangat penting, sebab agama bukan semata-mata kajian ilmiah saja (dengan metodologi yang kita kenal) tetapi agama harus diterima, dihayati dan ditunjukkan dengan aksi dalam hidup seseorang.

Teologi agama-agama merupakan refleksi teologis terhadap pluralisme itu. Suka atau tidak suka, pluralisme merupakan tantangan baru bagi agama-agama yang harus disikapi. Menurut Sumartana ada perbedaan signifikan antara pluralisme dahulu dengan sekarang. Menurut dia, “pluralisme masa lampau menuntut suatu respon kerukunan, ko-eksistensi, dan keserasian hidup dari kelompok-kelompok agama di masyarakat. Corak kepelbagaian itu bersifat pasip, kalau kita mendatanginya baru kita mengalaminya. Akan tetapi  pluralisme sekarang ini bersifat sangat, kalau kita tidak memperdulikannya maka kita akan digilasnya. Pluralisme sekarang terjadi karena tiap-tiap kelompok sudah mengalami proses emansipasi sehingga setiap bagian itu sudah melakukan emansipasi bersama dan tampil bersama setara.”[6] Secara kuantitatif pluralisme agama sekarang ini semakin kompleks sebab di dalam intern suatu agama pun pluralisme semakin menonjol.  

Meretas Frontiers teologi agama-agama.

Untuk memahami apa yang akan didiskusikan dalam bagian ini, maka terlebi dahulu kita menjelaskan dua kata kunci yaitu meretas dan frontiers. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata meretas mempunyai arti yang sangat luas, yakni: a). memutuskan benang-benang pada jahitannya, b). Membuka (surat) dengan pisau, c). membedah atau membelah kulit (karung, dan sebagainya), d). Menebangi pohon-pohon untuk membuat jalan, merintis, merentas, e). menembus dengan merusak dingding, dan sebagainya. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, frontier diterjemahkan: (1) part of a country bordering on another country; (land on each side of a) boundary, (2) extreme limit.

Dengan demikian, meretas frontiers berarti menembus penghalang, penghambat terhadap studi teologi agama-agama.  Jika penghambat, penghalang dsb dibiarkan akibatnya, kebekuan, kekakuan, kecurigaan, sentiment, perselisihan dan permusuhan antar denominasi, antar agama akan terus berlanjut. Tidak dapat dipungkiri banyak penghalang yang membuat kita tidak serius memasuki bidang teologi agama-agama ini. Penghambat itu bisa saja internal, dari dalam diri kita sendiri berupa: pandangan-pandangan teologis kita sendiri, pengalaman keagamaan kita sendiri, pendidikan teologi yang kita terima, lingkungan di mana kita bertumbuh dalam pengalaman keagamaan kita. Namun rintangan itu bisa juga secara eksternal berupa peraturan-peraturan atau undang-undang yang terdapat dalam suatu Negara, wilayah atau daerah, hukum agama-agama, penafsiran yang terlalu kaku, kecurigaan dan sebagainya. Maka agar lebih jelas, kita akan mencoba melakukan eksplorasi terhadap beberapa frontiers yang sangat mengganggu kepada kemajuan proses teologi agama-agama, yakni:

  1. Beban sejarah pada masa lampau yang tidak (belum) pernah didiskusikan secara terbuka. Perselisihan antar kelompok dalam suatu agama atau antar agama (teologis dan non-teologis) sering menyisakan  sakit hati yang mendalam dan belum nampak upaya maksimal untuk melupakannya. Belum ada upaya serius bersama untuk melakukan studi terhadap peristiwa sejarah itu untuk mengeliminasi atau setidak-tidaknya mengurangi rasa sakit itu. Kita ambil contoh: hubungan antara Islam dan Kristen dipengaruhi oleh sentiment perang Salib dan penjajahan Barat kepada negeri-negeri di Timur.  Padahal jika diadakan studi bersama tentang kedua peristiwa sejarah ini akan ditemukan poin-poin yang dapat meringankan kita dari beban sejarah itu. Perang salib bukanlah perang antar agama, tetapi didasari oleh masalah politik. Perang salib juga perlu dilihat dari sejarah ekspansi Islam ke Eropah. Sayangnya, para raja Kristen di Eropah mempergunakan symbol salib sehingga perang itu seolah-olah perang agama. Demikian juga hubungan Katolik dengan Protestan (Lutheran khususnya) sangat dipengaruhi oleh perseteruan Luther dengan Paus bersama Uskup Roma Katolik pada waktu itu. Anehnya, umat Lutheran sering menganggap bahwa ucapan, pikiran, penafsiran daripada Martin Luther-lah satu-satunya kebenaran, bahkan kadang-kadang tanpa berupaya melakukan tafsiran sendiri terhadap Alkitab. Sebaliknya, semua pandangan Katolik ditolak tanpa pernah mengkritisinya lebih mendalam. Bagi anggota Lutheran selama ini, pandangan atau ajaran Katolik harus diwaspadai.  Katolik juga memiliki prinsip yang tidak jauh berbeda. Lama sekali Lutheran bermusuhan dengan Roma Katolik dan mengucilkan anggotanya yang menikah dengan Katolik. Kita mulai bernafas lega atas penanda-tanganan dokumen Justification by Faith oleh pihak Katolik dan Protestan pada tahun 1999 yang lalu. Tetapi sampai sekarang kesepakatan itu belum berdampak luas. Beban sejarah masa lalu masih terus membayang.
  2. Pendekatan kepada teks-teks Kitab Suci secara literaris saja, menerima kata demi kata ayat demi ayat yang terdapat dalam Kitab Suci, tidak meragukannya, menerima seluruh ayat itu sebagai wahyu Tuhan,  sehingga penafsiran dengan mempergunakan metodologi kontekstual dianggap berbahaya dan mendistorsi kemurnian ajaran agama itu. Pada umumnya, kelompok yang menganut metode ini bersemangat eksklusif dan menganggap semua kelompok lainnya sebagai “tidak kawan” atau barangkali musuh yang harus ditundukkan. Secara umum kelompok ini dinamai dengan “Fundamentalisme” (walaupun banyak dari tokoh pemikir Islam tidak menerima nama itu dikaitkan dengan Islam). Menjadi persoalan besar jika pendekatan literaris itu menghasilkan esktrimisme agama. Fenomena ini semakin nampak dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.
  3. Pendekatan inklusivisme. Kita mengakui bahwa pendekatan inklusivisme merupakan langkah maju untuk melawan eksklusivisme. Eksklusivisme berarti menolak semua ajaran agama lain, menempatkannya jauh lebih buruk di bawah kebenaran agama sendiri. Seperti dijelaskan di atas, sikap eksklusif merupakan hasil pendekatan literaris. Tetapi inklusivisme itu juga belum menggambarkan penghargaan dan penghormatan yang sesungguhnya kepada teologi agama lain. Dengan sifat inklusif kebenaran dalam teologi agama-agama lain diterima tetapi di bawah ukuran kebenaran teologi kita sendiri. Jadi ukuran atau normanya ditentukan oleh teologi sendiri. Artinya, walaupun sudah ada langkah maju dengan pendekatan ini, oleh sebab kejujuran yang sesungguhnya belum menjadi jiwa atau inti daripada inklusivisme, masih mungkin terjadi sikap mendua (kekhawatiran) untuk mendekati teologi agama-agama lain.
  4. Kepentingan politik pemimpin agama dan penguasa politik. Harus diakui kepentingan para pemimpin politik dapat menjadi pendorong bagi perkembangan agama. Kekristenan pada beberapa abad lalu berkembang secara pesat ketika penguasa menjadikan Kristen menjadi agama resmi Negara dan mendukung para pemimpin agama. Pada sisi lain, ketika kepentingan politik para pemimpin agama berbenturan dengan kepentingan politik penguasa, maka kemungkinan terjadi stagnasi menjadi suatu ancaman. Ketika pemimpin politik dan pemimpin agama juga bersepakat untuk menjadikan agama sebagai alat mencapai tujuan tertentu maka peraturan-peraturan yang menyangkut masalah agama dapat mempersulit pendekatan terhadap teologi agama-agama itu. Fenemona seperti itu jelas terlihat di tengah-tengah masyarakat dan Negara Indonesia. Pemerintah ingin mempergunakan kelompok mayoritas mencapai tujuan politik. Pada sisi lain, para pemimpin agama mencari kesempatan untuk memperoleh keuntungan-keuntungan dari kepentingan penguasa itu. Perda-perda berbasis Syariah misalnya jelas menjadi pertanda adanya pertemuan kepentingan dari pemimpin agama (“mayoritas”) dengan pemerintah setempat.
  5. Masih ada banyak permasalahan teologis dan non-teologis yang menjadi penghalang bagi upaya pendekatan agama-agama melalui teologi agama (Kita daftarkan sesuai dengan konteks di mana kita berada dan melayani).

Bagaimana kita meretas frontiers itu? Apa yang harus dilakukan oleh para teolog Kristen? Menurut pemikiran saya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain:

  1. Mengakui pluralisme sebagai suatu kenyataan yang tidak mungkin dipungkiri. Suka atau tidak suka pluralitas dalam berbagai bidang akan berkembang. Oleh sebab itu perlu dirumuskan pendekatan teologi yang tepat menghadapi pluralitas itu. Harus ditegaskan, teologi yang dirumuskan menjawab pluralisme bukanlah teologi sinkritisme atau “teologi takutisme” tetapi teologi yang mampu mengidentifikasi peran teologi Kristen di dalam perubahan dan perkembangan yang sedang dan akan terjadi.
  2. Menghargai teologi agama-agama lain sebagaimana adanya, bukan mensubordinasinya di bawah teologi Kristen. Kebenaran dan kekuatan teologi kita tidak perlu dibuktikan melalui dukungan teologi agama-agama lain. Di dalam dirinya setiap teologi memiliki kebenaran tanpa harus mendapat legitimasi dari teologi agama lainnya. Menghargai teologi agama-agama lain bukan meniadakan keunikan teologi sendiri. Teologi suatu agama memiliki keunikan dan universalitas sekaligus di dalam dirinya[7].
  3. Melakukan dialog dengan tema yang lebih mendukung kepada kemaslahatan bersama umat manusia. Teologi kita selama ini yang lebih bersifat antitetis, polemis dan apologetis perlu dirubah menjadi teologi dialogis. Teologi agama-agama harus bermuara kepada dua arah yakni dialog dan kolaborasi antar umat beragama untuk kepentingan bersama. Dialog dapat dijalankan dalam tiga bentuk: (1) Percakapan  pada dataran berbagi pengalaman kontemplatif, (2) Percakapam rasional pada dataran etika dan aksi, (3) Pembicaraan rasional pada dataran teologis yang membutuhkan langkah-langkah lebih konkrit melalui pemahaman yang kritis terhadap tradisinya sendiri dan tradisi agama lain, dialog batiniah intra-religius.

Agama-agama memberi perhatian kepada kepentingan manusia. Agama lahir sebagai wujud pengakuan dari manusia. Apa pun istilah yang dipergunakan dalam bahasa agama-agama tentang manusia: “segambar dengan Allah”, “khalifah Allah”, “atman” dan sebagainya, semuanya menunjuk kepada keutamaan manusia itu. Setuju dengan pemikiran Magnis Suseno, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi pusat pemikiran dan perhatian berkaitan dengan kebutuhan manusia secara umum (tanpa membeda-bedakan agama) sesuai  dengan perubahan dari paradigma “orang kita-orang asing” ke paradigma “martabat manusia universal”, yaitu:  pengakuan terhadap otonomi dan kesamaan semua orang sebagai manusia; hormat terhadap hak-hak azasi; penghapusan hukuman yang brutal; larangan terhadap penyiksaan; kebebasan berpikir dan beragama; toleransi agama; demokrasi; keadilan social; solidaritas nasional dan internasional; perlindungan terhadap mereka yang lemah; jaminan hak para minoritas; negara hukum; sistem peradilan yang tidak berpihak; perlindungan hokum universal; prinsip non-diskriminasi; pengakuan martabat semua orang  tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, agama, warna kulit, kebudayaan, kedudukan social dan sebagainya.[8]

 Penutup

Dengan penjelasan di atas, maka jelaslah teologi agama-agama menjadi satu subyek penting dalam masyarakat dunia dewasa ini. Berhubung agama merupakan hak dan urusan paling pribadi bagi manusia (sekaligus berpengaruh menyangkut identitas) maka teologi agama-agama-lah yang dianggap mampu membangun jembatan hubungan antar manusia.

.


[1] Martin L.Sinaga, “Pendahuluan: Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia: Theologia Religionum” dalam Tim Balitbang (peny.), Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000, hal. 4

[2] Studi Snouck Hurgoronje di Aceh adalah untuk kepentingan colonial Belanda.

[3] J.M.Kitagawa, “Sejarah Agama-agama di Amerika”, dalam Ahmad Norma Permata, (ed.), Metodologi Studi Agama-agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, hal. 113f.

[4] Dikutip oleh  J.M.Kitagawa, ibid, hal. 119.

[5] Ibid

[6] Th. Sumartana, “Theologia Religionum” dalam Tim Balitbang (ed),  Meretas…., hal. 18f.

[7] Buku F.Knitter, No Other Name dan Menggugat Arogansi Kekristenan, menjadi bahan bacaan yang perlu dibaca secara kritis.

[8] Franz Magnis Suseno, “Bisakah Agama-agama Terbuka Satu Sama lain,” dalam Tim Balitbang PGI (ed.), Meretas…., hal. 53.  Band, Olaf Schumann, Pemikiran Keagaman dalam Tantangan, hal. 297ff.

Posted by: Jamilin Sirait | June 3, 2010

Spiritualitas


LPP I CaPen, Cagur, CaBiv, CaDik HKBP

Tanggal 26 April – 16 Mei 2009

SPIRITUALITAS 

 

Pendahuluan

            Kita berada pada dunia dan masyarakat yang berubah dan berkembang dengan pesat sebagai akibat dari perkembangan dan kemajuan teknologi modern, khususnya di bidang informatika. Hampir semua pelosok dunia sudah disentuh oleh moderninasi terutama melalui jaringan radio dan televisi. Sikap dan penerimaan manusia terhadap informasi yang mereka lihat dan peroleh melalui televisi itu sangat beragam. Pada umumnya, masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan rendah menerima informasi itu tanpa sikap kritis, sehingga pengaruhnya dapat membentuk perilaku baru, yang belum tentu berguna untuk dirinya sendiri. Lihat saja misalnya pengaruh dari iklan melalui televisi yang begitu mudah merubah perilaku masyarakat dari keadaan sabar menjadi masyarakat konsumeris. Pada sisi lain para pemilik modal terus menerus mengadakan inovasi baru dan memasarkannya dengan gencar. Dengan memanfaatkan para gadis yang cantik dan pemuda yang ganteng maka daya tarik promosi menjadi semakin besar. Akibatnya, masyarakat dari tingkat akar rumput yang miskin pun bermimpi untuk memiliki barang-barang mewah padahal sebenarnya belum begitu dibutuhkan.

            Untuk membimbing masyarakat (dalam hal ini anggota jemaat) dapat mengambil keputusan penting yang berguna untuk dirinya, keluarganya, masa depannya, spiritualitas sangat diperlukan. Dalam kaitan ini peran para pelayan sangat strategis. Tetapi jika para pelayan itu sendiri tidak memiliki spiritualitas yang baik, mereka akan mengalami kesulitan untuk membimbing jemaat ke arah yang benar. Mereka akan ditertawakan bahkan mungkin ditinggalkan. Oleh sebab itu, melalui sesi ini kita akan membicarakan secara khusus spiritualitas para pelayan (dalam hal ini calon pelayan) yang sangat dibutuhkan sebagai salah satu syarat penting untuk melakukan pelayanan yang efektif dan berhasil. Sebagai pemula dalam pelayanan, para calon pelayan sejak awal harus memiliki komitmen dan kesadaran diri tentang perlunya pertumbuhan spiritualitas, sehingga pada suatu saat mereka akan menjadi pelayan yang memiliki kepribadian tangguh dan handal. Ini merupakan proses, tidak mungkin diperoleh hanya dalam satu hari atau satu bulan. Pertumbuhan harus terus menerus terjadi, dan para calon pelayan harus bersedia belajar di tengah pelayanannya.

Pengertian Spiritualitas

Pada masa pencerahan hingga awal abad ke-20, manusia mengutamakan kecerdasan intelektual (IQ). Semakin tinggi IQ seseorang maka semakin tinggi pula kecerdesannya. Oleh sebab itu, para psikolog menyusun berbagai tes untuk mengukurnya sehingga diperoleh tingkatan-tingkatan IQ manusia. Pada pertengahan 1990-an, para peneliti menemukan bahwa kecerdasan emosional sama pentingnya (bahkan ada mengatakan lebih penting) dari IQ. Kecerdasan emosional (EQ) memberi kita kesadaran milik kita sendiri dan juga perasaan milik orang lain. EQ memberi kita rasa empati, cinta, motivasi dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan dengan cepat. EQ merupakan persyaratan dasar untuk menggunakan IQ secara efektif. Sekalipun IQ seseorang sangat tinggi, tanpa EQ dia dapat menyalahgunakannya untuk menjadi sumber kerusakan bagi  manusia dan alam semesta. Pada akhir abad ke-20, para ahli menemukan adanya kecerdasan ketiga, yang disebut dengan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan ketiga ini merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan  hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas  dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan orang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Akhir-akhir ini disimpulkan, kecerdasan spiritual lebih tinggi daripada kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

Kita tidak membahas kecerdasan spiritual secara spesifik dalam sesi ini karena pembahasan mengenai masalah ini membutuhkan pengetahuan yang luas tentang struktur otak manusia dan perkembangan filsafat (misalnya Freud, Newton, Jalaluddin Rumi, Carl Jung, dan sebagainya). Beberapa ahli mengatakan bahwa kecerdasan spiritual tidak sama dengan beragama. Seseorang yang memahami dengan baik ajaran dan hukum agama formal belum tidak otomatis memiliki kecerdasan spiritual yang baik. Sebaliknya, seorang atheis dan humanis yang tidak beragama bisa saja memiliki kecerdasan spiritual yang baik. Menurut mereka, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu kita menyembuhkan dan membangun diri secara utuh sebab kecerdasan spiritual terdapat di dalam bagian terdalam dari manusia itu sendiri.

Pendapat para ahli di atas tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Sekalipun kita dapat menerima bahwa kecerdasan spiritual tidak sama dengan beragama, tetapi tidak dapat disangkal, pengalaman keagamaan yang dimiliki seseorang sebagai hasil perjumpaan dengan berbagai hal (peristiwa, budaya dan agama-agama lainnya dan sebagainya) akan mempertajam perenungannya tentang makna, yang pada akhirnya akan menghasilkan kecerdasan spiritual yang baik. Agama sebagai kepercayaan dan aturan memang diwarisi dari kitab sucii,  para pemimpin agama, orang tua atau keluarga, tetapi tanpa perenungan yang mendalam terhadap semua yang diwarisi itu seseorang tidak mungkin memiliki kecerdasan spiritualitas. Dengan kata lain, sekalipun kecerdasan spiritual yang dimaksudkan para ahli tidak sama dengan spiritualitas yang akan kita bahas di sini tetapi keduanya mempunyai hubungan yang erat. Kecerdasan spiritual tidak mungkin terjadi tanpa spiritualitas, dan spiritualitas akan mendorong (melahirkan) kecerdasan spiritual yang baik. Sumber utama (primer) yang menjadi dasar pedoman dan ukurannya tentu tidak berbeda yakni Kitab Suci. Oleh sebab itu jika kita hendak membahas Kecerdasan Spiritual dan Spiritualitas orang-orang Kristen, sumber primernya haruslah Kitab Suci (Alkitab) ditambah dengan sumber-sumber sekunder lainnya. Agar lebih jelas maka berikut ini kita akan mengelaborasi pengertian spiritualitas.       

Istilah “Spiritualitas” (dalam hal ini Kristen) menunjuk kepada dua hal yakni sebuah pengalaman hidup dan suatu disiplin ilmu akademis. Sebagai sebuah pengalaman hidup istilah ini mengacu pada keseluruhan hidup Kristiani yang berorientasi pada pengetahuan transenden, kebebasan, dan kasih dalam nilai-nilai dan gagasan luhur yang diterima dan digumuli dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus dalam gereja-Nya sebagai persekutuan orang-orang percaya. Spiritualitas ini berkenaan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman hidup Kristiani, khususnya persepsi dan upaya mencapai gagasan atau tujuan tertinggi hidup Kristiani, yaitu suatu kesatuan yang lebih intensif dengan Allah yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus melalui kehidupan dalam Roh.

            Dengan demikian, spiritualitas memiliki hubungan yang jelas dengan penghayatan kepada Firman Tuhan,  pendalaman penghayatan hubungan Tuhan Yesus dengan Allah Bapa, menjadi perenungan hubungan antara para muridNya dengan Tuhan Yesus (Yoh.14-17). Dari hubungan itu yang pertama-tama ditunjukkan adalah dimensi vertikal: Allah mengutus, memberikan tugas, menetapkan misi  yang harus dilakukan tanpa menyimpang sedikit pun dari pokok-pokok yang diamanatkan. Dia yang dipercayai melakukan misi itu harus senantiasa memiliki hubungan yang intim dengan Pengutus.

            Apakah dasar dan tujuan spiritualitas Kristen? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama perlu dijelaskan dulu pemahaman kata spiritual di dalam terminologi teologi Kristen. Kata spiritual (rohani) dalam bahasa Yunaninya adalah pneumatikos, yang berarti bersifat roh atau berkenaan dengan roh. Kata ini di dalam PB, terutama di dalam tulisan Rasul Paulus, mempunyai tiga arti yaitu tentang orang rohani (1 Kor. 2:13,15; 3:1; bnd. Gal. 6:1); tentang hal-hal rohani (1 Kor. 2:13; 9:11; bnd. Rm. 15:27; Ef. 1:3); dan tentang “benda-benda rohani” yang merupakan suatu gambaran metafora yang menunjuk arti hal-hal yang spiritual (1 Kor. 10:3-4; 15:44-46; bnd. 1 Pet. 2:5,9). Ketiga arti ini dikaitkan pemahamannya dengan karya Allah di dalam diri Yesus Kristus dan melalui Roh Kudus. Rasul Paulus di dalam surat 1 Korintus, menggunakan kata pneumatikos untuk menegur golongan tertentu di dalam jemaat Korintus yang menganggap diri mereka ‘spiritual atau rohani’ dibandingkan yang lainnya. Hal ini dikarenakan mereka merasa memiliki karunia-karunia istimewa, yaitu karunia nubuat dan bahasa roh. Rasul Paulus menegur jemaat Korintus secara keseluruhan, termasuk golongan tertentu tersebut, yang walaupun mereka menganggap dirinya dipenuhi dengan karunia-karunia tetapi mereka masih hidup di dalam pertengkaran, percabulan, penyembahan berhala, ajaran sesat dan semacamnya. Oleh sebab itu dia menyebut orang-orang di Korintus sebagai manusia duniawi yang tidak dapat menerima hal-hal spiritual yang berasal dari Roh Allah. Manusia duniawi adalah manusia psukhikos “bersifat jiwa, alamiah” (1 Kor. 2:13-15; 15:44-46); dan sarkikos “bersifat daging” (1 Kor. 3:1; 9:11). Manusia duniawi hidup tanpa Roh Allah dan oleh karena itu mereka tidak dapat mengerti hal-hal yang spiritual. Sebaliknya manusia spiritual adalah manusia yang dapat menilai segala sesuatu (1 Kor. 2:15) karena hidupnya dipimpin oleh Roh Allah dan memiliki pikiran Yesus Kristus (1 Kor.2:16).

Kehidupan spiritualitas orang-orang percaya didasari oleh iman yang tertuju kepada Yesus Kristus. Dengan percaya dan beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat yang telah menebus dosa-dosa dunia dan yang telah bangkit, maka mereka menerima karunia Roh, yaitu Roh Kudus tinggal di dalam kehidupan mereka. Berdasarkan karunia Roh yang diterima dan tinggal di dalam hidup orang-orang percaya, maka kehidupan mereka yang lama diperbarui, menjadi manusia baru (Ef.4:17-32). Mereka memiliki hidup yang baru yang berada di dalam kasih Allah (1 Kor. 13).

Kehidupan spiritualitas Kristen merupakan kasih karunia dan anugerah Allah semata-mata. Kehidupan spiritualitas ini muncul bukan karena reaksi terhadap suatu kondisi zaman yang tidak menentu. Tetapi kehidupan spiritualitas ini muncul pertama-tama oleh karena kasih karunia dan anugerah Allah yang mengerjakan dan mengaruniakan keselamatan di dalam orang-orang percaya melalui karya penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa munculnya kehidupan spiritualitas di dalam diri orang-orang percaya inisiatifnya datang dari Allah. Spirituality, in other words, is not something the believer has but is a new pattern of personal growth taking place in the community of those who have been sought out, converted and cherished by the risen Christ. ‘In this love, not that we loved God but God loved us. …We love because God first loved us (1 John 4. 10,19).

Di dalam surat-surat Rasul Paulus, pernyataan “di dalam Kristus” atau “di dalam Tuhan” dikutip sebanyak 164 kali, hal ini jelas membuktikan bahwa betapa pentingnya dasar kehidupan spiritualitas yang didasari oleh iman yang tertuju kepada Yesus Kristus. Karena melalui Yesus Kristus, kehadiran Allah disingkapkan dan Roh Kudus diberikan kepada orang-orang percaya. Allah memang misteri bagi kehidupan manusia, namun melalui Yesus Kristus Allah menyatakan diri-Nya agar manusia dapat mengenal-Nya. Dan melalui Roh Kudus kehadiran Allah menjadi nyata di dalam diri orang percaya yang ditandai dengan adanya suatu pembaruan hidup.

Selanjutnya, mesti dicatat bahwa dasar spiritualitas Kristen tidak saja berpusat kepada Kristus (Kristus-sentris), tetapi juga berpusat kepada Allah Trinitas (Trinitas-sentris). Kedua pusat ini merupakan satu kesatuan. Kesatuan ini mempunyai pengertian bahwa percaya dan beriman kepada Yesus Kristus menjadi ‘pintu masuk’ bagi kehidupan spiritualitas orang orang percaya. Namun demikian percaya kepada pribadi Yesus Kristus harus dihubungkan dengan percaya kepada pribadi-pribadi Ilahi lainnya di dalam Allah Trinitas, yakni Allah Bapa dan Roh Kudus. Allah Trinitas yang Agung menuntun orang-orang percaya kepada kepenuhan dan kekayaan kehidupan spiritualitas sejati. Memiliki kehidupan spiritualitas sejati berarti memiliki kesadaran spiritualitas yang peka dan jernih terhadap realitas kehadiran Allah Trinitas, baik di dalam kehidupan pribadi sebagai orang percaya maupun di dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Di wilayah-wilayah kehidupan apapun misalnya kehidupan emosional pribadi, sosial, ekonomi, moral, seksual, profesi, hubungan dengan sesama dan semacamnya tidak dibiarkan lepas dari kesadaran spiritualitas tersebut. Hal ini didasari pada pengakuan yang sepenuhnya bahwa tidak ada satupun bagian kehidupan orang-orang percaya yang boleh terpisah dari kehadiran Allah Trinitas. Sebagai akibatnya kehidupan yang dijalani oleh mereka adalah kehidupan yang kudus dan benar. Kehidupan semacam ini adalah kasih karunia dan anugerah Allah Trinitas, dan juga merupakan sebuah proses di mana di dalamnya kehidupan orang-orang percaya dituntun dan diajar oleh Roh Kudus untuk mengenal dan mendalami kebenaran Kristus sebagaimana dinyatakan oleh Alkitab.

 

Posted by: Jamilin Sirait | May 22, 2010

Begu Ganjang


Begu Ganjang

 

Peristiwa yang terakhir di desa Sitanggor dan Sipoholon minggu yang lalu membuat kita sangat terkejut dan sekaligus sedih. Di daerah yang kita sebut sebagai awal berkembangnya kekristenan di seluruh Tapanuli dan sekarang menjadi pusat gereja terjadi peristiwa yang dipicu oleh isu yang tidak masuk akal sehat apalagi tidak sesuai dengan ajaran kekristenan. Isu begu ganjang yang ditebarkan oleh beberapa orang tertentu membuat sekelompok masyarakat masyarakat marah dan bringas sehingga membunuh dan membakar hidup-hidup seorang suami, isteri dan anaknya minggu yang lalu. Memang, beberapa tahun yang lalu isu begu ganjang marak di beberapa daerah yang dihuni oleh orang-orang Kristen, antara lain: di wilayah Distrik Tebing Tinggi Deli.

            Peristiwa yang terjadi minggu yang lalu ini menghentak para pelayan gereja-gereja yang selama ini telah bekerja keras melayani jemaat pedesaan. Menurut informasi, ada rencana di beberapa tempat mengadakan seminar tentang begu ganjang. Sebenarnya, seminar tentang begu ganjang telah pernah diadakan di Pematang Siantar tahun 1990-an yang disponsori oleh PIKI dan STT HKBP dengan mengundang para pakar di bidang psikologi, kesehatan, teologi, adat dan budaya. Tetapi isu begu ganjang tetap marak seolah-olah sulit ditumpas. Artinya, analisis dan diskusi tentang masalah ini sudah berulang kali, hasilnya disebarluaskan kepada para pelayan.

            Melihat fenomena ini, beberapa hal yang mungkin segera dilakukan, adalah:   

  1. Para pelayan gereja yang bekerja di pedesaan diperlengkapi dengan pengetahuan yang memadai tentang budaya, kepercayaan dalam agama suku dan tentang ilmu-ilmu kebatinan yang berkembang.
  2. Para pelayan yang berkerja di daerah tradisional diberdayakan untuk menemukan dan menghayati pemahaman teologi berdasarkan penelusuran kepada teks-teks Alkitab yang memuat masalah-masalah kebatinan dan roh-roh.
  3. Oleh sebab isu begu ganjang terjadi di daerah-daerah miskin, maka menjadi pertanyaan apakah ada hubungan antara kemiskinan dengan isu begu ganjang? Menurut informasi suami-isteri dan anaknya yang dibakar di Muara lebih kaya ketimbang  keluarga masyarakat lainnya.

 

Bersambung…..

Posted by: Jamilin Sirait | May 15, 2010

Pembekalan kepada Capen HKBP Yang akan ditahbis


Pembekalan Kepada Calon Pendeta HKBP

Lima puluh tiga orang Calon Pendeta yang sudah menjalani masa praktek selama kurang lebih dua tahun akan ditahbiskan oleh Ephorus HKBP dalam Ibadah Minggu, tanggal 16 Mei 2010 di HKBP Rawamangun. Kelima puluh tiga orang calon pendeta itu melayani di berbagai tempat di HKBP, antara lain: Kantor Pusat HKBP, di jemaat-jemaat desa dan kota.

Dalam pembekalan kepada mereka yang akan ditahbiskan pada hari Sabtu tanggal 15 Mei 2010, Kadep Koinonia HKBP mengutarakan beberapa hal:

  1. Mereka menerima “tohonan” itu dari Tuhan melalui pimpinan HKBP. Oleh sebab itu, setiap orang yang menerima “tohonan” harus mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan dengan melakukan pelayanan sepenuh hati, tulus dan jujur sampai akhir. Setiap “pelayan tahbis” harus lebih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia. Orang-orang yang takut kepada Tuhan akan menghargai apa yang diberikan Tuhan kepadanya dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Perangkat-perangkat pelayanan pendeta harus benar-benar didalami dan dipahami. Pendeta melakukan tugas pelayanannya dengan perangkat yang utama: Bibel, Buku Ende, Agenda, Katekismus, Confesi, RPP, Aturan & Peraturan HKBP. Pendeta harus terus menerus berdoa, membaca Alkitab, mempelajari buku Ende satu demi satu, menguasai dengan baik Agenda, dan mendalami semua perangkat dimaksud. Dokumen lain yang perlu dipelajari adalah Buku Bolon jemaat setempat di mana seorang pendeta melayani, buku warta jemaat, dan sebagainya.
  3. Para pendeta HKBP harus fasih berbahasa Batak dan Indonesia. Banyak pendeta yang tidak tahu bahasa Batak dan banyak juga yang tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Jika mungkin pendeta HKBP perlu mempunyai pengetahuan secukupnya bahasa internasional yaitu Inggeris.
  4. Sejak menerima tohonan, setiap Pendeta HKBP harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak mendukung pelayanan, misalnya main catur, tidur siang dan berbicara terlalu semborono. Kata-kata yang terucap dari mulut seorang pendeta harus memiliki bobot. Lebih baik waktu tidur siang dipergunakan untuk membaca buku atau mengadakan perkunjungan kepada keluarga jemaat.
  5. Pendeta HKBP harus kritis, kreatif dan dinamis dalam merancang pelayanan. Kemajuan pelayanan banyak ditentukan oleh kreativitas para pendeta. Tentu setiap pemikiran harus dimatangkan dan didiskusikan dengan pendeta senior dan parhalado serta anggota jemaat.
  6. Pendeta HKBP harus bersedia ditempatkan di mana pun. Ladang pelayan Tuhan bukan hanya di kota tetapi juga desa. Sekecil apa pun jemaat yang kita layani, pasti memiliki potensinya sendiri.
  7. Pendeta harus benar-benar menyerahkan dirinya dan hidupnya kepada Tuhan. Poda tohonan menjadi pedoman dalam menekuni pelayanan pendeta.
  8. Selamat mempersiapkan diri menerima pentahbisan menjadi Pendeta.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.