Posted by: Jamilin Sirait | June 3, 2010

Spiritualitas


LPP I CaPen, Cagur, CaBiv, CaDik HKBP

Tanggal 26 April – 16 Mei 2009

SPIRITUALITAS 

 

Pendahuluan

            Kita berada pada dunia dan masyarakat yang berubah dan berkembang dengan pesat sebagai akibat dari perkembangan dan kemajuan teknologi modern, khususnya di bidang informatika. Hampir semua pelosok dunia sudah disentuh oleh moderninasi terutama melalui jaringan radio dan televisi. Sikap dan penerimaan manusia terhadap informasi yang mereka lihat dan peroleh melalui televisi itu sangat beragam. Pada umumnya, masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan rendah menerima informasi itu tanpa sikap kritis, sehingga pengaruhnya dapat membentuk perilaku baru, yang belum tentu berguna untuk dirinya sendiri. Lihat saja misalnya pengaruh dari iklan melalui televisi yang begitu mudah merubah perilaku masyarakat dari keadaan sabar menjadi masyarakat konsumeris. Pada sisi lain para pemilik modal terus menerus mengadakan inovasi baru dan memasarkannya dengan gencar. Dengan memanfaatkan para gadis yang cantik dan pemuda yang ganteng maka daya tarik promosi menjadi semakin besar. Akibatnya, masyarakat dari tingkat akar rumput yang miskin pun bermimpi untuk memiliki barang-barang mewah padahal sebenarnya belum begitu dibutuhkan.

            Untuk membimbing masyarakat (dalam hal ini anggota jemaat) dapat mengambil keputusan penting yang berguna untuk dirinya, keluarganya, masa depannya, spiritualitas sangat diperlukan. Dalam kaitan ini peran para pelayan sangat strategis. Tetapi jika para pelayan itu sendiri tidak memiliki spiritualitas yang baik, mereka akan mengalami kesulitan untuk membimbing jemaat ke arah yang benar. Mereka akan ditertawakan bahkan mungkin ditinggalkan. Oleh sebab itu, melalui sesi ini kita akan membicarakan secara khusus spiritualitas para pelayan (dalam hal ini calon pelayan) yang sangat dibutuhkan sebagai salah satu syarat penting untuk melakukan pelayanan yang efektif dan berhasil. Sebagai pemula dalam pelayanan, para calon pelayan sejak awal harus memiliki komitmen dan kesadaran diri tentang perlunya pertumbuhan spiritualitas, sehingga pada suatu saat mereka akan menjadi pelayan yang memiliki kepribadian tangguh dan handal. Ini merupakan proses, tidak mungkin diperoleh hanya dalam satu hari atau satu bulan. Pertumbuhan harus terus menerus terjadi, dan para calon pelayan harus bersedia belajar di tengah pelayanannya.

Pengertian Spiritualitas

Pada masa pencerahan hingga awal abad ke-20, manusia mengutamakan kecerdasan intelektual (IQ). Semakin tinggi IQ seseorang maka semakin tinggi pula kecerdesannya. Oleh sebab itu, para psikolog menyusun berbagai tes untuk mengukurnya sehingga diperoleh tingkatan-tingkatan IQ manusia. Pada pertengahan 1990-an, para peneliti menemukan bahwa kecerdasan emosional sama pentingnya (bahkan ada mengatakan lebih penting) dari IQ. Kecerdasan emosional (EQ) memberi kita kesadaran milik kita sendiri dan juga perasaan milik orang lain. EQ memberi kita rasa empati, cinta, motivasi dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan dengan cepat. EQ merupakan persyaratan dasar untuk menggunakan IQ secara efektif. Sekalipun IQ seseorang sangat tinggi, tanpa EQ dia dapat menyalahgunakannya untuk menjadi sumber kerusakan bagi  manusia dan alam semesta. Pada akhir abad ke-20, para ahli menemukan adanya kecerdasan ketiga, yang disebut dengan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan ketiga ini merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan  hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas  dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan orang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Akhir-akhir ini disimpulkan, kecerdasan spiritual lebih tinggi daripada kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

Kita tidak membahas kecerdasan spiritual secara spesifik dalam sesi ini karena pembahasan mengenai masalah ini membutuhkan pengetahuan yang luas tentang struktur otak manusia dan perkembangan filsafat (misalnya Freud, Newton, Jalaluddin Rumi, Carl Jung, dan sebagainya). Beberapa ahli mengatakan bahwa kecerdasan spiritual tidak sama dengan beragama. Seseorang yang memahami dengan baik ajaran dan hukum agama formal belum tidak otomatis memiliki kecerdasan spiritual yang baik. Sebaliknya, seorang atheis dan humanis yang tidak beragama bisa saja memiliki kecerdasan spiritual yang baik. Menurut mereka, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu kita menyembuhkan dan membangun diri secara utuh sebab kecerdasan spiritual terdapat di dalam bagian terdalam dari manusia itu sendiri.

Pendapat para ahli di atas tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Sekalipun kita dapat menerima bahwa kecerdasan spiritual tidak sama dengan beragama, tetapi tidak dapat disangkal, pengalaman keagamaan yang dimiliki seseorang sebagai hasil perjumpaan dengan berbagai hal (peristiwa, budaya dan agama-agama lainnya dan sebagainya) akan mempertajam perenungannya tentang makna, yang pada akhirnya akan menghasilkan kecerdasan spiritual yang baik. Agama sebagai kepercayaan dan aturan memang diwarisi dari kitab sucii,  para pemimpin agama, orang tua atau keluarga, tetapi tanpa perenungan yang mendalam terhadap semua yang diwarisi itu seseorang tidak mungkin memiliki kecerdasan spiritualitas. Dengan kata lain, sekalipun kecerdasan spiritual yang dimaksudkan para ahli tidak sama dengan spiritualitas yang akan kita bahas di sini tetapi keduanya mempunyai hubungan yang erat. Kecerdasan spiritual tidak mungkin terjadi tanpa spiritualitas, dan spiritualitas akan mendorong (melahirkan) kecerdasan spiritual yang baik. Sumber utama (primer) yang menjadi dasar pedoman dan ukurannya tentu tidak berbeda yakni Kitab Suci. Oleh sebab itu jika kita hendak membahas Kecerdasan Spiritual dan Spiritualitas orang-orang Kristen, sumber primernya haruslah Kitab Suci (Alkitab) ditambah dengan sumber-sumber sekunder lainnya. Agar lebih jelas maka berikut ini kita akan mengelaborasi pengertian spiritualitas.       

Istilah “Spiritualitas” (dalam hal ini Kristen) menunjuk kepada dua hal yakni sebuah pengalaman hidup dan suatu disiplin ilmu akademis. Sebagai sebuah pengalaman hidup istilah ini mengacu pada keseluruhan hidup Kristiani yang berorientasi pada pengetahuan transenden, kebebasan, dan kasih dalam nilai-nilai dan gagasan luhur yang diterima dan digumuli dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus dalam gereja-Nya sebagai persekutuan orang-orang percaya. Spiritualitas ini berkenaan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman hidup Kristiani, khususnya persepsi dan upaya mencapai gagasan atau tujuan tertinggi hidup Kristiani, yaitu suatu kesatuan yang lebih intensif dengan Allah yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus melalui kehidupan dalam Roh.

            Dengan demikian, spiritualitas memiliki hubungan yang jelas dengan penghayatan kepada Firman Tuhan,  pendalaman penghayatan hubungan Tuhan Yesus dengan Allah Bapa, menjadi perenungan hubungan antara para muridNya dengan Tuhan Yesus (Yoh.14-17). Dari hubungan itu yang pertama-tama ditunjukkan adalah dimensi vertikal: Allah mengutus, memberikan tugas, menetapkan misi  yang harus dilakukan tanpa menyimpang sedikit pun dari pokok-pokok yang diamanatkan. Dia yang dipercayai melakukan misi itu harus senantiasa memiliki hubungan yang intim dengan Pengutus.

            Apakah dasar dan tujuan spiritualitas Kristen? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama perlu dijelaskan dulu pemahaman kata spiritual di dalam terminologi teologi Kristen. Kata spiritual (rohani) dalam bahasa Yunaninya adalah pneumatikos, yang berarti bersifat roh atau berkenaan dengan roh. Kata ini di dalam PB, terutama di dalam tulisan Rasul Paulus, mempunyai tiga arti yaitu tentang orang rohani (1 Kor. 2:13,15; 3:1; bnd. Gal. 6:1); tentang hal-hal rohani (1 Kor. 2:13; 9:11; bnd. Rm. 15:27; Ef. 1:3); dan tentang “benda-benda rohani” yang merupakan suatu gambaran metafora yang menunjuk arti hal-hal yang spiritual (1 Kor. 10:3-4; 15:44-46; bnd. 1 Pet. 2:5,9). Ketiga arti ini dikaitkan pemahamannya dengan karya Allah di dalam diri Yesus Kristus dan melalui Roh Kudus. Rasul Paulus di dalam surat 1 Korintus, menggunakan kata pneumatikos untuk menegur golongan tertentu di dalam jemaat Korintus yang menganggap diri mereka ‘spiritual atau rohani’ dibandingkan yang lainnya. Hal ini dikarenakan mereka merasa memiliki karunia-karunia istimewa, yaitu karunia nubuat dan bahasa roh. Rasul Paulus menegur jemaat Korintus secara keseluruhan, termasuk golongan tertentu tersebut, yang walaupun mereka menganggap dirinya dipenuhi dengan karunia-karunia tetapi mereka masih hidup di dalam pertengkaran, percabulan, penyembahan berhala, ajaran sesat dan semacamnya. Oleh sebab itu dia menyebut orang-orang di Korintus sebagai manusia duniawi yang tidak dapat menerima hal-hal spiritual yang berasal dari Roh Allah. Manusia duniawi adalah manusia psukhikos “bersifat jiwa, alamiah” (1 Kor. 2:13-15; 15:44-46); dan sarkikos “bersifat daging” (1 Kor. 3:1; 9:11). Manusia duniawi hidup tanpa Roh Allah dan oleh karena itu mereka tidak dapat mengerti hal-hal yang spiritual. Sebaliknya manusia spiritual adalah manusia yang dapat menilai segala sesuatu (1 Kor. 2:15) karena hidupnya dipimpin oleh Roh Allah dan memiliki pikiran Yesus Kristus (1 Kor.2:16).

Kehidupan spiritualitas orang-orang percaya didasari oleh iman yang tertuju kepada Yesus Kristus. Dengan percaya dan beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat yang telah menebus dosa-dosa dunia dan yang telah bangkit, maka mereka menerima karunia Roh, yaitu Roh Kudus tinggal di dalam kehidupan mereka. Berdasarkan karunia Roh yang diterima dan tinggal di dalam hidup orang-orang percaya, maka kehidupan mereka yang lama diperbarui, menjadi manusia baru (Ef.4:17-32). Mereka memiliki hidup yang baru yang berada di dalam kasih Allah (1 Kor. 13).

Kehidupan spiritualitas Kristen merupakan kasih karunia dan anugerah Allah semata-mata. Kehidupan spiritualitas ini muncul bukan karena reaksi terhadap suatu kondisi zaman yang tidak menentu. Tetapi kehidupan spiritualitas ini muncul pertama-tama oleh karena kasih karunia dan anugerah Allah yang mengerjakan dan mengaruniakan keselamatan di dalam orang-orang percaya melalui karya penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa munculnya kehidupan spiritualitas di dalam diri orang-orang percaya inisiatifnya datang dari Allah. Spirituality, in other words, is not something the believer has but is a new pattern of personal growth taking place in the community of those who have been sought out, converted and cherished by the risen Christ. ‘In this love, not that we loved God but God loved us. …We love because God first loved us (1 John 4. 10,19).

Di dalam surat-surat Rasul Paulus, pernyataan “di dalam Kristus” atau “di dalam Tuhan” dikutip sebanyak 164 kali, hal ini jelas membuktikan bahwa betapa pentingnya dasar kehidupan spiritualitas yang didasari oleh iman yang tertuju kepada Yesus Kristus. Karena melalui Yesus Kristus, kehadiran Allah disingkapkan dan Roh Kudus diberikan kepada orang-orang percaya. Allah memang misteri bagi kehidupan manusia, namun melalui Yesus Kristus Allah menyatakan diri-Nya agar manusia dapat mengenal-Nya. Dan melalui Roh Kudus kehadiran Allah menjadi nyata di dalam diri orang percaya yang ditandai dengan adanya suatu pembaruan hidup.

Selanjutnya, mesti dicatat bahwa dasar spiritualitas Kristen tidak saja berpusat kepada Kristus (Kristus-sentris), tetapi juga berpusat kepada Allah Trinitas (Trinitas-sentris). Kedua pusat ini merupakan satu kesatuan. Kesatuan ini mempunyai pengertian bahwa percaya dan beriman kepada Yesus Kristus menjadi ‘pintu masuk’ bagi kehidupan spiritualitas orang orang percaya. Namun demikian percaya kepada pribadi Yesus Kristus harus dihubungkan dengan percaya kepada pribadi-pribadi Ilahi lainnya di dalam Allah Trinitas, yakni Allah Bapa dan Roh Kudus. Allah Trinitas yang Agung menuntun orang-orang percaya kepada kepenuhan dan kekayaan kehidupan spiritualitas sejati. Memiliki kehidupan spiritualitas sejati berarti memiliki kesadaran spiritualitas yang peka dan jernih terhadap realitas kehadiran Allah Trinitas, baik di dalam kehidupan pribadi sebagai orang percaya maupun di dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Di wilayah-wilayah kehidupan apapun misalnya kehidupan emosional pribadi, sosial, ekonomi, moral, seksual, profesi, hubungan dengan sesama dan semacamnya tidak dibiarkan lepas dari kesadaran spiritualitas tersebut. Hal ini didasari pada pengakuan yang sepenuhnya bahwa tidak ada satupun bagian kehidupan orang-orang percaya yang boleh terpisah dari kehadiran Allah Trinitas. Sebagai akibatnya kehidupan yang dijalani oleh mereka adalah kehidupan yang kudus dan benar. Kehidupan semacam ini adalah kasih karunia dan anugerah Allah Trinitas, dan juga merupakan sebuah proses di mana di dalamnya kehidupan orang-orang percaya dituntun dan diajar oleh Roh Kudus untuk mengenal dan mendalami kebenaran Kristus sebagaimana dinyatakan oleh Alkitab.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: