Posted by: Jamilin Sirait | June 3, 2010

Meretas Frontiers Teologi


Studium Generale Program Pascasarja

MERETAS FRONTIERS TEOLOGI AGAMA-AGAMA

DI DALAM  KONTEKS PLURALISME

(Oleh: Pdt.Dr.Jamilin Sirait)

Pengantar

Teologi agama-agama (kadang-kadang disebut juga teologi religionum) merupakan subyek baru dalam bidang kajian teologi. Berhubung kemajemukan semakin mewarnai kehidupan masyarakat (termasuk di Barat) subyek ini menjadi kajian penting terutama di kalangan akademisi (para teolog). Metode yang dikembangkan adalah deskriptif, menjelaskan pemahaman atau pokok-pokok pikiran tentang tema-tema tertentu di dalam agama yang diteliti dan merefleksikannya kepada teologi sendiri. Dengan cara itu diharapkan para peneliti (teolog) ditantang agar semakin mendalami pokok-pokok penting dari agamanya sendiri dan pada akhirnya akan menajamkan penghayatan  imannya. Teologi agama-agama bukan merupakan jerat atau perangkat untuk menangkap orang-orang berbeda agama dengan tujuan proselitisasi. Tujuannya juga bukan menyuntikkan serum baru dari pihak kita agar kadar pemahamannya semakin tercampur, tetapi justeru sebaliknya, mendorong mereka melakukan kajian-kajian kritis kepada teologinya sendiri. Para teolog yang berkecimpung di bidang ini didorong (bahkan mungkin dipaksa) untuk mengkaji ulang teologinya sendiri. Mereka harus mendalami teologi agamanya sendiri. Tanpa itu, dia tidak mampu melakukan pemikiran-pemikiran kritis, mungkin saja menjadi bingung atau salah satu akibat lainnya adalah terdorong masuk  ke pemahaman fundamentalis. Dengan demikian, prasangka bahwa para teolog ini kurang mendalami teologinya atau hanya tahu tentang agama lain merupakan streotipe yang keliru. Subyek ini sangat perlu menantang proses berteologi kita, apalagi jika disadari bahwa kita berada di tengah-tengah masyarakat plural.

          Menyikapi pluralisme atau kehadiran agama-agama, umat Kristen memberi respon yang berbeda: Pertama, mereka yang memilih memisahkan diri, menutup pintunya dan asyik berkutat dengan dogmanya sendiri; Kedua, melakukan reconquista, menaklukkan umat beragama lain dengan cara halus ataupun kasar; dan ketiga, sikap terbuka pada dialog dengan dasar pemikiran bahwa pengalaman bersama-sama dengan orang lain memperkaya keyakinannya sendiri.[1]

Perkembangan Studi Agama-agama

Bertahun-tahun studi agama-agama tidak menarik perhatian atau bahkan ditolak karena dianggap dapat melemahkan keyakinan umat sebab sebagai suatu studi ilmiah diperkirakan juga dapat mendistorsi perasaan batin. Bagi kelompok ini studi agama-agama tidak penting. Tetapi studi yang dilakukan Max Muller di India melalui karyanya Introduction to the Science of Religion yang dia introduksi di hadapan kelompok intelektual Inggeris pada tahun 1873 menarik perhatian banyak orang. Dengan karya berikutnya Lectures on the Origin and Growth of Religion, as Illustrated by Religions of India, pada tahun 1878 maka minat untuk ikut ambil bagian mengadakan penelitian di kalangan para ahli semakin meningkat. Pendekatan Max Muller dari sudut filologi (ilmu bahasa) merupakan hal baru. Sebelumnya, agama-agama besar dunia didekati hanya untuk kepentingan misi Kristen (atau mungkin juga kepentingan kolonialisme).[2]

Keberhasilan  Max Muller meneliti agama Hindu di India telah mendorong para peneliti lainnya, termasuk mereka yang meneliti perkembangan Islam di Timur Tengah, Afrika dan Asia. Maka muncullah sejumlah nama yang memberikan waktu dan perhatian sepenuhnya meneliti agama-agama di Timur dengan cara pendekatan filologi, sejarah agama, fenomenologi agama, ilmu perbandingan agama, misalnya: Edmund Hardy (1898), Cornelis P. Tiele (+1902), G. van der Leeuw (+1950), Louis Massignon (+1958), Gustave von Grunebaum (+1946). Semangat untuk mengenal agama-agama itu secara dekat ditandai dengan upaya para peniliti hidup di tengah-tengah komunitas bersangkutan dan merasakan kehidupan mereka. Dengan demikian, mereka tidak menilai agama-agama itu dari jauh tetapi berupaya sungguh-sungguh untuk merasakannya.

Untuk membantu mereka melakukan penelitian itu, budaya (termasuk bahasa) dipelajari dengan seksama, meneliti benda-benda kuno dan bahasa-bahasa kuno yang tidak dipergunakan lagi pada abad ini.  Metode atau cara yang dikembangkan sangat menolong untuk membuka secara luas teologi agama-agama itu. Sekalipun penghayatan mereka  tidak sama para ahli telah berhasil membuka selubung yang selama ini tertutup.  Selain itu, hasil-hasil penelitian itu telah mendorong para peneliti dari negeri Timur untuk melakukan hal yang sama sehingga munculllah nama-nama seperti J. Takasusu dari Jepang, S.Radhakrisnan di India, dan sebagainya. Para ahli di bidang ini terus menerus bertambah, baik dari kalangan teolog Kristen, Islam, Hindu, Budha dan agama-agama lainnya. Lebih menarik lagi, bukan hanya agama-agama besar dunia yang diteliti tetapi juga agama-agama suku di Asia dan Afrika.  

Sebagaimana biasa dalam khazanah perkembangan ilmu pengetahuan, dialog dan kritik antar sesama disiplin ilmu sering terjadi. Hal seperti itu terjadi juga di dalam studi agama-agama. Para pemikir dalam filsafat agama melontarkan kritik kepada para ahli sejarah agama-agama:[3]

Pertama, para ahli filsafat agama menganggap bahwa para ahli sejarah agama-agama haruslah memberi perhatian kepada filsafat agama. Sejarah agama-agama hanya berguna jika ditujukan untuk mengembangkan filsafat agama yang mentransendensikan elemen-elemen regional dan subyektif dari semua system keagamaan. Harus ditemukan suatu agama primordial yang mendasari semua agama sehingga dapat mencari relasi suatu agama dengan agama lain menuju suatu kebenaran absolute;

Kedua, agar para ahli sejarah agama memfokuskan diri kepada aspek-aspek agama yang historis fenomenologis dan institusional dengan bantuan para antropolog, sosiolog dan filolog;

Ketiga, para ahli sejarah tidak cukup serius menangani elemen-elemen subyektif agama-agama, mereka hanya mengitarinya tanpa pernah merasakan kehidupan dari orang-orang yang beragama itu, sebab tidak ada percakapan dengan mereka;

Keempat, para ahli sejarah agama terlalu dikondisikan subyektivitas dari latarbelakang budaya dan agamanya sendiri.

Oleh sebab itu menurut Joachim Wach pengajaran sejarah agama harus: a) integral, b) kompeten, c) terkait dengan persoalan eksistensial, d) selektif, e) seimbang, f) legitimatif, g) disesuakan dengan pengajaran masing-masing.[4] Seanjutnya,  Hendrik Kraemer mengatakan, ilmu sejarah agama-agama harus dibantu teologi.[5]

Kritik seperti ini bisa saja terjadi. Namun menurut pemikiran saya, kritik seperti itu muncul karena pemahaman yang berbeda terhadap arti sejarah. Ahli sejarah agama-agama pun dapat melakukan kritik kepada para peneliti di bidang fenomenologi agama. Bagi sebagian orang, sejarah lebih berpusat pada tarikh atau tahun-tahun peristiwa. Padahal, harus diakui secara jujur sejarah juga membutuhkan interpretasi. Jika kita melakukan studi terhadap sejarah perkembangan Islam, kita tidak hanya sekedar mengenal atau menghapal tahun-tahun tetapi juga melakukan interpretasi terhadap peristiwa, bahasa, simbol-simbol, yang dapat memperjelas sejarah itu. Para  ahli sejarah agama mengatakan bahwa ada tiga sifat fundamental yang mendasari disiplin sejarah agama-agama, yakni: a) pemahaman simpatik terhadap agama selain agamanya sendiri, b) sikap kritis diri atau skeptis terhadap latarbelakang keagamaannya, c) karakter ilmiah.

          Dengan kata lain, studi agama-agama yang dilakukan dengan berbagai cara atau metode merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan teologi agama-agama di kemudian hari. Walaupun teologi yang dikembangkan lebih bercorak Barat, tetapi harus kita akui bahwa para teolog di Timur belum mampu melakukan hal yang sama. Karya  Paul F. Knitter, No Other Name?, Jesus and Other Names: Christian Mission  and Global Responsibility, Olaf Schumann, Pemikiran Keagamaan dalam Tantangan dan , Menghadapi Tantangan, Memperjuangkan Kerukunan.                             

Teologi Agama-agama Sebagai Mata kuliah Baru

Kesepuluh cabang Ilmu Agama yang dituliskan oleh J.A.B.Jongeneel, Ilmu Agama dan Telogi Kristen (Arkeologi Agama, Filologi Agama, Geografi Agama, Sosiologi Agama, Statistik Agama, Psikologi Agama, Pedagogi Agama, Fenomenologi Agama, Filsafat Agama) menjadi alat pembantu penting untuk melakukan pendekatan kepada teologi agama-agama. Barangkali pada awalnya, penelitian bersangkut paut dengan cabang-cabang di atas lebih berorientasi kepada studi ilmiah semata-mata. Tetapi seiring dengan perubahan yang terjadi sejak pasca perang dunia kedua, maka terjadi pula kesadaran baru tentang agama-agama Timur (awalnya para peneliti berasal dari Barat).  Kesadaran tentang kenyataan pluralitas keagamaan telah mendorong para teolog untuk meneliti dan mempelajari teologi agama-agama lain. Istilah pluralisme agama menjadi kata kunci penting dalam menentukan sikap dan posisi kepada teologi agama-agama yang berbeda.

Setelah Teologi diterima secara formal menjadi salah satu ilmu setara dengan ilmu-ilmu lainnya di Indonesia melalui SK Mendikbud No. 0359/U/1996 tanggal 24 Desember 1996, maka ditetapkan Kurikulum Nasional (Kurnas) untuk bidang Ilmu Teologi. Ada beberapa mata kuliah baru yang sebelumnya tidak (belum) dimasukkan dalam Kurikulum, antara lain: Teologi dan Komunikasi, Teologi Sosial, Teologi Agama-agama. Selain itu, beberapa mata kuliah lainnya berubah nama.              

Di dalam Kurikulum Nasional yang diterbitkan Persetia tahun 1997, deskripsi teologi agama-agama yang bobotnya 3 sks adalah: mempelajari penganalan diri dari agama-agama lain dan merumuskan tempat mereka di dalam teologi Kristen di dalam rangka pluralisme keagamaan. Kemudian deskripsi ini diperjelas pada tahun 2003 dengan menambahkan kompetensi yang akan dicapai dan substansi mata kuliah itu, sebagai berikut: Mempelajari pengenalan diri agama-agama lain sebagaimana adanya dan dapat merumuskan tempat mereka di dalam teologi Kristen dalam rangka pemahaman pluralitas keagamaan; Kompentensi: Supaya mahasiswa mampu melihat adanya interaksi antar agama sebagai fenomena kehidupan social; Substansi: (1) Teologi Kristen dapat mengembangkan paradigma baru dalam upaya relasi antar agama, (2). Membangun sikap bertanggungjawab, dialogis, fungsional dan transformatif.

Berdasarkan deskripsi yang dibuat Persetia, STT HKBP dalam buku Panduan yang diterbitkan tahun 2000 membuat deskripsi, sebagai berikut: Kajian dan pembahasan tentang ajaran dan teologi agama-agama berkaitan dengan aspek-aspek yang dapat menjadi pokok-pokok penting untuk dialog, mencari titik temu agama-agama dalam rangka memberdayakan masyarakat. Untuk itu akan dibahas pokok-pokok yang relevan dengan kehidupan bermasyarakat secara bersama-sama, antara lain: manusia, kesejahteraan dan keselamatan, masyarakat dan Negara dari semua agama yang diakui di Indonesia. Kemudian pada bagian akhir akan dikembangkan analisis dari titik pandang teologi Kristen.

Menurut pemikiran saya, deskripsi yang dibuat oleh Persetia dengan yang dibuat STT HKBP. Mungkin di belakang otak team perumus deskripsi itu kompetensi akhir yang akan dicapai sama (istilah ini menjadi sangat penting pada dunia pendidikan tinggi di Indonesia sekarang), tetapi substansi  tidak begitu jelas dirumuskan. Persetia membuat istilah: “mempelajari pengenalan diri agama-agama lain”, sementara STT membuat rumusan langsung kepada materinya yaitu “kajian  dan pembahasan ajaran dan teologi agama-agama”. Apa yang harus kita kaji dan dari mana kita mulai  untuk mengenal teologi agama-agama lain, menjadi suatu pertanyaan besar. Substansi ajaran atau teologi suatu agama itu sangat luas. Para pemikir yang berasal dari suatu agama pun belum tentu sepaham tentang sesuatu pokok teologi. Perbedaan pandangan teologi itu merupakan hal yang lajim, tergantung bagaimana pendekatan terhadap suatu permasalahan teologis. Belum lagi kita berbicara tentang kelompok-kelompok yang terdapat dalam agama-agama (semua agama). Landasan teologi dari suatu agama yang diterima secara universal oleh para teolog serta penganutnya merupakan hal yang lajim. Misalnya, semua orang Kristen (dari kelompok mana pun) mengakui dan mempercayai Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat dunia.  Tetapi ketika kita menafsirkan beberapa peristiwa yang dilaporkan dalam Injil tentang pengalaman dan kehidupan Yesus maka akan muncul perbedaan tafsir.  Peristiwa pembaptisan Yesus di sungai Yordan, percakapan dengan Nikodemus tentang hidup baru, pengutusan, bahasa lidah, dan sebagainya  akan dipahami dan dijelaskan secara berbeda oleh kelompok-kelompok Kristen, antara teolog dari gereja mainstream dan kelompok Injili. Demikian juga dalam Islam.  Semua umat dan kelompok Islam mengakui Muhammad sebagai Rasul Allah dan al-Qur’an sebagai wahyu Allah, sumber utama hukum Islam. Tetapi ketika mereka berbicara tentang sumber hukum kedua, yaitu Hadits, tentang pewarisan kepemimpinan para khalifah, tentang ijma, perkawinan, hubungan dengan non-Muslim maka akan terdapat perbedaan tafsir di antara Sunni dan Syiah, Ahmadiyah. Bahkan di antara kelompok-kelompok yang tergabung dalam  Syi’ah pun terdapat perbedaan tafsir. Jika agama-agama besar dunia lainnya diteliti, maka fenomena yang sama akan nampak.

Berhubung ruang lingkup teologi agama-agama itu sangat luas, mustahillah semua permasalahan teologi diteliti dan dijelaskan. Barangkali lebih tepat jika kita katakana, teologi agama-agama (“hanya”)memberi perhatian utama kepada pokok-pokok teologi prinsipil yang dapat dipergunakan sebagai landasan kebersamaan dari agama-agama. Teologi agama-agama bukan merupakan suatu upaya mencari dan merumuskan suatu teologi universal yang dapat diterima semua umat. Jika Hans Kung pernah mengusulkan suatu “etika universal” menurut pemikiran saya, etika yang dimaksud bukanlah etika dari suatu agama tertentu. Itu tidak mungkin. Tetapi etika universal adalah etika yang dapat diterima semua orang dan tidak menimbulkan permasalahan baru dipandang dari sudut teologi agama-agama. Misalnya, etika tentang tanggungjawab manusia memelihara alam semesta atau lingkungan hidup. Semua agama dapat menerima bahwa manusialah, bukan makhluk lain,  yang pertama-tama bertanggungjawab untuk memelihara alam.

Teologi agama-agama tidak menjadi suatu arena diskusi ilmiah untuk mengeliminasi perbedaan teologi, atau untuk membuang semua pandangan-pandangan teologi yang tidak cocok dengan teologi kita sendiri. Pandangan para teolog atau pemikir dan kelompok-kelompok berbeda dari suatu agama pun tidak mungkin dijadikan satu. Pandangan kelompok mainstream tentang pembaptisan anak-anak sangat sulit diterima oleh kelompok Baptis yang hanya mengakui pembaptisan dewasa.

Pandangan teolog Sunni tentang tradisi pewarisan jabatan kepemimpinan di dalam suku bangsa Arab sehingga pengangkatan (bayat) Abu Bakr sebagai khalifah pertama tidak perlu dipermasalahkan. Sebaliknya, kelompok Syi’ah mempunyai pandangan berbeda sehingga bagi mereka, Khalifah Ali, menantu Nabi Muhammad-lah yang harus memimpin komunitas Islam setelah Nabi meninggal, bukan Abu Bakr. Bagaimana pun pandangan yang berbeda ini sulit dipersatukan (atau barangkali tidak mungkin). Dengan demikian, teologi agama-agama merupakan suatu upaya pendekatan melalui kajian teologis dari agama-agama besar dunia (Islam, Hindu, Budha, Konfusius) sebagaimana adanya (obyektif).

Pendekatan yang semakin mengarah kepada objektivitas dapat dilakukan dengan adanya sumber-sumber yang dihasilkan oleh para pemikir dari penganut agama-agama itu sendiri. Berbeda dengan abad ke-19 sampai pertengahan abad lalu, para peniliti berasal dari Barat, sebagaimana disebutkan di atas akhir-akhir ini semakin banyak para peniliti dari Timur (dari penganut agama itu sendiri).  Sumber-sumber asli itu sangat penting, sebab agama bukan semata-mata kajian ilmiah saja (dengan metodologi yang kita kenal) tetapi agama harus diterima, dihayati dan ditunjukkan dengan aksi dalam hidup seseorang.

Teologi agama-agama merupakan refleksi teologis terhadap pluralisme itu. Suka atau tidak suka, pluralisme merupakan tantangan baru bagi agama-agama yang harus disikapi. Menurut Sumartana ada perbedaan signifikan antara pluralisme dahulu dengan sekarang. Menurut dia, “pluralisme masa lampau menuntut suatu respon kerukunan, ko-eksistensi, dan keserasian hidup dari kelompok-kelompok agama di masyarakat. Corak kepelbagaian itu bersifat pasip, kalau kita mendatanginya baru kita mengalaminya. Akan tetapi  pluralisme sekarang ini bersifat sangat, kalau kita tidak memperdulikannya maka kita akan digilasnya. Pluralisme sekarang terjadi karena tiap-tiap kelompok sudah mengalami proses emansipasi sehingga setiap bagian itu sudah melakukan emansipasi bersama dan tampil bersama setara.”[6] Secara kuantitatif pluralisme agama sekarang ini semakin kompleks sebab di dalam intern suatu agama pun pluralisme semakin menonjol.  

Meretas Frontiers teologi agama-agama.

Untuk memahami apa yang akan didiskusikan dalam bagian ini, maka terlebi dahulu kita menjelaskan dua kata kunci yaitu meretas dan frontiers. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata meretas mempunyai arti yang sangat luas, yakni: a). memutuskan benang-benang pada jahitannya, b). Membuka (surat) dengan pisau, c). membedah atau membelah kulit (karung, dan sebagainya), d). Menebangi pohon-pohon untuk membuat jalan, merintis, merentas, e). menembus dengan merusak dingding, dan sebagainya. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, frontier diterjemahkan: (1) part of a country bordering on another country; (land on each side of a) boundary, (2) extreme limit.

Dengan demikian, meretas frontiers berarti menembus penghalang, penghambat terhadap studi teologi agama-agama.  Jika penghambat, penghalang dsb dibiarkan akibatnya, kebekuan, kekakuan, kecurigaan, sentiment, perselisihan dan permusuhan antar denominasi, antar agama akan terus berlanjut. Tidak dapat dipungkiri banyak penghalang yang membuat kita tidak serius memasuki bidang teologi agama-agama ini. Penghambat itu bisa saja internal, dari dalam diri kita sendiri berupa: pandangan-pandangan teologis kita sendiri, pengalaman keagamaan kita sendiri, pendidikan teologi yang kita terima, lingkungan di mana kita bertumbuh dalam pengalaman keagamaan kita. Namun rintangan itu bisa juga secara eksternal berupa peraturan-peraturan atau undang-undang yang terdapat dalam suatu Negara, wilayah atau daerah, hukum agama-agama, penafsiran yang terlalu kaku, kecurigaan dan sebagainya. Maka agar lebih jelas, kita akan mencoba melakukan eksplorasi terhadap beberapa frontiers yang sangat mengganggu kepada kemajuan proses teologi agama-agama, yakni:

  1. Beban sejarah pada masa lampau yang tidak (belum) pernah didiskusikan secara terbuka. Perselisihan antar kelompok dalam suatu agama atau antar agama (teologis dan non-teologis) sering menyisakan  sakit hati yang mendalam dan belum nampak upaya maksimal untuk melupakannya. Belum ada upaya serius bersama untuk melakukan studi terhadap peristiwa sejarah itu untuk mengeliminasi atau setidak-tidaknya mengurangi rasa sakit itu. Kita ambil contoh: hubungan antara Islam dan Kristen dipengaruhi oleh sentiment perang Salib dan penjajahan Barat kepada negeri-negeri di Timur.  Padahal jika diadakan studi bersama tentang kedua peristiwa sejarah ini akan ditemukan poin-poin yang dapat meringankan kita dari beban sejarah itu. Perang salib bukanlah perang antar agama, tetapi didasari oleh masalah politik. Perang salib juga perlu dilihat dari sejarah ekspansi Islam ke Eropah. Sayangnya, para raja Kristen di Eropah mempergunakan symbol salib sehingga perang itu seolah-olah perang agama. Demikian juga hubungan Katolik dengan Protestan (Lutheran khususnya) sangat dipengaruhi oleh perseteruan Luther dengan Paus bersama Uskup Roma Katolik pada waktu itu. Anehnya, umat Lutheran sering menganggap bahwa ucapan, pikiran, penafsiran daripada Martin Luther-lah satu-satunya kebenaran, bahkan kadang-kadang tanpa berupaya melakukan tafsiran sendiri terhadap Alkitab. Sebaliknya, semua pandangan Katolik ditolak tanpa pernah mengkritisinya lebih mendalam. Bagi anggota Lutheran selama ini, pandangan atau ajaran Katolik harus diwaspadai.  Katolik juga memiliki prinsip yang tidak jauh berbeda. Lama sekali Lutheran bermusuhan dengan Roma Katolik dan mengucilkan anggotanya yang menikah dengan Katolik. Kita mulai bernafas lega atas penanda-tanganan dokumen Justification by Faith oleh pihak Katolik dan Protestan pada tahun 1999 yang lalu. Tetapi sampai sekarang kesepakatan itu belum berdampak luas. Beban sejarah masa lalu masih terus membayang.
  2. Pendekatan kepada teks-teks Kitab Suci secara literaris saja, menerima kata demi kata ayat demi ayat yang terdapat dalam Kitab Suci, tidak meragukannya, menerima seluruh ayat itu sebagai wahyu Tuhan,  sehingga penafsiran dengan mempergunakan metodologi kontekstual dianggap berbahaya dan mendistorsi kemurnian ajaran agama itu. Pada umumnya, kelompok yang menganut metode ini bersemangat eksklusif dan menganggap semua kelompok lainnya sebagai “tidak kawan” atau barangkali musuh yang harus ditundukkan. Secara umum kelompok ini dinamai dengan “Fundamentalisme” (walaupun banyak dari tokoh pemikir Islam tidak menerima nama itu dikaitkan dengan Islam). Menjadi persoalan besar jika pendekatan literaris itu menghasilkan esktrimisme agama. Fenomena ini semakin nampak dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.
  3. Pendekatan inklusivisme. Kita mengakui bahwa pendekatan inklusivisme merupakan langkah maju untuk melawan eksklusivisme. Eksklusivisme berarti menolak semua ajaran agama lain, menempatkannya jauh lebih buruk di bawah kebenaran agama sendiri. Seperti dijelaskan di atas, sikap eksklusif merupakan hasil pendekatan literaris. Tetapi inklusivisme itu juga belum menggambarkan penghargaan dan penghormatan yang sesungguhnya kepada teologi agama lain. Dengan sifat inklusif kebenaran dalam teologi agama-agama lain diterima tetapi di bawah ukuran kebenaran teologi kita sendiri. Jadi ukuran atau normanya ditentukan oleh teologi sendiri. Artinya, walaupun sudah ada langkah maju dengan pendekatan ini, oleh sebab kejujuran yang sesungguhnya belum menjadi jiwa atau inti daripada inklusivisme, masih mungkin terjadi sikap mendua (kekhawatiran) untuk mendekati teologi agama-agama lain.
  4. Kepentingan politik pemimpin agama dan penguasa politik. Harus diakui kepentingan para pemimpin politik dapat menjadi pendorong bagi perkembangan agama. Kekristenan pada beberapa abad lalu berkembang secara pesat ketika penguasa menjadikan Kristen menjadi agama resmi Negara dan mendukung para pemimpin agama. Pada sisi lain, ketika kepentingan politik para pemimpin agama berbenturan dengan kepentingan politik penguasa, maka kemungkinan terjadi stagnasi menjadi suatu ancaman. Ketika pemimpin politik dan pemimpin agama juga bersepakat untuk menjadikan agama sebagai alat mencapai tujuan tertentu maka peraturan-peraturan yang menyangkut masalah agama dapat mempersulit pendekatan terhadap teologi agama-agama itu. Fenemona seperti itu jelas terlihat di tengah-tengah masyarakat dan Negara Indonesia. Pemerintah ingin mempergunakan kelompok mayoritas mencapai tujuan politik. Pada sisi lain, para pemimpin agama mencari kesempatan untuk memperoleh keuntungan-keuntungan dari kepentingan penguasa itu. Perda-perda berbasis Syariah misalnya jelas menjadi pertanda adanya pertemuan kepentingan dari pemimpin agama (“mayoritas”) dengan pemerintah setempat.
  5. Masih ada banyak permasalahan teologis dan non-teologis yang menjadi penghalang bagi upaya pendekatan agama-agama melalui teologi agama (Kita daftarkan sesuai dengan konteks di mana kita berada dan melayani).

Bagaimana kita meretas frontiers itu? Apa yang harus dilakukan oleh para teolog Kristen? Menurut pemikiran saya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain:

  1. Mengakui pluralisme sebagai suatu kenyataan yang tidak mungkin dipungkiri. Suka atau tidak suka pluralitas dalam berbagai bidang akan berkembang. Oleh sebab itu perlu dirumuskan pendekatan teologi yang tepat menghadapi pluralitas itu. Harus ditegaskan, teologi yang dirumuskan menjawab pluralisme bukanlah teologi sinkritisme atau “teologi takutisme” tetapi teologi yang mampu mengidentifikasi peran teologi Kristen di dalam perubahan dan perkembangan yang sedang dan akan terjadi.
  2. Menghargai teologi agama-agama lain sebagaimana adanya, bukan mensubordinasinya di bawah teologi Kristen. Kebenaran dan kekuatan teologi kita tidak perlu dibuktikan melalui dukungan teologi agama-agama lain. Di dalam dirinya setiap teologi memiliki kebenaran tanpa harus mendapat legitimasi dari teologi agama lainnya. Menghargai teologi agama-agama lain bukan meniadakan keunikan teologi sendiri. Teologi suatu agama memiliki keunikan dan universalitas sekaligus di dalam dirinya[7].
  3. Melakukan dialog dengan tema yang lebih mendukung kepada kemaslahatan bersama umat manusia. Teologi kita selama ini yang lebih bersifat antitetis, polemis dan apologetis perlu dirubah menjadi teologi dialogis. Teologi agama-agama harus bermuara kepada dua arah yakni dialog dan kolaborasi antar umat beragama untuk kepentingan bersama. Dialog dapat dijalankan dalam tiga bentuk: (1) Percakapan  pada dataran berbagi pengalaman kontemplatif, (2) Percakapam rasional pada dataran etika dan aksi, (3) Pembicaraan rasional pada dataran teologis yang membutuhkan langkah-langkah lebih konkrit melalui pemahaman yang kritis terhadap tradisinya sendiri dan tradisi agama lain, dialog batiniah intra-religius.

Agama-agama memberi perhatian kepada kepentingan manusia. Agama lahir sebagai wujud pengakuan dari manusia. Apa pun istilah yang dipergunakan dalam bahasa agama-agama tentang manusia: “segambar dengan Allah”, “khalifah Allah”, “atman” dan sebagainya, semuanya menunjuk kepada keutamaan manusia itu. Setuju dengan pemikiran Magnis Suseno, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi pusat pemikiran dan perhatian berkaitan dengan kebutuhan manusia secara umum (tanpa membeda-bedakan agama) sesuai  dengan perubahan dari paradigma “orang kita-orang asing” ke paradigma “martabat manusia universal”, yaitu:  pengakuan terhadap otonomi dan kesamaan semua orang sebagai manusia; hormat terhadap hak-hak azasi; penghapusan hukuman yang brutal; larangan terhadap penyiksaan; kebebasan berpikir dan beragama; toleransi agama; demokrasi; keadilan social; solidaritas nasional dan internasional; perlindungan terhadap mereka yang lemah; jaminan hak para minoritas; negara hukum; sistem peradilan yang tidak berpihak; perlindungan hokum universal; prinsip non-diskriminasi; pengakuan martabat semua orang  tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, agama, warna kulit, kebudayaan, kedudukan social dan sebagainya.[8]

 Penutup

Dengan penjelasan di atas, maka jelaslah teologi agama-agama menjadi satu subyek penting dalam masyarakat dunia dewasa ini. Berhubung agama merupakan hak dan urusan paling pribadi bagi manusia (sekaligus berpengaruh menyangkut identitas) maka teologi agama-agama-lah yang dianggap mampu membangun jembatan hubungan antar manusia.

.


[1] Martin L.Sinaga, “Pendahuluan: Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia: Theologia Religionum” dalam Tim Balitbang (peny.), Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000, hal. 4

[2] Studi Snouck Hurgoronje di Aceh adalah untuk kepentingan colonial Belanda.

[3] J.M.Kitagawa, “Sejarah Agama-agama di Amerika”, dalam Ahmad Norma Permata, (ed.), Metodologi Studi Agama-agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, hal. 113f.

[4] Dikutip oleh  J.M.Kitagawa, ibid, hal. 119.

[5] Ibid

[6] Th. Sumartana, “Theologia Religionum” dalam Tim Balitbang (ed),  Meretas…., hal. 18f.

[7] Buku F.Knitter, No Other Name dan Menggugat Arogansi Kekristenan, menjadi bahan bacaan yang perlu dibaca secara kritis.

[8] Franz Magnis Suseno, “Bisakah Agama-agama Terbuka Satu Sama lain,” dalam Tim Balitbang PGI (ed.), Meretas…., hal. 53.  Band, Olaf Schumann, Pemikiran Keagaman dalam Tantangan, hal. 297ff.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: