Posted by: Jamilin Sirait | April 2, 2010

Dialog antar Umat Beragama


DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMA

(Dari Persfektif Kristen Protestan)

Oleh: Pdt Dr Jamilin Sirait

Pengantar

Pertemuan dialog antar umat beragama sudah dilakukan beberapa kali di tingkat local, nasional, regional dan internasional. Para pemuka dan umat berbagai agama yang berbeda bertemu bersama, melakukan diskusi bersama dan sharing pengalaman bersama. Tetapi koflik antar umat beragama masih sering terjadi. Permusuhan bahkan perseteruan  dari umat yang berbeda agama sering diberitakan dalam berbagai media. Anehnya, kita sering mengadakan pembelaan bahwa agama itu dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan politik. Agama, demikian kita katakan, sebenarnya mengajarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, mengedepankan damai dan kesejahteraan bersama dari umat manusia. Agama manapun tidak pernah menghendaki pertikaian apalagi peperangan. Benarkah seperti itu? Jika benar, berarti para pemuka agama tidak mampu membentengi umatnya agar tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Jangan-jangan pemimpin agama itu pun punya kepentingan politik pula. Dengan demikian, kita masih perlu melakukan kajian dalam bentuk pertemuan antar umat beragama seperti ini. Kita barangkali akan mendapat masukan (termasuk kritik) dari saudara kita peserta dialog yang dapat menyadarkan kita tentang apa yang kita yakini diperhadapkan dengan kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat. Makalah ini merupakan pendekatan tentang pentingnya Dialog antar Umat Beragama dari sudut pandang Kristen Protestan.

Pluralisme Sebagai Kenyataan

Kadang kala banyak orang salah memahami arti daripada pluralisme sehingga mereka menolaknya. Padahal dilihat dari kenyataan, pluralisme merupakan suatu keniscayaan, tidak seorang pun dapat mengingkarinya. Pluralisme menunjuk kepada suatu sikap dan pengakuan terhadap kepluralitasan berbagai aspek kehidupan: agama, suku, budaya, bangsa dan sebagainya. Pluralisme agama berarti pengakuan terhadap kenyataan adanya berbagai agama dan kepercayaan yang tumbuh dan berkembang di sekitar kita dan masing-masing mempunyai ajaran dan kebenarannya sendiri. Pluralisme bukanlah suatu usaha membandingkan-bandingan dan mempertentangkan kebenaran agama. Kebenaran agama merupakan milik dan keyakinan masing-masing agama dan setiap penganut agama  tidak perlu meremehkan dan menghina kebenaran agama lain. Selain itu perlu juga jelas, pluralisme bukanlah synkritisme. Mengambil unsur-unsur tertentu dari beberapa agama kemudian menggabungkannya menjadi suatu agama baru justeru akan mengaburkan ajaran pokok dari agama itu.

Dalam sejarah pertemuan antar umat beragama pada abad modern paling tidak ada tiga paradigma yang berbeda, yakni paradigma eksklusivisme, paradigma inklusivisme dan paradigma pluralisme.[1] Ketiga paradigma itu memiliki kelemahannya masing-masing. Tetapi para teolog bidang agama-agama mengakui bahwa paradigma pluralisme jauh lebih maju dari kedua paradigma sebelumnya. Namun harus dihindarkan agar relativisme  sebab jika demikian identitas dari setiap agama akan menjadi kabur. Dengan pluralisme kita maksudkan, kita menghargai identitas dan entitas agama-agama lain secara jujur dan terbuka tanpa kehilangan identitas agama sendiri.

Dari sisi iman kristiani perlu ditegaskan, kemajemukan itu merupakan kehendak Allah. Dia sendirilah yang membiarkan kemajemukan itu terjadi. Sebab jika Allah menghendaki homogeni, bagiNya hal itu tidak sulit. Ternyata Dia membiarkan adanya kemajemukan itu, dan itu di luar kemauan manusia. Menolak pluralisme berarti menolak kenyataan yang ada di bumi ini. Oleh sebab itu merupakan bagian dari kehendak Tuhan, maka penolakan itu sekaligus menjadi pengingkaran dominasi Allah di dalam dunia ini. Kembali ke sejarah awal manusia menurut kesaksian Alkitab, pluralisme bahasa, walaupun hal itu merupakan peringatan Allah terhadap keangkuhan manusia yang ingin melarikan diri dari ancaman hukuman Allah (Kej. 11), tetapi keberagaman yang sudah ada sejak dahulu itu merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Kenyataannya juga ada banyak agama di dunia ini, agama-agama yang besar (dunia) dan agama-agama yang kecil (kepercayaan suku).

Pluralitas bukan hanya menyangkut kepada agama-agama yang berbeda, sebab harus diakui bahwa di kalangan gereja sendiri pun terdapat kemajemukan. Ada banyak gereja di muka bumi ini, dan setiap gereja memiliki pokok-pokok ajaran, liturgy, tata-ibadah, system pengorganisasian (tata-aturan) yang berbeda dari yang lain. Kemajemukan gereja itu sendiri merupakan karunia Tuhan. Tetapi gereja (baca: denominasi) dibangun di atas satu batu alas yaitu Yesus Kristus (1 Kor.3:11), oleh sebab itu  gereja-gereja yang beraneka ragam itu sebenarnya dipersatukan di dalam Dia.  Bahkan di dalam internal satu denominasi pun terdapat perbedaan, sesuai dengan konteks daerah di mana dia hidup atau berkembang,  kondisi serta pekerjaan umatnya, dsb. Ada gereja yang hidup di masyarakat tradisional, masyarakat transisional dan masyarakat kota (modern). Dasarnya sama, tetapi penampilan dan corak pelayanannya dapat berbeda. Corak kehidupan masyarakat di desa berbeda dengan masyarakat kota, persoalan masyarakat desa dan kota pun berbeda. Dengan demikian, cara pelayanan kepada mereka pun pasti tidak sama sekalipun sama-sama terikat dengan satu organisasi yang sama. Menganggap dan memperjuangkan homogeni justeru merupakan hal yang sia-sia dan bahkan tidak sesuai dengan kehendak Pencipta (band. 1 Kor.12).

Landasan Teologis Dialog antara Umat Beragama

Secara informal sebenarnya dialog antar umat beragama telah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Tanpa direncanakan sebelumnya, setiap hari kita berjumpa dan bercakap-cakap dengan saudara kita yang berbeda agama, suku, budaya, bahasa dan bangsa, misalnya di kantor, di pasar dan sebagainya. Kita juga hidup bertetangga dengan orang-orang yang memiliki latarbelakang yang berbeda-beda itu. Kondisi seperti ini telah sejak dahulu di tengah-tengah bangsa kita, dan semakin nyata terlihat di daerah perkotaan. Kita tidak pernah merencanakan siapa yang tinggal di sebelah rumah kita. Kita juga tidak mungkin menolak orang-orang yang berbeda iman bekerja bersama-sama dengan kita di suatu perusahaan atau instansi-instansi pemerintahan. Orang-orang lain berada bersama-sama dengan kita dan bekerja sama untuk melakukan suatu tugas tertentu, sebagai atasan, bawahan ataupun mitra sejajar. Kenyataannya, selama ini pekerjaan kita bersama tidak pernah dihalangi oleh perbedaan agama. Setiap orang bekerja menurut kemampuan masing-masing dan saling melengkapi. Ketika kita belanja di pasar, kita juga tidak pernah menanyakan agama seseorang (pedagangnya). Kita membutuhkan sesuatu, berkomunikasi secara wajar, dan mereka pun membutuhkan kita. Dengan kata lain, dialog informal berlangsung setiap hari di dalam masyarakat tanpa pernah diatur oleh siapapun. Perbedaan-perbedaan termasuk  agama tidak menjadi penghalang bagi dalam pergaulan, kerja sama dan hubungan social dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi di sisi lain, sulit kita sangkal, konflik (permusuhan) di dalam masyarakat dengan memperalat isu agama jauh lebih cepat merebak dibandingkan dengan isu lainnya. Jika agama dipertentangkan atau dibenturkan, maka keramahtamahan dan relasi yang baik antar pribadi tadi bisa sirna sekejap dan berganti dengan permusuhan. Sekalipun banyak orang mengatakan bahwa konflik horizontal yang merebak di Nusantara pada akhir abad yang lalu diakibatkan oleh ketimpangan ekonomi, dan secara formal pemerintah juga mengatakannya, tetapi tidak dapat disangkal, nuansa keagamaan (meminjam istilah A.A.Yewangoe) sangat menonjol. Dengan demikian, agama yang seharusnya memberikan ketenangan, mendorong manusia untuk memasuki hubungan yang terdalam dengan Tuhan dan mengajarkan perdamaian umat manusia, justeru menjadi alat pembakar emosi melakukan tindakan memerangi (bahkan menghancurkan) orang lain yang tidak seagama. Ajaran-ajaran agama yang lembut dan penuh kasih itu menjadi terlupakan, yang muncul adalah luapan kemarahan yang bertentangan dengan ajaran agama itu. Kerusuhan (bahkan mungkin dapat kita sebut sebagai perang) di berbagai daerah  di Indonesia,  pembakaran rumah-rumah ibadah telah menunjukkan bahwa sentimen agama masih sangat potensial dipergunakan menyulut permusuhan. Sebenarnya, di samping agama, masyarakat kita memiliki landasan penting dalam rangka perwujudan kerukunan umat beragama yakni budaya atau adapt. Tetapi oleh sebab kuatnya daya dorong yang diakibatkan oleh sentimen agama, budaya atau adapt itu sering tidak mampu bertahan menghadapi godaan (mungkin lebih tepat hasutan) yang datang dari luar.

Oleh sebab itu, disamping dialog informal yang terjadi secara otomatis di dalam masyarakat, dialog formal berupa perjumpaan yang direncanakan masih tetap dibutuhkan dan perlu ditingkatkan serta disosialisasikan ke tingkat grass root dari masyarakat. Untuk itu, peran dari para pemuka masyarakat sangat strategis dalam rangka menyebar-luaskan pentingnya pentingnya dialog antar umat beragama demi mencapai kedamaian bersama. Maka pendalaman terhadap agama sendiri (teologi agama sendiri) dan pengenalan terhadap agama lain (teologi agama-agama lain) diharapkan menjadi agenda penting dari semua pemuka agama.

Berkaitan dengan masalah-masalah yang terjadi di Nusantara akhir abad lalu, Tarmizi Taher pernah mengusulkan agar dibuat Undang-undang Kerukunan Agama di Indonesia. Tetapi gagasan ini mendapat reaksi dari beberapa pemuka agama. Mereka mengatakan, Undang-undang Kerukunan Agama tidak membuat penganut agama menjadi rukun tetapi justeru sebaliknya menimbulkan persoalan baru, sebab dengan Undang-undang tersebut hubungan antara manusia berbeda agama menjadi terlalu diatur, senantiasa diperhadapkan dengan pertanyaan: “apakah tindakan seseorang bertentangan dengan undang-undang atau tidak.” Akibatnya konflik baru muncul, dan bisa saja Undang-undang tersebut diperalat oleh orang-orang tertentu demi kepentingan politiknya. Relasi   antar manusia yang berbeda-beda menjadi terganggu.[2]

Gagasan dari Tarmizi Taher tentang perlunya “bingkai teologi kerukunan hidup umat beragama” yang muncul kemudian mendapat tanggapan positip. Artinya, setiap agama, yang sebenarnya memiliki prinsip-prinsip pokok teologi yang dapat dijadikan menjadi landasan  hubungan serta keperduliaan kemanusian perlu dikembangkan. Sehubungan dengan pemikiran itu, Prof.Dr.Quraish Sihab mengatakan, malapetaka akan terjadi bukan saja karena umat beragama tidak memahami agama orang lain, tetapi juga karena ketidak mampuan mengerti agamanya sendiri. Jika penganut setiap agama benar-benar menyusun kerangka teologis menurut kacamata agamanya, mereka akan didesak untuk menggali nilai-nilai positip dari agamanya sendiri yang mendukung hubungan baik antar penganut agama yang berbeda itu dan diharapkan sangat berguna menghindarkan konflik antar umat berbeda agama.[3]

Agar landasan teologi itu tidak disalah-mengerti maka perlu dipahami arti dan makna dialog itu. Dialog (dia-logos, Yunani) berarti perkacakapan dua orang atau lebih tentang sesuatu hal. Dengan demikian dialog bukanlah suatu perbantah-bantahan tetapi percakapan antara dua orang atau lebih dalam posisi yang setingkat. Dialog bukanlah polemik yang bersifat apologetis. Tujuan dialog bukanlah untuk saling mengalahkan tetapi saling memahami. Oleh sebab itu di dalam dialog harus terdapat keterbukaan, keterusterangan dan kejujuran. Dalam dialog setiap orang bersedia mengungkapkan apa yang dia ketahui dan yakini dengan sejujur-jujurnya dan bersedia mendengar keyakinan orang lain. Kejujuran dan keterbukaan dibutuhkan oleh sebab dialog tidak bertujuan untuk meniadakan perbedaan atau merelatifkan ajaran agama. Setiap penganut agama harus yakin dengan ajaran agamanya sebab meyakini ajaran agama sendiri tidak berarti menghina atau merendahkan ajaran agama lainnya.

Landasan teologi dialog antar umat beragama itu dapat ditemukan di dalam Kitab Suci dan pengalaman dari komunitas gereja (baca:orang Kristen) pada masa lalu. Di dalam Kitab Perjanjian Lama kita dapat membaca panggilan Allah kepada Abraham agar meninggalkan sanak-saudaranya dan pergi (berjalan) ke suatu tempat di mana Allah akan menempatkan dia di dalam suatu komunitas baru. Abraham itu dipanggil Allah menjadi “berkat” atau juga menjadi “kutuk” bagi masyarakat sekitarnya. Allah akan memberkati Abraham dan mengutuk mereka yang mengutuk Abraham. Dia berada di dalam lingkungan komunitas baru, di mana dia harus mengakui dan menerima mereka, dan komunitas masyarakat baru itu pun harus menerima kehadirannya. Dalam pengertian seperti itulah kita pahami arti “berkat” dan “kutuk” itu. Dengan demikian ketika kita menemukan orang-orang Kristen yang mempergunakan PL membangun sikap eksklusivisme, besar kemungkinan mereka tidak mendalami makna panggilan Allah kepada Abraham.

Landasan teologi lainnya di dalam Kitab Perjanjian Lama ditemukan dalam Kitab Nabi Yunus. Dia diutus Allah ke kota Niniwe untuk mengingatkan penduduk kota itu agar meninggalkan perbuatan-perbuatan jahat dan bertobat. Sikapnya yang eksklusif kepada bangsa-bangsa lain (Niniwe) membuat Yunus enggan melaksanakan pesan Allah, dia bahkan lebih menghendaki kehancuran mereka. Tetapi akibat peristiwa yang dialaminya dalam perjalanan menuju Niniwe kemudian dia bersedia melaksanakan pengutusan Allah. Sebenarnya Yunus tidak menghendaki keselamatan kota Niniiwe. Tetapi dia kemudian disadarkan dengan pohon jarak yang dilihatnya itu  bahwa sesungguhnya Allah juga mengasihi orang-orang Niniwe (Yunus 4:6-11). Dengan demikian, kitab Yunus dapat menjadi pernyataan teologis dalam Kitab PL bahwa Allah sungguh-sungguh mengasihi semua bangsa di muka bumi ini.

Kebutuhan untuk meningkatkan dialog itu sendiri terasa jika kita membaca Injil tentang perjumpaan Yesus dengan berbagai ragam keyakinan serta corak kehidupan masyarakat pada saat itu. Dengan tulus dan jujur Dia menjelaskan apa yang Dia pahami kepada para pemuka agama Yahudi dan menolong orang-orang yang membutuhkanNya. Dia tidak membeda-bedakan  manusia yang Dia jumpai, sebab Dia melihatnya setiap orang sebagai manusia secara individu yang membutuhkan pertolongan. Selain melalui pengajaranNya kepada orang-orang Yahudi (Israel) saat itu yang kita sebut sebagai dialog teologi, Yesus juga melakukan dialog melalui perbuatan kasih ketika Dia menyembuhkan orang-orang sakit, mengangkat harkat orang-orang yang termarginalisasi, dan sebagainya. Kasih (agape) yang Dia sebut sebagai “Inti” dari “pesan” Allah yang wujudnya harus nyata melalui perbuatan dan Dia sendiri melakukanNya merupakan dialog karya yang harus diteladani serta dipraktekkan oleh orang-orang Kristen (baca misalnya: Yoh.3:1-21:  percakapan dengan Nikodemus; Yoh.4:1-42: percakapan dengan perempuan Samaria; Mat.12:22-37: Yesus dan Belzebul). Kasih (iman) kepada Allah hanya merupakan retorika saja tanpa kasih kepada sesama manusia. Setiap orang yang berkata bahwa dia mengasihi Allah tetapi membenci saudara-saudaranya, maka ia adalah pendusta. Barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya , tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya(1 Yoh.4:20-21).

Kedua hukum kasih itu sama nilainya, tidak boleh dipisahkan. Yesus dengan tegas mengatakan bahwa di atas landasan hukum kasih itulah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para Nabi (Mat.22:37-40). Dengan kata lain, hukum kasih merupakan landasan identitas kekristenan, di hadapan sesama Kristen dan terhadap orang-orang lain yang berbeda keyakinan. Hukum kasih itu tidak boleh dikaburkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu, hukum kasih tidak ditujukan untuk memperbanyak jumlah anggota gereja, tetapi merupakan respon terhadap kasih Tuhan. Hanya dengan kasih itulah orang-orang Kristen dapat menunaikan tanggunjawabnya menyatakan kehadiran Kerajaan Allah di muka bumi ini (Luk. 4:18-19: kabar baik kepada orang-orang miskin, pembebasan orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, membebaskan orang-orng tertindas, memberitakan tahun rahmat Tuhan). Kehadiran kerajaan Allah itu tidak hanyadibatasi kepada komunitas Kristen tetapi kepada semua orang tanpa memandang latar-belakang social, budaya dan agama.[4]

Sikap dan perbuatan Yesus-lah yang kemudian diteruskan para Rasul, terutama Paulus. Para rasul menjelaskan dengan jujur serta terus terang apa yang mereka yakini kepada orang-orang lain. Di hadapan penguasa Romawi dan para filsuf Paulus menjelaskan tentang keselamatan melalui karya penebusan Kristus (baca misalnya: Kiss.17:16-34, Paulus di Atena; Kiss.24, Paulus di hadapan Feliks). Paulus mampu menjelaskan oleh sebab dia sungguh-sungguh menyakini dan memahami ajaran itu. Hal ini perlu kita tekankan, sebab jika kita berbicara tentang landasan teologi dialog, kita  berbicara tentang “apa” yang kita pahami dan yakini kepada orang lain. Berdialog tanpa memahami apa yang kita dialogkan besar kemungkinan akan melahirkan sikap apologetis belaka dan mencari-cari hal-hal yang dapat dipakai merendahkan agama lain. Pada akhirnya, sikap seperti ini bukan menciptakan kerukunan dalam masyarakat tetapi sebaliknya menebar bibit-bibit kebencian.

Memang harus diakui, pelaksanaan dialog itu tidak semudah membalikkan tangan. Ada berbagai hambatan yang dihadapi dan perlu diatasi. Ada banyak yang menerima dialog itu secara positip dan terbuka tetapi ada juga yang mencurigainya sebab dianggap mempunyai agenda tersendiri melakukan proselitisasi kepada penganut agama lain. Oleh sebab agama merupakan hubungan yang sangat pribadi atara manusia dengan Tuhan, kecurigaan-kecurigaan yang dapat mengganggu bisa saja terjadi. Namun kita harus menegaskan, dialog yang mengandung muatan proselitisasi akan macet, tidak akan berhasil dengan baik. Oleh sebab itu tugas dan tanggungjawab kita bersama-lah menjaga agar dialog antar umat beragama tidak salah arah. Selain itu, kita juga perlu memikirkan agar dialog itu  tidak hanya berada pada kelompok elit pemuka agama tetapi dapat menyentuh masyarakat umum. Ini pun menjadi tanggungjawab kita bersama.

Pentingnya Dialog Antar Umat Beragama

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, landasan teologis dari dialog itu adalah perintah Tuhan agar kita saling mengasihi. Menurut Albert Nambiaparambil, dari sudut pandang kekristenan, dialog adalah respon iman Kristen terhadap kehadiran Allah yang menyelamatkan manusia dan pengharapan akan terwujudnya penggenapan segala sesuatu. Dialog adalah suatu upaya yang dilakukan dengan tulus untuk menolong dan melayani orang lain menghadapi krisis kemanusiaan. Dialog itu adalah bagian dari misi kristiani. Tetapi misi kristiani itu tidak perlu dipersempit hanya untuk memperbanyak anggota jemaat. Misi kristiani bersifat holistic, menyangkut seluruh aspek kebutuhan manusia. Misi kristiani adalah wujud dari keperdulian kita kepada sesama manusia.[5]

Berangkat dari pemikiran di atas, dialog antar umat beragama merupakan sarana penting untuk menumbuhkan pengenalan yang lebih mendalam kepada orang lain dan kemudian melahirkan keperduliaan kepada sesama manusia. Mengapa diperlukan keperduliaan itu? Jawabannya jelas, yakni: ada berbagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kerja-sama. Agar  kerja sama itu terjadi yang pertama dilakukan adalah saling mengenal dan saling memahami.

Pertumbuhan sikap saling memahami itulah yang kita harapkan tercipta pada masa pemerintah Orde Baru jika kita perhatikan intensitas dialog antar agama yang diadakan sejak tahun 60-an. Pada masa Orde Baru, pemerintah melalui Departemen Agama telah merancang dan melaksanakan beberapa kali dialog antar umat beragama di beberapa kota besar di Indonesia, baik dalam tingkat nasional atau lokal. Tetapi dialog itu belum efektif untuk menumbuhkan persaudaraan antar umat beragama. Sebab setelah dicermati, dialog itu pada umumnya dilakukan hanya sekedar mendukung politik pemerintah, yakni semata-mata menciptakan ketentraman di dalam masyarakat. Kepentingan pemerintah hanya dari segi politik agar program yang dirancang mendapat dukungan dari para elit agama. Oleh sebab itu sekalipun dialog telah berulang-ulang dilakukan, saling memahami terhadap agama lain tidak bertumbuh. Dialog itu akan efektif jika bertumbuh dari bawah, dari kesadaran penganut agama-agama yang berbeda itu untuk menghadapi tantangan bersama, bukan direkayasa oleh penguasa.

Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan, barangkali hal-hal yang menyangkut ajaran esensial dalam agama-agama tidak perlu dikedepankan. Jika isu tersebut dimasuki, yang akan terjadi adalah perdebatan yang tidak menemukan penyelesaian. Biarlah setiap penganut agama menghayati inti kepercayaannya sesuai dengan ajaran agama itu sendiri. Masih banyak isu penting yang dapat dikembangkan menjadi agenda bersama dalam dialog antar umat beragama, antara lain:

  1. Masalah Kemiskinan.

Barangkali teologi agama-agama tentang kemiskinan tidak sama. Tetapi semua agama

setuju agar masyarakat terbebas dari kemiskinan (apalagi kemelaratan) dan keluar dari

kesenjangan antara orang-orang kaya dan orang miskin.

  1. Pelanggaran terhadap hak azasi manusia;
  2. Diskriminasi di dalam masyarakat;
  3. Persatuan dan kesatuan sebagai masyarakat bangsa Indonesia;
  4. Penyakit masyarakat seperti judi, obat-obat terlarang;
  5. Pencemaran udara dan air (masalah ekosistem);
  6. Menghadapi Bencana alam;
  7. Mengatasi Kekerasan;
  8. Kedamaian dan ketenteraman dunia.
  9. Dan sebagainya

Penutup

Mudah-mudahan sumbangan pemikiran ini berguna untuk mendorong kita ke dalam suatu pemahaman bersama bahwa dialog antar umat beragama masih tetap kita butuhkan, sehingga konflik yang pernah terjadi di daerah lain tidak akan terjadi di daerah kita di sini. Dengan dialog seperti ini kita juga mampu mempertahankan hubungan baik antar umat (keluarga) berbeda agama bahkan dapat meningkatkannya kepada upaya bersama menghadapi persoalan-persoalan social di masa depan.

*************************


[1] Joas Adiprasetya, Mencari Dasar Bersama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002, hal. 48.

[2] A.A.Yewangoe, Agama dan Kerukunan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002, hal. 43.

[3] Ibid, hal. 44

[4] Band. A.A.Yewangoe, Agama…., hal. 49

[5] Albert Nabiaparambil, Dialogue in India, Ranchi, 1975, hal. 111ff.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: