Posted by: Jamilin Sirait | April 9, 2010

Menyongsong Pilkada Demokratis


MENYONGSONG PILKADA DEMOKRATIS:

Perenungan Bersama bagi Calon Pimpinan Daerah dan Rakyat

 (oleh: Pdt Dr Jamilin Sirait)

 

 

Pada akhir abad lalu, suara demokrasi bergulir dengan cepat tanpa bisa dihalangi lagi. Masyarakat benar-benar sudah lama menghendaki terwujudnya demokrasi di Indonesia demokrasi. Salah satu buah dari perjuangan itu, sejak awal decade ini sudah beberapa kali terjadi pemilihan umum, tingkat kabupaten, kota, provinsi dan pusat untuk memilih wakil-wakil rakyat dan para pimpinan daerah. Rakyat memilih langsung para calon bukan lagi memilih partai politik seperti pada masa lalu. Pada sisi lain, demokrasi pun termanifestasi dari semangat untuk mendirikan partai-partai politik. Menjelang pemilihan umum pada awal dedade ini dan pada tahun yang lalu,  puluhan partai politik lahir, baik bersimbolkan agama atau bukan agama dideklarasikan. Para calon wakil rakyat pun tampil antri berderet mendaftarkan diri, sejumlah nama terpampang berderet menjadi calon-calon legislatif dari berbagai partai politik, mereka yang benar-benar paham dan bergelut dalam dunia politik selama ini, maupun para pemula dalam bidang politik atau mungkin belum memadai pengetahuannya tentang politik, para cendekiawan dan pendidikan menengah, orang berpunya dan orang biasa saja, laki-laki dan perempuan. Mereka seperti menjemput sejuta harapan dengan adanya kesempatan terdaftar menjadi calon legislatif. Menang atau kalah, itu urusan belakang saja. Yang penting, namanya sudah terdaftar sebagai calon. Sekalipun ada sekitar 200 – 300 orang calon untuk memperebutkan 25-30 kursi di DPRD tingkat kabupaten atau kota, nampaknya bukan merupakan persoalan besar. Berhubung orang-orang Indonesia sangat religius, kemungkinan untuk menang diserahkan kepada Tuhan, harapan sepuluh persen bisa terwujud menjadi seratus persen. Sebagai orang beragama, logika kalah harus ditaruh di belakang saja, hitung-hitungan persentasi tidak penting.

 

Kini, pemilihan itu sudah berlangsung dan mereka yang menang sudah duduk di kursinya masing-masing. Mereka yang belum (tidak) menang kembali ke tempat pekerjaan semula. Bagi mereka yang tidak mengeluarkan banyak uang untuk kampanye dan keperluan lainnya, kekalahan tidak menjadi persoalan besar. Tetapi menjadi pertanyaan: bagaimana dengan mereka yang harus mengeluarkan uang yang cukup banyak, apalagi harus menjual asset dan meminjam sana-sini? Waduh, itu tidak dapat dibayangkan. Mudah-mudahan mereka yang kalah masih tegar dan menganggapnya sebagai pelajaran berharga.

 

Setelah pemilu tahun 2009 berlalu, pada tahun 2010 ini, akan diadakan pemilihan langsung kepala daerah di tingkat kabupaten dan kota di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Sumatera Utara. Para calon bupati, wakil bupati, calon walikota dan wakil walikota sudah mendafar resmi. Proses seleksi sudah berlangsung dan mereka yang lolos seleksi oleh KPU sudah diumumkan dan nomor urut sudah dikantongi. Kini masing-masing kontestan sudah siap-siap memasuki masa pertarungan yang akan diawali dengan kampanye, menjual program masing-masing. Sekalipun kampanye belum dimulai, sebenarnya kompetisi para calon sudah mulai sejak beberapa bulan lalu melalui gambar yang terpampang di pinggir-pinggir jalan. Ada gambar (baliho) yang besar dan ada yang kecil dan hampir tidak terlihat oleh mata dengan jarak pandang jauh. Masing-masing menunjukkan penampilannya yang terbaik. Itu wajar, sebab penampilan pun diharapkan menjadi  penuntun bagi masyarakat untuk menentukan siapa yang akan dipilih.

 

Demokrasi berarti penentu masa depan bangsa adalah rakyat, kedaulatan berada di tangan rakyat. Setiap orang bebas menentukan pilihannya tanpa paksaan dari pihak manapun. Ketika seseorang memasuki bilik suara dia melakukan pencoblosan sesuai dengan hatinurani, kemauan dan pengenalannya akan si calon. Inilah harapan kita yang sebenarnya dengan system pemilihan langsung oleh rakyat dalam era demokrasi ini. Rakyat menjadi dewasa dan bertanggungjawab, mempergunakan haknya dan menentukan pilihannya demi masa depan bersama yang lebih baik

 

Persoalan kita sekarang adalah demokrasi seperti apa yang menjadi kenyataan di tengah-tengah masyarakat kita yang belum dewasa berdemokrasi?   Apakah masyarakat kita semua sudah sadar politik dan memiliki pengetahuan yang memadai untuk menentukan pilihannya? Mudah-mudahan sudah demikian. Tetapi barangkali tidak terlalu gegabah jika kita mengatakan bahwa sebagian rakyat pemilih kurang mengenal profil yang akan dipilihnya dengan benar. Pemikiran sebagian besar rakyat lebih banyak dibentuk oleh juru kampanye atau tim sukses dari masing-masing calon yang gencar mempengaruhi opini masyarakat dengan mengkampanyekan kehebatan calonnya. Pendidikan politik bagi masyarakat belum jalan, baik oleh lembaga-lembaga agama, oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat, maupun oleh lembaga pemerintah.

 

Mencermati situasi dan kondisi di tengah-tengah masyarakat sebelum pemilihan umum, apalagi pemilihan kepala daerah, sebagian orang berkata bahwa sistem pemilihan langsung yang dilaksanakan sekarang ini memuat banyak resiko dan persoalan. Konflik horizontal di tengah masyarakat sering terjadi, keluarga terpecah karena berbeda keinginan, mereka yang bertetangga juga rentan dengan konflik, bahkan di kampung-kampung pun terjadi konflik karena masing-masing berupaya menjagokan calonnya. Masalah yang paling krusial adalah jika sang calon dan pendukungnya saling memfitnah. Di beberapa tempat terlihat gambar sang calon dicoreti dan disobek. Siapa yang melakukannya tidak jelas. Namun, situasi dan kondisi seperti itu dapat menunjukkan kekurang-dewasaan kita dalam berpolitik dan kekurang-mampuan kita mengapresiasi kompetisi yang sehat. Menyikapi keadaan yang berkembang, sebagian orang resah dan berpikir agar kita kembali ke sistem pilkada yang lama, kepala daerah dipilih oleh anggota legislatif. Keresahan ini dapat dipahami sebab sebagian rakyat menghendaki agar keharmonisan keluarga dan masyarakat yang sudah terbina selama ini tidak dikacau-balaukan oleh kepentingan-kepentingan tertentu dalam pilkada.  Namun, dengan meneropong jauh ke depan, kita tidak perlu buru-buru mengambil keputusan untuk membatalkan sistem pemilihan langsung yang sudah dilaksanakan sejak beberapa tahun lalu. Kita harus maju terus dan tidak perlu mundur. Kita yakin bahwa sistem demokrasi akan semakin berlangsung dengan baik dan rakyat akan semakin dewasa dalam mempergunakan hak-hak politiknya. Ini memang membutuhkan waktu dan kerja keras. Negara-negara yang sudah lebih dahulu menerapkan demokrasi pun pasti mengalami rentang waktu yang cukup lama sehingga rakyatnya memahami makna demokrasi.

            Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita renungkan bersama sebelum memasuki pelaksanaan pilkada, yakni:

  1. Semua rakyat yang sudah mempunyai hak pilih mempergunakannya dengan baik sebagai warga Negara yang turut bertanggungjawab untuk masa depan bersama. Memilih seseorang sesuai dengan hati nurani yang diharapkan membawa kemajuan dan kesejahteraan bersama merupakan bagian dari pertanggungjawaban iman.
  2. Kita semua perlu menjauhkan diri dari sifat dan sikap saling memfitnah, menjelek-jelekkan apalagi memusuhi orang lain yang berbeda pilihannya dengan kita. Kita adalah warga Negara yang memiliki agama (iman), pada dasarnya tidak ada agama yang mengajarkan agar umat saling memfitnah. Dalam proses menuju pemilihan wajar jika sang calon dan para pendukungnya berupaya untuk menang. Tidak seorang pun calon kepala daerah yang maju ke arena pemilihan mengharapkan kekalahan. Tetapi untuk menjadi pemenang tidak perlu meninggalkan luka mendalam di tengah-tengah masyarakat. Seluruh warga masyarakat kita merupakan saudara, oleh sebab itu kerukunan dan keharmonisan perlu dijaga. Mengakui dengan jujur keunggulan orang lain juga merupakan bagian dari moral serta kehidupan religius yang harus dimiliki oleh setiap orang.
  3. Nepotisme, kawanisme, kelompokisme, margaisme, sektarianisme dapat menutup mata kita kepada tugas besar yang harus dilakukan di depan. Barangkali, sudah waktunya diadakan suatu dialog terbuka antara pemimpin jemaat (pimpinan agama-agama) dengan calon pimpinan daerah tentang visi dan misinya masing-masing. Dialog dimaksud bukan hanya sekedar pertemuan sillaturrahmi, tetapi suatu dialog yang bermuara kepada komitmen pembangunan masyarakat dengan sanksi-sanksi bersedia mundur dari jabatannya. Kita perlu belajar dari para pemimpin di Negara-negara maju yang bersedia meletakkan jabatannya jika mereka gagal memenuhi janjinya. Kesejahteraan masyarakat, peningkatan mutu pendidikan harus menjadi pusat perhatian dan program terdepan dari pemerintah daerah. Sebagian besar dari masyarakat masih dililit oleh kemiskinan, sebagian sebagai akibat dari rendahnya tingkat (mutu) pendidikan.
  4. Untuk mencapai kedewasaan berdemokrasi ke depan, lembaga-lembaga pemerintah yang terkait dengan masyarakat akar rumput bersama-sama dengan lembaga-lembaga agama serta lembaga swadaya masyarakar dapat saling bahu membahu melakukan pendidikan politik kepada rakyat. Rakyat yang dewasa dalam memahami hak-hak politiknya akan mampu menentukan pilihannya tanpa dipaksa oleh siapa pun dan tanpa dipengaruhi oleh kepentingan sesaat. Sudah saatnya para pimpinan daerah membuat program pendidikan politik bagi masyarakatnya. Ini seharusnya menjadi perhatian serius pasca pemilihan kepala daerah.  
  5. Para pemimpin agama memiliki peran strategis dalam proses pilkada yang akan datang. Pimpinan umat harus lebih maksimal memberi penyadaran politik kepada umat sehingga tidak mudah terbawa kepada kepiawian para juru kampanye. Ini memang tidak mudah, tetapi sudah saatnya dimulai. Tentu ada aspek di mana para pimpinan agama dapat menyuarakan aspirasi politiknya (bukan politik praktis) yaitu politik kepentingan bersama dan kesejahteraan umat. Pimpinan agama seharusnya semakin melek terhadap politik. Pelayanan agama merupakan pelayanan holistik, menyangkut kehidupan seutuhnya dari manusia. Umat membutuhkan kehidupan spiritual, tetapi kekayaan spiritual membimbing manusia untuk mampu berkarya meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, kita tidak boleh terjebak dalam penggiringan pelayanan hanya di dalam ruang gedung gereja. Gereja harus nampak di dalam kehidupan sehari-hari dari anggota jemaat. Hal yang sangat penting diperhatikan, para pemimpin agama tidak perlu memojokkan atau menjelek-jelekkan seseorang dan pada sisi lain menyanjung yang lain. Mereka harus mampu berpikir secara obyektif, menyatakan kebenaran dan kejujuran. 

 

Catatan Penutup

 

Selama sang calon masih dalam taraf obral sana obral sini, janji sana janji sini, barangkali belum sangat memprihatinkan. Setiap calon akan berupaya menarik perhatian orang dengan menyampaikan visi dan misinya masing-masing dan berupaya meyakinkan masyarakat tentang aksi yang akan dilakukan jika terpilih. Agar menarik, visi dan misi yang mengagumkan harus dirumuskan. Terukur atau tidak terukur nanti dulu. Tetapi proses pendidikan demokrasi akan menjadi tumpul jika suara rakyat dibeli dengan uang. Berhubung sebagian besar rakyat masih miskin, uang menjadi sangat penting bagi mereka tanpa harus berpikir panjang siapa yang akan terpilih, mampu atau tidak mampu memperjuangkan kepentingan rakyat ke depan. Maka sebagian mereka akan mengatakan, siapa yang memberi lebih besar, itu yang akan dipilih. Sekalipun sebagian orang masih memiliki sikap yang tidak mau terpengaruh oleh uang, namun tidak dapat dipungkiri bahwa uang sudah turut berperan besar dalam proses pilkada kita.

 

Saat ini kita membutuhkan pemimpin yang benar-benar memikirkan kesejahteraan rakyat. Entah pimpinan daerah itu adalah pimpinan yang lama yang meneruskan perjuangannya untuk membangun masyarakat, atau pemimpin yang baru muncul, bukan merupakan persoalan utama. Bagi kita, yang diperlukan adalah keseriusan memikirkan dan mengupayakan kesejahteraan seluruh rakyat. Mampukah para calon yang sedang berkompetisi memiliki komitmen seperti itu dan sungguh-sungguh melaksanakannya jika terpilih, mari kita tunggu. Semoga Tuhan memberkati mereka.

 

*****************************************

 

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: