Posted by: Jamilin Sirait | March 23, 2010

Tantangan Pelayanan Dalam Era Globalisasi


Orang-orang Kristen (bersama-sama dengan komunitas-komunitas lainnya) berada di tengah-tengah dunia yang berubah dan berkembang dengan cepat seiring dengan kemajuan-kemajuan teknologi dalam berbagai bidang yang dihasilkan oleh manusia. Disukai atau tidak, diterima atau ditolak perubahan itu niscaya akan senantiasa terjadi, tidak seorang pun mampu menghalanginya. Kemajuan teknologi, perubahan dan perkembangan yang telah memasuki seluruh lapisan masyarakat dapat menimbulkan dampak positip, yang berguna untuk manusia dan negatip, yang menimbulkan permasalahan-permasalahan sosiologis dan psikis. Selama dampaknya masih positip tentu kita tidak akan resah. Sebaliknya jika dampak negatipnya lebih besar ketimbang dampak positip, apakah kita lebih baik mundur lagi ke zaman baheula? Apakah kita mungkin kembali ke masa itu? Tentu kita akan menjawab, itu tidak mungkin.

Apa pun usaha yang kita lakukan untuk mengembalikan masyarakat dan dunia ke masa dahulu, itu sia-sia saja. Oleh sebab itu fokus utama kita bukan mencari jalan menghalangi kemajuan teknologi itu, tetapi bagaimana mengurangi dampak negatipnya bagi masyarakat, apa yang harus dilakukan dan dikembangkan agar manusia (baca: orang-orang Kristen) mampu mempertahankan iman dan jati-dirinya di tengah-tengah peruubahan akibat modernisasi itu. Sama seperti ketika kita bepergian dari suatu pelabuhan ke pelabuhan lain di seberang dengan mempergunakan kapal, kita tidak mungkin menghalangi datangnya badai, atau kita kita tidak perlu mencaci maki badai itu. Hal yang dapat kita lakukan adalah mempersiapkan kapal  yang dapat menghadapi badai sehingga kita bisa tiba di seberang. Demikian juga ketika kita berbicara tentang iman menghadapi tantangan perubahan-perubahan serta perkembangan di dalam dunia ini, yang harus kita lakukan adalah membina orang-orang Kristen agar menjadi dewasa dalam iman, menyadari keberadaan serta tujuan hidupnya dan turut bertanggungjawab untuk menyatakan keimanannya di tengah-tengah masyarakat.

Peran serta, tugas dan tanggungjawab orang kristen di dalam masyarakat dipusatkan dalam tiga hal pokok yang disebut dengan tritugas panggilan gereja yakni bersekutu (koinoneo, kata bendanya adalah koinonia, artinya persekutuan), bersaksi (martureo, kata bendanya adalah marturia, artinya kesaksian)  dan melayani (diakoneo, kata bendanya adalah diakonia, artinya pelayanan).  

Persekutuan (koinonia) hanya menjadi suatu tradisi saja tanpa kemauan dan keberanian untuk menyatakan kesaksian (marturia) dan diakonia (pelayanan). Kesaksian dan pelayanan merupakan buah nyata daripada persekutuan. Pelayan (diakonia) bukan suatu retorika tetapi perbuatan konkrit kepada orang-orang lain. Umat Kristen dipanggil untuk melayani bukan untuk dilayani (Mark. 10:45). Kata melayani sebenarnya mencakup aspek yang sangat luas. Melayani bukan hanya sekedar memberitakan firman dari mimbar gereja, tetapi harus berangkat atau pergi keluar menjumpai masyarakat yang beraneka-ragam serta berbuat sesuatu  yang berguna untuk menghadapi persoalannya masing-masing.

Barangkali kita akan bertanya, apakah para pelayan dalam melaksanakan tugas panggilannya perlu memahami konteks kehidupan masyarakat yang selalu terus berubah seperti pengetahuan tentang gerakan keagamaan, sosial budaya dan politik? Bukankah lebih dibutuhkan pemberdayaan tentang perangkat-perangkat pelayanan dalam bentuk praktis, misalnya bagaimana mempersiapkan khotbah, bagaimana membaca liturgi atau agenda dalam ibadah dan sebagainya? Pertanyaan seperti ini memang wajar. Memang semua pengetahuan praksis pelayanan itu sangat dibutuhkan. Tetapi agar pelayanan itu aktual dan implementatif, para pelayan membutuhkan juga pengetahuan tentang keadaan dan perkembangan umat yang dilayani serta realitas masyarakat sekitar yang mempengaruhi kehidupan manusia. Tanpa pengenalan konteks kehidupan warga, pelayanan kemungkinan akan mengambang, kurang menyentuh kehidupan umat. Untuk itu program pelayanan gereja harus memperhatikan kenyataan-kenyataan yang ada, dengan demikian dapat dirancang pelayanan yang berdaya guna. Masyarakat kota dengan berbagai corak kehidupan, profesi dan kecenderungan berbeda dari masyarakat pedesaan yang lebih homogen. Kini, secara umum Gereja berada ditengah-tengah masyarakat yang heterogen berubah dan berkembang dengan cepat sesuai dengan pengaruh yang datang dari luar sebagai akibat dari globalisasi. Sementara gereja, sepanjang masa secara teologis sama, yakni sebagai “Tubuh Kristus” tetapi konteks setiap generasi berbeda. Maka wajar dan sangat perlu jika para pelayan gereja memperlengkapi dirinya dengan berbagai pengetahuan untuk memperkaya dan meningkatkan pelayanannya.

Dominasi  pluralitas merupakan tantangan yang banyak kita ditemui hampir diseluruh wilayah pelayanan gereja HKBP. Gereja kita seolah  sedang berenang di tengah samudera melayunisasi, jawanis, islamis dan budaya-budaya yang begitu sangat luas. Lalu apakah kita akan menunggu air surut lalu menepi. Saya kira tidaklah demikian, karena gereja kita terpanggil untuk ikut mewarnai luasnya dominasi pluralitas ini. Arena ini bukan untuk dihindari, melainkan menjadikan gereja di tengah kenyataan itu sebagai bahana pembawa damai. Samudera bisa menjadi sahabat apabila kita dapat “membaca dengan baik arah angin” sehingga gereja kita dapat “mengatur layar” untuk mengendalikan angin dan menghantar perahu sampai ke tujuan. Untuk itu, gereja perlu mencari keseimbangan di tengah arus era globalisasi dan pluralitas tersebut dengan mendalami sikap harmonisme.

Dalam kurun waktu kira satu abad sejak disentuh oleh budaya luar dan delapan windu kemerdekaan bangsa kita, umat Kristen tersebar di berbagai pelosok bumi ini, di desa terpencil yang belum terjangkau fasilitas kendaraan umum, daerah pedesaan yang sudah lebih maju, kota-kota kecil, kotamadya dan kabupaten kota provinsi atau kota besar dan metropolitan. Pekerjaan merekapun sangat serba ragam, petani tradisional, petani modern, pegawai biasa, para pejabat tinggi, pengusaha kecil dan menengah, pengusaha besar (konglomerat), tetapi masih banyak juga sebagai pengangguran.

Sesuai dengan keadaan dan perkembangan itu, maka perilaku serta sikap kegerejaan merekapun bermacam-macam. Akibat pengaruh yang membentuk kehidupan keagamaan mereka sesuai dengan konteks di mana mereka berada, tingkat pendidikan serta dasar pendidikan yang diterima dalam keluarga khususnya mengenai keimanan, kebutuhan spiritual merekapun tidak sama. Dalam Kehidupan gereja, sebagai anggota jemaat masih bagaikan bayi yang membutuhkan makanan lunak. Jarang membaca Alkitab, jarang mengikuti ibadah minggu atau kegiatan gereja lainnya. Ada juga yang tidak mampu membagi waktu mengikuti ibadah karena harus mengejar kerja lembur, misalnya para buruh pabrik. Tetapi sebagian lainnya (yang tinggal di kota) mengalami perubahan yang luar biasa, semakin gemar membaca buku-buku teologi termasuk buku terbaru. Apalagi dengan semakin bertumbuhnya sekolah-sekolah teologi (jumlahnya lebih 200) maka anggota jemaat yang memiliki pengetahuan teologi semakin banyak, bahkan sebagian dari antaranya ingin menjadi pendeta. Semua ini berpengaruh kepada pelayanan, menjadi masalah, tantangan dan sekaligus berkat. Pengetahuan mereka ini membuat mereka menjadi kristis terhadap pelayanan Pendeta, dengan mengkritisi khotbah yang kurang aplikatif, juga mengkritik sikap, moral, dan spiritualitas Pendeta yang mulai menurun.

Untuk itu, di tengah masyarakat yang demikian tampaknya suatu penjelasan tentang spiritualitas sangat dibutuhkan. Apa artinya dan implikasinya dalam kehidupan personal yang kemudian berpengaruh pada kehidupan umat menjadi pokok yang harus dijelaskan. Perlu ada penuntun agar pelayan  meningkatkan spiritualitasnya di tengah pergumulan manusia menghadapi kehidupan yang semakin keras. Harus ditegaskan bahwa para pelayan juga membutuhkan pendidikan keluarga yang baik, masa depan anak-anak yang baik dengan mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah yang  bermutu, yang sudah tentu membutuhkan biaya yang besar.

Menghadapi jemaat yang semakin plural itu, para pelayan (dalam hal ini Pendeta) ditantang untuk menyegarkan kembali panggilan, arti, makna serta implementasi kependetaannya, sehingga pendeta mampu melaksanakan tugas serta kewajibannya di dalam masyarakat dan umat yang berkembang dan berubah dengan cepat.

Sesuai dengan Aturan dan Peraturan HKBP, salah satu syarat untuk  menjadi pendeta di HKBP adalah lulus dari Sekolah  Tinggi  Teologi ataupun Sekolah  Pendeta yang  diakui sah oleh HKBP. Saat ini, para pendeta HKBP adalah lulusan Fakultas Teologi UHN. Lulusan Sekolah Tinggi Teologi HKBP, Sekolah Pendeta (dari Sipoholon dan Pematangsiantar) lulusan STT Jakarta, Fakultas Teologi UKDW dan UKSW. Berarti, sebenarnya para pendeta HKBP memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik, tentu saja dalam bidang teologi. Dengan kata lain, dilihat dari sudut kebutuhan, setiap orang pendeta telah memiliki dasar kemampuan dan keterampilan melayani. Tetapi oleh sebab ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, semakin banyak cabang ilmu pengetahuan yang masih baru  bagi kita. Seiring dengan itu, terjadi juga perubahan dan perkembangan dalam rnasyakat. Teologi sebagai ilmu pun berkembang, banyak pemikiran-pemikiran baru dalam  buku-buku teologi yang belum pernah kita baca. Tetapi buku-buku tentang berbagai pengetahuan dan teologi itu dengan mudah dapat diperoleh di toko-toko buku.

Dengan demikian,  kita (para pendeta) yang hidup dan rnelayani sekarang ini mempunyai banyak kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan. Mudah-mudahan kita semua bersemangat untuk membaca sebanyak-banyaknya. Kita rnemahami intensitas pelayanan di jemaat sangat tinggi. Tetapi barangkali masalahnya, pendeta yang melayani di daerah tradisional terutama daerah yang sangat jauh dari kota, sulit memperoleh buku-buku baru dan tidak mempunyai  banyak waktu untuk membaca berhubung tugas pelayanan yang    sangat padat.

Tetapi seiring dengan semakin banyaknya persoalan manusia dewasa ini, implementasi dari tritugas panggilan gereja itu harus diterjemahkan dan diimplementasikan lebih konkrit dan aktual menyikapi permasalahan-permasalahan yang semakin berkembang. Para Pelayan harus semakin bersemangat memperlengkapi diri dalam melakukan tugas pelayanan di mana pun. Para anggota jemaat pun sebagai bagian integral dari pelayanan gereja diharapkan dapat merasakan dan menikmati sapaan dari tulisan ini sehingga tetap bersedia mengambil bagian dalam pelayanan gereja sesuai dengan berkat dan talenta yang diterima dari Tuhan. Tanpa kesudian anggota jemaat terlibat dalam pelayanan, kehidupan kegerejaan itu sulit berkembang bahkan mungkin akan semakin merosot.  Namun, pokok-pokok pemikiran yang disampaikan di sini harus kita kembangkan sesuai dengan konteks di mana kita masing-masing berada dan berkarya. Mudah-mudahan melalui tulisan ini, pembaca semakin terdorong untuk memperluas pengetahuan sendiri untuk merancang   pelayanan yang berdaya guna dan melakukan pembaharuan di tengah-tengah jemaat.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: