Posted by: Jamilin Sirait | March 19, 2010

Menjadi Murah Hati


Menjadi murah hati sebagai wujud nyata dari kasih merupakan karakter daripada orang-orang Kristen sebab Allah benar-benar murah hati. Sejak penciptaan Allah telah menunjukkan diriNya sebagai Allah yang murah hati, Dia menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya serta mempercayakan tugas memelihara alam semesta kepada manusia. Sekalipun manusia jatuh ke dalam dosa, memberontak kepada Allah, Dia tetap menunjukkan “kemurahanNya” itu dengan menjamin kelanjutan generasi umat manusia dan segala makhluk. Allah mengikat perjanjian dengan Abraham dengan menjadikan keturunanNya menjadi bangsa yang besar supaya melalui umatNya itu semua bangsa di bumi ini diberkati. Untuk tujuan itu, Allah menuntut bangsa Israel setia kepada perjanjianNya itu.  Sekalipun ternyata  umat Israel tidak setia mereka melanggar hukum Tuhan, tetapi ketidak-setiaan umat Israel tidak membuat Allah berhenti bermurah hati kepada manusia, Dia mengutus AnakNya Yesus Kristus ke dunia ini. Puncak kemurahan hati Allah terwujud dalam pengorbanan Yesus Kristus untuk keselamatan semua orang. Inilah yang harus disyukuri oleh semua orang, khususnya orang kristen sehingga kita harus menjadi orang yang murah hati.

Kita semua terpanggil untuk menjadi murah hati kepada sesama manusia. Murah hati tidak diukur pertama-tama dari materi atau uang, tetapi setiap tindakan serta perilaku yang keluar dari hati yang penuh kasih.  Murah hati merupakan implementasi dari hukum utama dan yang pertama yakni kasih, kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia (Mat.22:38-40). Tetapi dengan alasan murah hati kita tidak boleh dengan seenaknya berbuat sesuka hati atau bertindak sesuai dengan kemauan kita sendiri. Dengan  prinsip murah hati kita konsisten melakukan tugas pelayanan kita sebagaimana ditetapkan dalam poda “tohonan” itu dan diaturkan dalam aturan-aturan yang ada, yakni: memelihara harta Tuhan Yesus; memberitakan Injil dengan jelas; mengajar, menasihati, menegor, menghibur, memperingati jemaat; melaksanakan tugas pelayanan dengan tulus di mana pun kita berada; melawan kejahatan dan ketidakadilan dengan kuasa Allah; mengajak orang lain bertobat; melaksanakan pelayanan sakramen; mendidik dan memelihara anak-anak; menjaga dan memelihara semua umat (semua kelompok umat); membebaskan orang dari kemiskinan serta kebodohan.

Kita juga bersyukur kepada Tuhan sebab anggota jemaat HKBP menghormati para pendeta sebagai pribadi yang mendapat penahbisan dan pengutusan dari Tuhan. Mereka mau mengadukan persoalan-persoalan hidupnya kepada pendeta, mendengar khotbah pendeta dan meminta pendeta berdoa untuk dia dan keluarganya. Anggota jemaat percaya bahwa pendeta dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang: mau dan mampukah para pendeta HKBP menjaga dan mempertahankan citra seperti itu di tengah-tengah masyarakat. 

Peningkatan Pelayanan Pendeta HKBP

Saat ini jemaat HKBP telah tersebar di seluruh pelosok tanah air (beberapa jemaat terdapat di luar Indonesia), mulai dari desa kecil yang masih terpencil, pedesaan yang mulai sudah dapat dijangkau dengan kendaraan sepeda motor, sudah ada listrik dan kemudian radio serta televisi, kota-kota kecil dan kota kecamatan, kota kabupaten dan kotamadya, kota-kota provinsi dan  metropolitan. Sesuai dengan kondisi kehidupan di wilayah-wilayah tersebut, keadaan ekonomi anggota jemaat juga   menjadi semakin beraneka ragam. Ada umat atau anggota jemaat yang sangat miskin, ada yang hidup berkecukupan. Kendatipun tingkat pendidikan rata-rata semakin baik, masih banyak umat yang berpendidikan rendah. Sesuai dengan kondisi ekonomi jemaat, kehidupan para pelayan pun berbeda-beda. Sebagian pelayan yang melayani di desa harus hidup sesuai dengan kondisi desa itu. Masih ada pelayan HKBP yang tinggal di rumah-rumah sederhana dengan fasilitas yang kurang memadai. Sebaliknya sebagian pelayan yang melayani di jemaat-jemaat  besar menikmati kehidupan yang lebih baik. Belakangan ini kita juga bisa melihat kecenderungan jemaat kota untuk melengkapi gedung gereja yang nyaman dengan full-ac, sehingga umat dapat beribadah dengan nyaman, tentu dengan biaya perawatan yang sangat besar. Sebagai perbandingan saja, barangkali biaya perawatan suatu gedung gereja untuk satu bulan cukup untuk membiayai seorang pendeta muda selama satu tahun di pedesaan.

Tentang keikut-sertaan, aktivitas kegerejaan anggota jemaat pun semakin beraneka-ragam, yakni: mereka yang tidak pernah membaca Alkitab dan mereka yang membaca Alkitab setiap hari; mereka yang sama sekali tidak ke gereja dan mereka yang setiap minggu hadir dalam ibadah serta berperan aktip dalam pelayanan gereja, bahkan semakin banyak anggota jemaat HKBP yang membaca buku-buku teologi, mengikuti kursus-kursus pengajaran Alkitab, dan memperoleh gelar Magíster Ministri dan Doktor Ministri dari Sekolah-sekolah Teologi. Keragaman anggota jemaat tersebut merupakan sumber potensi yang semakin besar di tengah-tengah jemaat pada satu sisi, tetapi sekaligus dapat menjadi sumber konflik pada sisi yang lain. Menjadi potensi jika kita dapat menjadikan kemajuan-kemajuan itu menjadi kekuatan untuk melayani, tetapi menjadi konflik jika kita dibayang-bayangi ketakutan akan ketidak-mampuan mengimbangi pengetahuan teologi anggota jemaat.

Berdasarkan pengamatan selama ini, keragaman anggota jemaat HKBP dapat dikategorikan sebagai berikut:

Pertama, Anggota jemaat yang masih setia kepada HKBP. Mereka menerima dan meyakini tradisi HKBP jauh lebih baik dari gereja manapun, merasa nyaman dan tenteram beribadah di HKBP. Bagi mereka, liturgi atau tata-ibadah HKBP tidak perlu dirubah. Sekalipun banyak dari antara mereka mempergunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari, tetapi mereka lebih menikmati ibadah dengan bahasa Batak.

Kedua, Anggota Jemaat HKBP secara nominal. Mereka menjadi umat HKBP karena orang tuanya HKBP, tetapi tidak pernah mengikuti kebaktian gereja (barangkali pernah hanya satu kali satu tahun).

Ketiga, Anggota Jemaat HKBP yang lebih menghargai lembaga adat melebihi gereja. Mereka sesekali mengunjungi kebaktian Minggu, tetapi tidak akan merasa bersalah jika harus meninggalkan ibadah demi melaksanakan adat. Selain itu, mereka memberikan sumbangan besar kepada paguyuban marga dan adat, tetapi kurang memberi respon kepada rencana pelayanan gereja. 

Keempat, Anggota Jemaat yang masih tetap terdaftar di HKBP tetapi sehari-hari aktif di denominasi lain, khususnya gereja-gereja evangelikal. Mereka hanya membutuhkan HKBP pada acara seremonial tertentu, misalnya pembatisan, pernikahan dan upacara pemakaman

Kelima, Anggota Jemaat HKBP yang telah meninggalkan HKBP. Mereka yang sangat antipati terhadap adat dan mengatakan bahwa adat itu merupakan warisan kekafiran. Mereka menolak segala bentuk pelaksanaan adat, membakar benda-benda kuno dan ulos. Bahkan ada yang lebih ekstrim, yang membentuk komunitas baru dengan mengingkari ikatan kekeluargaan. Menurut mereka di dalam Yesus sudah terbentuk persaudaraan baru (Mark. 3:31-35). Kelompok ini tidak hanya terdapat di kota-kota besar tetapi semakin merambat ke kota-kota yang sedang berkembang bahkan ke pedesaan. Tidak dapat dipungkiri, berbagai denominasi kelompok evangelikal sudah mulai bermunculan di pedesaan, sekalipun mungkin jumlah anggotanya masih kecil.

 

HKBP telah memiliki Visi, Misi secara “hatopan” yang menjadi landasan merumuskan visi dan misi pelayanan kita diperhadapkan dengan konteks pelayanan kita masing-masing, menjadi dasar membuat perencanaan dan langkah-langkah konkrit pelayanan. Perubahan sosial sangat cepat, tidak hanya menyentuh masyarakat perkotaan tetapi juga masyarakat desa. Jika umat tidak diperlengkapi menghadapi perubahan sosial besar kemungkinan mereka akan tergilas oleh arus perubahan. Visi: “HKBP berkembang menjadi gereja yang inklusif, dialogis, dan terbuka, serta mampu dan bertenaga mengembangkan kehidupan bermutu di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus, bersama-sama dengan semua orang di dalam masyarakat global, terutama masyarakat kristen, demi kemuliaan Allah Bapa yang Mahakuasa. Misi: “HKBP berusaha meningkatkan mutu  segenap warga masyarakat, terutama warga HKBP, melalui pelayan-pelayan gereja yang bermutu agar mampu melaksanakan amanat Tuhan Yesus dalam segenap perilaku kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, maupun kehidupan bersama segenap masyarakat manusia di tingkat lokal dan nasional, di tingkat regional dan global dalam menghadapi tantangan abad ke-21.”

Kenyataan bahwa HKBP hidup serta berada di dunia, di dalam masyarakat,  bersama-sama dengan orang-orang yang berbeda dengan dirinya sendiri. Itu berarti gereja manapun (termasuk agama manapun) di bumi ini tidak pernah sempurna, hanya Allah satu-satunya yang sempurna. Oleh sebab itu pelayanan gereja harus dikembangkan supaya mampu menghadapi perubahan sosial yang sangat cepat. Tetapi perkembangan gereja tidak terjadi dengan sendirinya tanpa pemikiran dan upaya yang serius melakukan pembaharuan. 

Pertumbuhan dan perkembangan dimaksud seharusnya lebih diutamakan dalam tataran kualitas iman bukan kuantitas jumlah jemaat semata-mata. Perkataan “menjadi gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka…” menjadi petunjuk yang jelas ke arah mana HKBP harus berkembang.  Inklusif berarti mengakui dan menerima keberadaan yang lain (agama dan budaya lain) sebagai kenyataan dan memahami bahwa mereka pun memiliki keyakinannya sendiri. Kita harus menjauhkan diri dari kesombongan rohani dan tetap meyakini bahwa HKBP adalah Gereja yang dibangun di atas “alas Yesus Kristus”, Raja Gereja. Kita tidak boleh melecehkan dan menghina orang-orang yang berbeda dengan kita, mereka harus dihormati sebagai umat manusia yang dikasihi Allah. Gereja tidak sama dengan Allah sebab gereja merupakan alat Allah untuk membimbing dan membawa orang-orang Kristen menuju kehidupan bersama Dia. Pemahaman seperti ini melahirkan sikap dialogis di dalam diri kita. Dengan dialogis berarti kita pun harus bersedia mengungkapkan diri kita di hadapan orang lain, menyaksikan iman dan kepercayaan kita di hadapan mereka. Tetapi kita juga harus bersedia mendengar mereka dan tidak menghakimi siapa pun. Kita harus menyadari bahwa kita pun adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tidak sempurna. Keselamatan kita bukan atas usaha sendiri tetapi semata-mata anugerah Tuhan yang diterima dengan iman. Dengan demikian, tidak mungkin ada seorang pun manusia yang dapat menyombongkan diri di hadapan Tuhan. Kesombongan rohani beragama biasanya muncul oleh sebab kekurang mampuan menghayati jiwa dan inti pesan agama yang sesungguhnya, membaca yang tertulis saja tanpa mendalami mengapa itu ditulis dan apa inti pesannya. Oleh karena itu, kita harus terbuka menerima perubahan-perubahan yang dapat memperbaiki kehidupan jemaat. Sikap dan jiwa “introvert” di dalam jemaat menghasilkan ketertutupan dan menganggap semua yang “ada di luar dirinya” sebagai “kuasa kegelapan”.

Untuk menjadi gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka dibutuhkan keseriusan melakukan “pemberdayaan dan penguatan jemaat.” Anggota jemaat harus dibina dan diberdayakan terutama dalam iman kepercayaan mereka, kemudian menyusul dalam kehidupan keseharian. Mereka yang imannya lemah tidak mungkin berdialog, sebaliknya dia akan menjadi bulan-bulanan permainan orang lain. Jemaat yang lemah dalam kehidupan kesehariannya akan menjadi “rendah diri” di tengah-tengah komunitas lainnya. Dengan demikian, yang diharapkan ke depan ini adalah Gereja HKBP yang berkembang dalam kualitas iman dan dalam kehidupan sehari-hari menjadi sejahtera.

Salah satu dari tugas mendesak  bagi gereja adalah mewujudkan kesejahteraan dan keadilan umat manusia. Gereja tidak hanya mengajarkan tentang surga di balik kehidupan sekarang, tetapi juga memperperjuangkan kesejahteraan dan keadilan bagi umat manusia. Kita tidak boleh diam terhadap segala penindasan dan perlakuan tidak wajar terhadap manusia, khususnya kepada anak-anak, perempuan dan kaum miskin. Jumlah orang miskin semakin besar, sekitar 2 milyar atau sepertiga dari penduduk dunia. Di Indonesia jumlah orang miskin sekitar 17,5 persen (kira-kira 37 juta). Tanpa bermaksud merampas hak-hak orang-orang kaya dan terhormat, mereka harus senantiasa diingatkan bahwa sebagian dari apa yang mereka miliki harus diberikan kepada orang-orang yang sungguh membutuhkannya dan agar semua harta milik mereka diamanatkan untuk perjuangan harkat manusia secara keseluruhan.

Sebagai gereja, HKBP juga mengemban amanat memberitakan berita sukacita, kedamaian (shalom), hadirnya Kerajaan Allah di bumi ini melalui Yesus Kristus, sehingga bangsa-bangsa di muka bumi ini dapat menikmati hidup penuh kasih dan damai, jauh dari segala bentuk kekerasan (Luk.4:18-20). Tetapi di tengah-tengah tanggung-jawab seperti itu kita harus berhadapan dengan gerakan fundamentalisme agama. Penganut gerakan ini bernafsu merubah kehidupan masyarakat modern yang dianggap telah menyimpang tetapi sering dengan cara yang ekstrim. Kelompok Fundamentalisme Kristen memandang semua orang lain sebagai kafir. Dengan dilandasi semboyan “menyelamatkan semua umat manusia” mereka berjuang keras untuk menobatkan orang-orang lain menjadi pengikutnya. Mereka menganggap semua anggota gereja-gereja “mainstream” belum sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus sebab mereka masih mengakui budaya nenek moyang dan melaksanakan adat-istiadat.

Kelompok Fundamentalisme Islam bertindak lebih jauh. Mereka menterjemahkan kata “jihad” dengan perang, dan perang itu sendiri diridhai Allah. Pada umumnya penganut kelompok pelaku kekerasan dengan label agama itu menganggap perbuatannya sebagai pelaksanaan tugas mulia dari Allah. Membunuh orang lain yang tidak se-agama (atau bahkan tidak satu aliran) berarti meluruskan agama Allah. Allah telah memerintahkan mereka memerangi orang-orang kafir. Kerusakan di dunia ini ditimbulkan orang-orang kafir, oleh sebab itu mereka harus dipertobatkan dan jika tidak mau bertobat harus dibunuh. Seandainya dalam peperangan terhadap kafir tersebut dia harus mati demi kelurusan agama Allah, kematian seperti itu dianggap kematian yang paling indah di hadapan Allah.  Gerakan ini merambat ke segala penjuru dunia, termasuk ke Indonesia.  Pembakaran dan pengrusakan rumah-rumah ibadah, larangan mengadakan kebaktian di berbagai tempat, pemberlakuan otonomi daerah berbasis Syari’ah  di beberapa daerah, peledakan bom yang terjadi beberapa tahun belakangan ini dan pada bulan Juli lalu di Kuningan Jakarta (Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton),  dan kejadian lainnya,  merupakan indikasi bahwa kita sedang menghadapi tantangan besar.

Umat HKBP menjadi bermutu,  dalam kehidupan spiritual dan material, dalam tingkah laku dan sikap hidup, dalam etika kerja dan cita-cita, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu, tanpa harus menjadi Partai Politik, HKBP bersama-sama dengan gereja-gereja lainnya perlu memperdengarkan suara kenabiannya terhadap kehidupan berpolitik bangsa Indonesia secara khusus dan bangsa-bangsa di dunia ini secara umum. HKBP sebagai bagian integral bangsa merupakan berkat dalam mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia dan dalam pergulatan dan perjuangan menuju masyarakat sejahtera, adil dan berbahagia .

Meningkatkan Pelayanan

Peningkatan pelayanan jemaat pertama-tama merupakan tanggungjawab para pendeta. Untuk itu para pendeta harus berupaya keras dalam memajukan pelayanan itu. Diperlukan langkah-langkah strategis dan konkrit untuk mewujudkan peningkatan pelayanan jemaat, antara lain:

Pertama, Kita perlu merancang program perencanaan pelayanan jemaat tepat dengan memperhatikan konteks masyarakat, kekuatan, kelemahan, acaman, kesempatan dan prediksi masa depan (Luk.12:28-31). Para pendeta mengupayakan pemberdayaan umat yang bermutu dengan: peningkatan pengetahuan teologi para pelayan (Sintua), pemberdayaan anggota jemaat sehingga mereka turut aktif dalam pelayanan gereja. Semua pengikut Kristus adalah garam dan terang, pewarta Kerajaan Allah melalui profesi atau pekerjaannya masing-masing (Mat.5:13-16). Dalam pekerjaan sehari-hari pun harus disadari bahwa anggota jemaat terpanggil untuk melayani Tuhan.

Kedua,  Dengan melihat jauh tantangan di masa depan, seharusnya para pelayan memberi perhatian khusus kepada program pelayanan Sekolah Minggu, Remaja dan Pemuda yang menjadi generasi penerus gereja kemudian. Anggaran pelayanan untuk kategorial dimaksud perlu ditingkatkan supaya program terpadu, penyiapan pengajar yang tepat dan metode yang berdaya guna dapat dilaksanakan (Ef. 6:1-3). 

Ketiga, berhubung sebagian warga jemaat kita terhempas oleh krisis ekonomi global, kita perlu memberi perhatian kepada kehidupan keseharian umat. Gereja diharapkan dapat memprakarsai pemberdayaan ekonomi umat melalui kerja-sama antar lembaga dan antar umat untuk memperbaiki pertanian dan peternakan. Jika warga gereja sejahtera maka para pelayan pun akan sejahtera     (Yer.29:7). 

Keempat, Para pendeta melibatkan semua anggota gereja dalam program perencanaan, pengambilan keputusan keputusan sesuai dengan AP HKBP dan sesuai dengan semangat imamat am orang percaya (1 Pet.2:9).

Kelima, Melihat banyaknya permasalahan masyarakat belakangan ini kita perlu meningkatkan perjumpaan dan percakapan di dalam gereja, khususnya percakapan pastoral. Banyak anggota jemaat yang menghadapi kesulitan dan persoalan. Mereka ingin mengadukan persoalan mereka. Walaupun mungkin solusi terhadap persoalan-persoalan itu tidak terjawab tuntas, tetapi percakapan yang penuh kasih akan menolong mereka (Yoh.4:1-42).

Keenam, Meningkatkan kualitas persiapan para pelayan gereja, melalui sermon atau melalui pertemuan khusus yang dirancang. Mutu sermon perlu ditingkatkan. Oleh sebab itu para pelayan perlu lebih intensif membaca buku-buku, bukan hanya mengandalkan Impola ni Jamita (1 Tim. 4:7-14)

Keenam, Meningkatkan semangat persekutuan, kesaksian dan diakonia di tengah-tengah jemaat. Melakukan kebangunan rohani (revival) di dalam jemaat tanpa harus meniru-niru orang lain. Kebangunan yang dimaksud di sini adalah suatu ibadah yang dirancang sedemikian rupa membangkitkan dan mengobarkan iman kristiani agar mereka menjadi jemaat misioner di tengah-tengah masyarakat majemuk (Kiss. 1:14; 2;  Mat.10:16; Yoh.17:15-17).

Ketujuh, Kita harus serius melakukan pendataan kembali di HKBP. Data base ini mencakup: Jemaat, pelayan penuh waktu dan pelayan yang tidak penuh waktu, ruas atau anggota Jemaat dan inventaris.  Agar data-base di tingkat jemaat dapat diselesaikan, para pendeta di jemaat harus benar-benar berupaya untuk melakukan pendataan pelayan dan anggota jemaat. Dengan data base kita mengetahui lebih tepat permasalahan warga jemaat dan kemudian menjadi sumber penting di tingkat Distrik dan Pusat merancang program pelayanan terpadu (Luk.14:28-31).

Kedelapan, Memberi perhatian serius meningkatkan mutu sekolah-sekolah di HKBP. Kemitraan antara gereja yang memiliki Sekolah dengan jemaat HKBP yang lebih besar tetapi tidak memiliki sekolah perlu dilakukan. Langkah untuk meningkatkan mutu pendidikan di HKBP, termasuk lembaga-lembaga pendidikan teologi harus diwujudkan, bukan hanya dalam retorika sebagaimana sering terungkap dalam rapat-rapat ”hatopan” selama ini (Amsal 3:13-20).

Kesembilan, Menghidupkan kembali parhahamaranggion sesama pelayan di HKBP dengan  menolong para pelayan di daerah minus yang membutuhkan bantuan bagi kehidupan keluarga serta masa depan anak-anaknya (Gal,6:10; 1 Pet. 3:8-9).

Kesepuluh, Kita harus menjalin hubungan oikumenis di tingkat Jemaat lokal dan pusat, bahkan diharapkan agar menjadi pemrakarsa bagi kebersamaan di dalam membangun masyarakat. Hubungan oikumenis dalam arti luas, termasuk membina hubungan dengan lembaga-lembaga keagamaan yang ada, baik di tingkat nasional dan internasional perlu ditingkatkan (1 Pet.2:11; 3:15).

Kemungkinan masih banyak pemikiran yang belum terungkap dalam pidato singkat ini. Harapan saya, mudah-mudahan beberapa catatan ini berguna bagi kita khususnya mendorong semua peserta bersedia memberikan pemikiran yang terbaik. Tuhan Yesus Kristus-lah yang telah memilih sebagian dari umatNya menjadi pendeta yang dipercayakan menggembalakan dan memimpin jemaat. Kita percaya Rapat Pendeta ini menjadi kemuliaan bagi Tuhan Yesus Kristus, Raja Gereja. Tuhan akan senantiasa menyertai kita sampai akhir zaman dan membimbing kita untuk melakukan kehendakNya dan memberkati Rapat Pendeta ini (Mat.28:18-20; Yoh. 17:6-17; 1 Tim. 1:12; 1 Pet.3:15). (Pdt.Dr. Jamilin Sirait)

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: