Posted by: Jamilin Sirait | March 19, 2010

Peran Gereja Terhadap Pemanasan Global


Kerusakan Hutan telah mengakibatkan Pemanasan Global atau Global Warming yang berdampak/mengakibatkan terjadinya Perubahan Iklim. Pemanasaan Global atau Global Warming yang terjadi di Bumi kita ini adalah “Sumbangan” dari Negara-negara maju, seperti Amerika, China, Rusia, Jepang dan India. Demikian juga hutan Indonesia yang selama ini dikenal sebagai Paru-paru Dunia, kini telah berubah fungsi. Hutan Indonesia yang sangat baik untuk menyerap racun Karbon Dioksida atau gas beracun sekaligus juga menjadi pembersih udara di Bumi,  Kini hanya tinggal kenangan Akibat perusakan Hutan Indonesia oleh para pelaku perambah Hutan atau pelaku “Illeggal Loging” maka fungsi hutan yang selama ini sebagai pengaman dan pembersih udara di bumi kini telah musnah. Hutan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Hal inilah yang mengakibatkan Pemanasan Global yang berdampak terhadap Perubahan Iklim semakin cepat terjadi.

Kerusakan Hutan yang berakibat Pemanasan Global ini juga bisa menyebabkan lapisan ozon berlubang dan ternyata mengakibatkan munculnya berbagai macam penyakit. Seperti malaria, demam berdarah, penurunan imunnitas tubuh hingga kemasalah lingkungan hidup. Pemanasaan Global juga mengakibatkan naiknya permukaan air laut, kekeringan dan juga kebanjiran. Bencana-bencana tersebut dapat kita saksikan di media elektronik ataupun kita baca di media cetak.

Landasan Teologis Keperdulian terhadap Lingkungan

Mengapa kita harus memperhatikan dan terlibat dalam masalah-masalah ekologi? Itu karena bumi kita berada pada kondisi yang sakit dan mengalami luka-luka, tetapi hal itu tidak dapat terus menerus namun hal itu tidak dapat kita biarkan demi masa depan manusia. Kita sekarang berada dalam posisi untuk melakukan sesuatu. Allah sang pemilik dunia tidak saja mendesak kita untuk memperhatikan keadilan sosial, yakni relasi yang baik antara masyarakat, tetapi juga keadilan ekologis, yang berarti relasi yang baik antara manusia dengan ciptaan lainnya dan dengan bumi sendiri. Sekarang ciptaan diakui sebagai satu komunitas makhluk ciptaan dalam kaitan relasi dengan  yang lain dan dengan Allah Tritunggal. Keutuhan ciptaan adalah bagiaan esensial dari tindakan iman yang membimbing kita untuk memiliki rasa kemahlukan.

 

Dalam konfessi HKBP disaksikan bahwa Bumi dan segala isinya di ciptakan oleh Tuhan dengan maksud dan tujuan yang baik bagi tempat tinggal manusia (Kej2:5-15). Allah memberi kehidupan bagi semua ciptaan dan manusia diberi kuasa untuk memeliharanya. Semua kekayaan yang dimiliki ciptaan tersebut, termasuk budayanya merupakan alat persahabatan. Demikian juga bahwa karya Tuhan Yesus yang membebaskan adalah milik semua ciptaan (Kol. 1:15-20, Roma 8:19-33). Karena itu manusia memiliki tanggungjawab untuk memelihara semua ciptaan supaya manusia itu dapat bekerja sehat dan sejahtera (Maz. 8:4-10). Konsep tentang Kemaknuran, diperoleh bukan dari penyelewengan kuasa untuk mengeksploitasi alam melainkan dengan memelihara kelanjutannya, karena Allah telah melihat semua yang diciptakanNya itu baik.

Berangkat dari pengakuan tersebut, HKBP dengan tegas menolak segala tindakan yang merusak lingkungan, membakar dan menebang hutan termasuk hutan belantara (Ul. 5:20;19-20). Menentang setiap tindakan yang mencemari air dan udara, yang merusak air minum dan pernapasan manusia (Maz. 104:1-23, Wah. 22:1-2).

Untuk itu maka salah satu tugas pelayanan HKBP adalah menjaga keseimbangan dan merawat harmonisme kehidupan manusia dan alam ciptaan lainnya. Dalam cara ber-Misi yang holistik (utuh/menyeluruh/terpadu), maka panggilan bagi Gereja dan orang Kristen bukan hanya terkait hal-hal yang rohani, gerejawi dan surgawi saja. Tetapi juga bukan berarti bahwa hanya memikirkan dan melakukan yang terkait dengan hal jasmani, sekuler atau duniawi saja. Namun cara berpikir dan bertindak yang bisa melihat keutuhan dan kesalingterhubungan antara dua hal tersebut. Bahwa keberadaan manusia yang hidup di dalam dunia tidak dapat dilepaskan keterkaitannya dengan bumi dan mahluk-mahluk ciptaan yang lain. Manusia tidak hanya mahluk rohani tetapi juga hidup secara nyata dengan memerlukan air, udara, tanah, tumbuhan, dan hewan.

Barangkali, inilah yang menjadi penyebab, mengapa dalam “tradisi” kisah penciptaan bisa didapati bahwa manusia justru diciptakan paling akhir. Ini seharusnya menjadi perenungan bagi manusia bahwa kelangsungan hidupnya terkait erat dan ditopang oleh ciptaan-ciptaan yang lain. Sehingga pernyataan Tuhan bahwa “…segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” (Kej 1:31) tidak hanya terkait dengan penciptaan dan keberadaan manusia saja. “Sungguh amat baik” diungkapkan ketika semua ciptaan hidup dalam keselarasan, keseimbangan, dan keutuhan. Ungkapan “sungguh amat baik” tidak hanya ditujukan bagi manusia sebagai ciptaan tertinggi, namun ketika manusia dan ciptaan-ciptaan yang lain itu ada dalam harmoni.

Dengan demikian HKBP dipanggil untuk hidup dalam keselarasan dan keutuhan dengan ciptaan yang lain, Gereja dan orang Kristen dipanggil untuk menjalankan fungsi dan tanggungjawab serta kepercayaan yang diberikan Tuhan untuk mengupayakan keutuhan ciptaan. Sehingga kita tidak lagi memisahkan antara hal duniawi dan rohani, tidak lagi memandang rendah upaya pelestarian lingkungan sebagai hal yang semata-mata bersifat sosial dan sekular. Namun mampu mengenali dan menyadari bahwa panggilan untuk memelihara kehidupan yang utuh dan selaras antara manusia dengan alam, tanaman dan hewan adalah bagian dari amanat Tuhan, sebuah Misi yang harus kita jalani.

Hadirnya Kristus di dunia, dan segala bentuk tindakannya telah melahirkan pandangan teologi “keutuhan ciptaan” yang mengasumsikan bahwa dunia ini telah dikuduskan Allah. Semua makhluk ciptaan adalah suatu tanda dan pewahyuan Pencipta yang meninggalkan Merusak dengan sengaja ciptaan berarti merusak gambar Kristus yang hadir dalam segenap ciptaan. Kristus menderita tidak saja ketika manusia mengabaikan hak-haknya dan dieksploitasi tetapi juga ketika laut, sungai dan hutan dirusakkan. Ketika ciptaan diakui sebagai suatu yang kudus, yang menyatakan dan membawa kita kepada Allah, maka relasi kita dengan orang lain juga ditantang untuk beralih dari dominasi dan kuasa ke rasa hormat dan kerendahan hati. Hal ini terbangun apabila kita memiliki rasa kemahlukan. Dengan rasa kemahlukan, maka pemahaman tentang sesama tidak lagi hanya seputar dimensi menusia dan kemanusiaan melainkan beralih pada manusia dan mahluk lainnya.

Untuk itu gereja harus dapat  membaca tanda-tanda zaman, mampu membangun jaringan kerja dan jaringan komunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan dan peringatan akan pemanasan global. Melalui spiritualitas dan kharisma para pelayannya yang memiliki komitmen pada rekonsiliasi dan pemulihan keselarasan serta sadar  bahwa para pelayannya berasal dari masyarakat yang mengenal etika kesejahteraan umum dan etika solidaritas dengan mereka yang menderita dan yang membutuhkan perhatian sehingga memiliki komitmen untuk menjalankan peran profetis dan pelayanan yang bertanggungjawab (stewarship)

Kerusakan lingkungan berakar dalam keserakahan dan kerakusan manusia. Itu sebabnya manusia yang dikuasai dosa keserakahan dan kerakusan itu cenderung sangat konsumtif. Secara teologis, dapat dikatakan bahwa dosa telah menyebabkan krisis moral/krisis etika dan krisis moral ini menyebabkan krisis ekologis, krisis lingkungan. Dengan demikian, setiap perilaku yang merusak lingkungan adalah pencerminan krisis moral yang berarti tindakan dosa. Dalam arti itu, maka upaya pelestarian lingkungan hidup harus dilihat sebagai tindakan pertobatan dan pengendalian diri. Dilihat dari sudut pandang Kristen, maka tugas pelestarian lingkungan hidup yang pertama dan utama adalah mempraktikkan pola hidup baru, hidup yang penuh pertobatan dan pengendalian diri, sehingga hidup tidak lagi dikendalikan dosa dan keinginannya, tetapi dikendalikan oleh cinta kasih.

Alam atau lingkungan hidup telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada kita untuk digunakan dan dimanfaatkan demi kesejahteraan manusia. Manusia dapat menggunakan alam untuk menopang hidupnya. Dengan kata lain, alam diciptakan oleh Tuhan dengan fungsi ekonomis, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tetapi bukan hanya kebutuhan manusia menjadi alasan penciptaan. Alam ini dibutuhkan pula oleh makhluk hidup lainnya bahkan oleh seluruh sistem kehidupan atau ekosistem. Alam ini berfungsi ekumenis  sebagai tempat tinggal bagi seluruh ciptaan. Alam ini adalah rumah kita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: