Posted by: Jamilin Sirait | August 18, 2010

HKI Turut Mengupayakan Kesejahteraan Umat


 

HKI turut serta mengupayakan kesejahteraan umat

(Oleh: Pdt Dr Jamilin Sirait)

Pengantar

Thema Sidang Raya LWF ke-11 tahun 2010 yang diselenggarakan pada tanggal 20-27 Juli di Stuttgart Jerman adalah Mat.6:11, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Thema ini dapat menjadi petunjuk tentang pergumulan utama dari gereja-gereja Lutheran pada masa sekarang dan masa yang akan datang, paling tidak untuk masa waktu selama tujuh tahun ke depan, jumlah yang membutuhkan roti semakin banyak sementara roti tidak bertambah malah cenderung berkurang. Kita, khususnya masyarakat di Negara-negara yang sedang membangun menghadapi persoalan besar, yakni jumlah orang-orang miskin semakin bertambah akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Tetapi sebenarnya bukan hanya Negara-negara sedang membangun yang mengalami krisis ekonomi, tetapi Negara-negara yang sudah maju pun kena imbas krisis ekonomi. Jumlah pengangguran di Negara maju bertambah. Di Jerman misalnya, angka pengangguran mencapai 7,9% pada awal tahun ini.  Di Amerika jumlah pengangguran beberapa bulan terakhir ini tembus hingga ke angka 8,5%. Akibatnya Negara harus menanggung beban besar untuk membiayai mereka.

Pada dasarnya, masalah utama kita bukan hanya sekedar “roti” atau makanan sehari-hari, tetapi jauh lebih kompleks. Ada banyak yang terkait dengan masalah roti itu, antara lain: system di suatu Negara tertentu yang membuat sebagian orang hidup miskin, ketidak-adilan di tengah-tengah masyarakat, kekerasan, penggundulan hutan, perubahan iklim yang membuat pertanian terganggu, polusi udara, masalah pendidikan, dan sebagainya. Kemiskinan juga mengakibatkan terjadinya hal-hal negatip lainnya seperti perampokan, penjarahan, dsb. Walaupun roti atau makanan menjadi kebutuhan utama manusia sehari-hari,  manusia juga membutuhkan keamanan, kedamaian, ketenangan, tempat berteduh, kebebasan beribadah serta berekspresi, jaminan  hak azasi.

Nampaknya tema dan sub-tema Synode HKI ke-59 yang diadakan beberapa hari ini diinspirasi oleh thema SR LWF 2010. Mudah-mudahan, pergumulan bersama dari gereja-gereja juga menjadi pergumulan HKI sekarang dan ke depan. Dengan sub-thema “HKI turut mengupayakan kesejahteraan umat” mengisyaratkan agar dalam Synode ini akan dibicarakan garis-garis besar program jangka panjang untuk mencapai implementasi tema dan sub-tema ini. Kemudian garis-garis besar program itu akan diterjemahkan oleh Pimpinan yang akan terpilih bersama semua unit terkait dan jemaat.

Kesejahteraan Masyarakat

            Sejahtera, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan). Dari sumber yang sama, sentosa diartikan sebagai bebas dari segala kesukaran dan bencana; aman dan tenteram; sejahtera. Sedangkan untuk kata makmur, terdapat tiga arti: 1) banyak hasil, 2) banyak penduduk dan sejahtera, sertya 3) serba kecukupan; tidak kekurangan. Dari Wikipedia, kita mendapatkan beberapa pengertian sejahtera. Pengertian umum untuk kesejahteraan menurut ensiklopedi bebas tersebut, menunjuk ke keadaan yang baik, kondisi manusia di mana orang-orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat dan damai.

Pemaknaan kata hidup sejahtera, kesejahteraan dipahami secara berbeda. Sebagian orang mengatakan, seseorang dapat disebut sejahtera  jika dia sudah mencapai kebebasan keuangan (financial freedom), yaitu ketika dia  tidak perlu lagi bekerja, namun segala kebutuhan keuangan dia bisa terpenuhi dari aset produktif, misalnya dari deposito, saham, reksadana, pensiun dan sebagainya. Apabila seseorang masih harus bekerja keras dan menggantungkan seluruh biaya hidup dari gaji, sebenarnya dia belum tergolong sejahtera, sebab  jika dia non-job maka kondisi keuangannya pasti terganggu.

Sebagian lainnya mengatakan bahwa sejahtera atau merdeka secara keuangan tidak bergantung pada besarnya aset yang dimiliki seseorang, melainkan bergantung kepada seberapa besar kebutuhan yang bisa dibiayai oleh penghasilan pasif (passive income). Misalkan seseorang punya tabungan berjangka dengan bunga tiga juta rupiah perbulan, sedangkan kebutuhan keuangannya dua setengah juta rupiah perbulan maka dia sudah bisa disebut sejahtera.

Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa yang disebut sejahtera adalah jika seseorang sudah memiliki minimal satu rumah yang bagus, satu unit mobil yang bagus, penghasilan rata-rata setiap bulan dapat membiayai semua kebutuhan yang diperlukan, dan sekaligus mampu menyisihkan sebagian untuk tabungan di hari tua. Seseorang bisa hidup sejahtera jika mempunyai penghasilan puluhan juta rupiah setiap bulan. Tetapi ada juga yang mendebatnya dan mengatakan bahwa menjadi sejahtera tidaklah harus menjadi kaya raya, karena kebutuhan keuangan setiap orang ukurannya relatif, tergantung dari tujuan dan gaya hidup  masing-masing. Oleh sebab itu, makna sejatera tidak ditentukan oleh banyaknya uang, tetapi bagaimana seseorang itu dapat menikmati hidupnya dengan baik dan penuh ucapan syukur. Namun pernyataan seperti ini pun dapat diperdebatkan, sebab ada yang mengatakan, seseorang tidak mungkin sejahtera jika hidupnya masih melarat. Dengan kata lain, makna sejahtera dan kesejahteraan itu terbuka untuk didiskusikan dan perlu dipertimbangkan konteks di mana seseorang hidup dan perkembangan dari suatu masyarakat.

Setelah meneliti perkembangan ekonomi di berbagai Negara, para pemerhati ekonomi dari UNDP (United Nation Development Program) mengatakan bahwa definisi “kesejahteraan” melampaui ukuran-ukuran angka pertumbuhan ekonomi semata. Masyarakat di Negara superpower yang tingkat pertumbuhan ekonominya sangat tinggi belum tentu lebih sejahtera dari  masyarakat di Negara kecil yang pertumbuhan ekonominya lebih kecil. Masyarakat Negara kecil Switzerland misalnya bisa lebih sejahtera daripada masyarakat USA, sebab rata-rata masyarakat dari Negara kecil ini dapat menikmati kehidupan secara merata. Masyarakat Singapore bisa lebih sejahtera dari masyarakat Arab Saudi sekalipun lebih kaya dalam sumber-sumber alam sebab kekayaan Arab Saudi tersebut lebih banyak dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat. Mereka menyebutnya “Human Development Index”(HDI). Secara umum dipahamani, HDI merupakan urusan “pengembangan sumber daya manusia/SDM” seperti urusan pelatihan, kursus dan training. Tetapi ini sebenarnya merupakan pengertian seperti itu tidak dapat dipertahankan lagi. Pengembangan SDM bersangkut-paut dengan cara pandang tentang “pembangunan”, tentang apa yang harus dicapai dengan pembangunan, ke arah mana pembangunan harus dilakukan, siapa yang harus disentuh oleh pembangunan itu.

            Oleh sebab itu, kesejahteraan berarti semakin terbukanya kesempatan dan kemampuan (capability) untuk mendapatkan  hak dasarnya sebagai seorang manusia: misalnya terpenuhinya kebutuhan pangan, mendapatkan pendidikan dasar yang memadai, bebas dari buta huruf, selalu dalam keadaan sehat, terhindar dari kematian dini (avoiding escapable morbidity), atau berupa kondisi abstrak semisal menjadi bahagia, dihormati, bebas dari rasa takut, bebas dari ancaman penghilangan secara paksa, bebas mengemukakan pendapat, maupun bisa berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Menurut pemikiran saya, sekalipun ada perbedaan pendapat tentang makna kesejahteraan itu, tetapi kesejahteraan itu tidak mungkin terlepas dari kebutuhan manusia sehari-hari, yaitu sandang dan pangan. Tetapi pada sisi lain, ukuran kesejahteraan itu semata-mata tidak hanya ditentukan oleh banyaknya sandang dan pangan yang dimiliki seseorang,  tetapi kebutuhan lainnya pun yang bersifat psikis harus terpenuhi, antara lain: masyarakat aman dan damai, hidup dalam keluarga rukun, diterima di tengah-tengah masyarakat lingkungan, memiliki kebebasan berpendapat, ada kepastian hukum, bebas melakukan ibadah sesuai dengan kepercayaannya, ada jaminan hidup untuk masa depan.

Peran Gereja  dalam mewujudkan kesejahteraan Umat

            Sesuai dengan penjelasan di atas, oleh sebab kesejahteraan bersangkut paut pertama-tama dengan masalah ekonomi, kita tidak mungkin berandai-andai bahwa gerejalah satu-satunya yang harus bertanggung-jawab untuk melengkapi kebutuhan hidup sehari-hari atau memberikan makanan dan minuman umatnya. Gereja tidak mampu melakukannya dan tidak mungkin mempersiapkan lapangan kerja bagi semua umat. Tetapi berhubung kesejahteraan juga kompleks, berkaitan dengan kehidupan manusia secara utuh, maka gereja (agama) memiliki peran strategis dalam pencapaian kesejahteraan umat (masyarakat). Dengan peran strategis dimaksudkan adalah: di samping menyampaikan Berita Injil tentang kehidupan surgawi yang sudah diterima pada hidup di dunia ini tetapi akan digenapi kemudian di surga, tetapi harus terlibat aktif dalam menggumuli kehidupan kondisi dan perkembangan masyarakat, kemudian memberikan pedoman-pedoman etika dan moral Kristiani kepada umat. Gereja harus menyampaikan berita sukacita surga bahwa Kerajaan Surga telah datang melalui Yesus Kristus, melalui pemberitaan mengarahkan umat memiliki komitmen menurut ajaran Kristus. Oleh sebab itu, para pelayan gereja tidak boleh hanya asyik dan sibuk di belakang podium (sekalipun mungkin terbuat dari emas) dengan khotbah-khotbah yang sangat indah, tetapi harus keluar dari dalam gedung gereja, turun menjumpai umat di tengah-tengah pergumulan dan kehidupan nyata sehari-hari. Allah perduli kepada kehidupan manusia secara utuh, mengutus hamba-hambaNya, para nabi dan rasul menjumpai manusia dalam konteks kehidupan masing-masing.

            Di dalam Alkitab ada beberapa teks yang dapat menjadi landasan teologis keperdulian Tuhan kepada kesejehteraan umat.  Di dalam Alkitab, manusia dijelaskan sebagai manusia yang utuh, tidak tercerai-berai antara roh, jiwa dan tubuh. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, diberikan nafas kehidupan secara langsung, kemudian  kepadanya diberikan tanggung-jawab besar untuk mengurusi memelihara alam semesta dan semua ciptaan lainnya. Dalam berita tentang penciptaan itu sangat jelas, Allah menciptakan segala sesuatu sebelum manusia diciptakan. Artinya, Allah telah menyediakan semua yang dibutuhkan manusia tetapi harus dalam rangka tanggungjawabnya kepada kesegambaran itu. Oleh sebab itu, dalam rangka lebih memahami implementasi dari sub-tema di atas, kita perlu melihat tantangan dan peran kita sebagai gereja dewasa ini.

            Pertama, ada kelompok Kristen yang memahami kehidupan kesejahteraan itu secara berbeda, mengutamakan ibadah-ibadah yang mengarahkan orang melupakan masalah-masalah kehidupannya sehari-hari, mengarahkan seluruh hidupnya dalam persekurtuan dengan Tuhan Allah. Liturgi dan ibadahnya ditata sedemikian rupa sehingga umat yang memasukinya seolah-olah mengalami ekstasi dan menyatu dengan Allah sehingga segala sesuatu yang bersifat duniawi dilupakan (untuk sementara), melupakan dunia ini yang penuh dengan kuasa-kuasa iblis yang tidak mungkin diperbaiki lagi. Kerinduan satu-satunya adalah menantikan kedatangan Tuhan Yesus kedua-kalinya untuk mengakhiri segala sesuatu. Hidup harus diarahkan kepada penantian itu, keterlibatan orang Kristen kepada pembangunan dan pengembangan masyarakat serta keikut-sertaan dalam politik merupakan pekerjaan yang sia-sia saja.

            Sikap kekristenan seperti itu dapat kita bandingkan dengan apa yang dialami oleh orang-orang Yahudi pada masa pembuangan di Babel. Pada waktu itu para nabi palsu menubuatkan “harapan yang sia-sia” dan “keselamatan semu” (Yer.23:16-17). Para nabi palsu mengatakan bahwa mereka sudah menerima nubuatan dari Allah yang isinya: orang-orang Yahudi tidak akan dikalahkan Babel, mereka tidak mungkin ditawan, mereka boleh hidup tenang sebab mereka akan selamat. Tetapi berbeda dengan para nabi palsu,  nabi Yeremia yang menerima nunbuatan dari Allah mengatakan dengan tegas bahwa mereka harus merasakan penderitaan itu, mereka akan berada di pembuangan sampai 70 tahun lamanya sebelum janji kesejahteraan Tuhan dianugerahkan kepada umatnya yang setia. Nabi mengingatkan agar berhati-hati terhadap tipu daya para nabi yang memanipulasi nubuatan-nubuatan, ramalan maupun mimpi-mimpi sebagai komoditas rohani, padahal apa yang mereka katakan bukan berasal dari Tuhan. Yeremia mengatakan agar selama dalam pembuangan mereka harus berjuang keras kearah “kesejahteraan kota karena kesejahteraan kota adalah kesejahteraan mereka juga” (Yer.29:4-9). Sebagai kelompok Kristen main-stream tentu kita menolak cara pandang yang melihat tugas dan tanggung-jawab gereja hanya pada arasy spiritual saja. Sekalipun tugas utama gereja bukan untuk mempersiapkan lapangan kerja bagi umat, ada peran strategis yang dapat dilakukan sehingga kesejahteraan umat bukan hanya mimpi tetapi suatu kenyataan yang dapat dinikmati.

Kedua, kita juga menghadapi serangan dari kelompok anti-Kristen (kelompok-kelompok agama tertentu dan ideology) yang menuduh ajaran gereja sebagai obat bius sebab hanya mengajarkan hal-hal surgawi sehingga membuat masyarakat tidak bersemangat bekerja berserah kepada nasib, merupakan tuduhan sembarangan dan tidak punya bukti, atau didasarkan kepada cara-cara kelompok-kelompok tertentu dari Kristen. Mereka tidak memahami ajaran Alkitab dengan sebenarnya dan hanya mengambil teks-teks tertentu untuk mendukung argumentasi mereka.  Padahal, teks-teks Alkitab yang menekankan agar manusia bekerja dengan sungguh-sungguh serta memikirkan masa depannya tidak diperhatikan (Amsal 6:6; 2 Tess. 3:10).  Menurut Max Weber, Etika Kristen Protestan (khususnya Calvinisme) menjadi dorongan utama bagi semangat kapitalisme. Dengan kata lain, kekristenan (Protestan) bukanlah obat candu yang membuat manusia tertidur sebagaimana dituduhkan banyak orang tetapi justeru menjadi pembakar semangat untuk mengupayakan kesejahteraan masyarakat.

            Ketiga, kita harus senantiasa kritis terhadap pemahaman dan prinsip yang hanya mengutamakan kesejahteraan manusia sebagai satu-satunya tujuan hidup. Perjalanan umat Israel di gurun pasir dari Mesir ke tanah Kanaan merupakan contoh konkrit pemeliharaan Allah kepada umat dan menjadi dasar pemahaman yang jelas tentang peran memikirkan kesejahteraan umat (Kel 16:14-31; Bil.11:4-9). Allah memberikan manna kepada mereka. Setiap pagi mereka harus mengumpulkannya, tetapi tidak perlu menyimpan manna sebagai perbekalan untuk keesokan harinya. Jadi untuk bertahan hidup selama di padang gurun mereka diajar untuk sungguh-sungguh bergantung kepada kemurahan dan pemeliharaan Allah setiap hari.

Perjalanan umat Israel merupakan pro-type dari perjalanan orang-orang Kristen (Gereja) di dunia ini. Selama di dalam perjalanan, Tuhan memelihara umatNya dan memberikan apa yang dibutuhkan. Sebenarnya yang diperlukan hanya sebatas apa yang dibutuhkan. Tetapi ternyata manusia kadang kala melupakannya dan berupaya untuk mengumpulkan lebih banyak dengan keyakinan bahwa hidupnya akan jauh lebih senang jika dia mengumpulkan banyak harta. Demi harta kekayaan sebagian orang melakukan apa saja, tidak perduli apakah tindakannya merusak masa depan umat manusia, tidak perduli sekalipun menyengsarakan banyak orang. Tuhan Yesus memperingatkan sikap hidup seperti itu melalui suatu perumpamaan tentang orang kaya yang hasil panennya berhasil dan menggantungkan keamanan hidupnya kepada hartanya itu. Dia juga menegor sikap para pemimpin Yahudi yang tidak memperdulikan orang-orang miskin melalui suatu perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin (Luk. 16:19-31).  Para rasul dan pelayan dari Gereja mula-mula memberi perhatian kepada mereka yang kekurangan dan bahkan berupaya agar mereka menikmati kehidupan yang lebih baik sama seperti yang lainnya. Mereka menegur orang-orang kaya yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak pernah memikirkan nasib orang-orang miskin dengan memakan makanan lebih dahulu serta tidak mengindahkan mereka yang datang belakangan.

               Keempat, Gereja ada bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk berkarya di tengah-tengah dunia, oleh sebab itu gereja tidak boleh menjadi persekutuan yang statis dan apatis melainkan harus dinamis, responsif sesuai dengan makna dan jati diri gereja sebagai persekutuan yang kreatif, konstruktif,  dinamis dan kritis. Keharusan bagi Gereja untuk terlibat aktif dalam perkembangan kehidupan bangsa ini karena: Gereja mempunyai tanggung jawab untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah; dan mengusahakan agar kehidupan masyarakat didasarkan atas keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang tanpa membedakan ras, suku, agama, budaya sebagai wujud cinta kasih Allah bagi dunia (Yeremia 22:3, Amos 5:15-24). Dalam hubungannya dengan negara, meskipun Gereja mengakui bahwa negara adalah alat dalam tangan Tuhan yang bertujuan untuk mensejahterakan manusia, sebagai lembaga yang otonom dalam mengemban fungsi dan otoritasnya maka gereja harus bebas dari pengaruh negara. Gereja harus kritis dan tajam dalam melihat tanda-tanda jaman sambil berupaya terus untuk memperhadapkan realitas yang dihadapi dalam terang Firman Tuhan. Dengan menghidupi makna pelayanan termasuk mensejahterakan sesama berdasarkan Firman Tuhan, maka warga jemaat akan dimampukan melakukan tindakan pelayanan yang berpihak kepada sesamanya yang membutuhkan, misalnya: orang-orang miskin, kaum tertindas, para janda dan orang-orang yang tertindas oleh karena ketidakadilan atau ketidakbenaran.

Tantangan dan harapan untuk HKI

            Melalui sub-tema Sinode HKI tahun ini,  diharapakan agar gereja (para pelayan dan jemaat) dipanggil Allah untuk meningkatkan kesejahteraan umat Kristen secara khusus dan masyarakat pada umumnya. Terlepas dari kondisi negara kita dan dunia pada umumnya, HKI turut dipanggil Tuhan untuk mensejahterakan umat HKI khususnya dan masyarakat bangsa umumnya. Meningkatkan kesejahteraan umat tersebut bukan berarti kita hanya tinggal diam dan hanya meminta dengan doa: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami secukupnya”, melainkan dibutuhkan tindakan konkrit bersama. Dalam hal ini, HKI melalui para pelayannya pada prinsipnya memiliki potensi untuk meningkatkan pelayanan yang bersifat transformatif dengan mencontoh pelayanan yang dilakukan oleh Dr. I.L. Nommensen untuk meningkatkan kesejahteraan orang-orang Batak sebagai bagian tidak terpisahkan dari pemberitaan Firman Tuhan. Pola yang digunakan oleh Nommensen dan para missioner lainnya untuk mensejahterakan umat yakni melalui system pelayanan “Pargodungan” yakni: Pendidikan, ekonomi, bahasa bahkan kesehatan untuk masyarakat dalam persekutuan di gereja. Pelayanan holistik sudah dikembangkan sejak awal oleh para pembawa berita Injil di tanah Batak dan meninggalkan pola pietisme yang hanya mengutamakan hidup kudus. Pola yang seperti itulah yang dapat kita contoh untuk mensejahterakan umat secara konkrit. Dengan kata lain, selain kita berdoa atau meminta kepada Tuhan melalui iman yang teguh, juga diperlukan tindakan konkrit melalui pengurus dan pelayannya dengan cara tersebut di atas sehingga bersama-sama menerima kesejahteraan yang telah Tuhan sediakan bagi setiap orang percaya.

            Permasalahannya sekarang adalah: apakah gereja sungguh-sungguh mau berbuat untuk memperjuangkan kesejahteraan umat? Apa tindakan konkrit yang harus dilaksanakan oleh gereja di tengah-tengah masyarakat dan dunia sekarang yang diperhadapkan dengan berbagai masalah dan tantangan. Sebagaimana dibicarakan dalam sidang-sidang gereja Lutheran se-dunia, kita melihat kenyataan-kenyataan yang berbeda dengan cita-cita ideal gereja di tengah-tengah masyarakat, khususnya di Negara-negara yang sedang membangun.  Terdapat kesenjangan antara Negara-negara kaya dengan Negara miskin, kesenjangan antara orang-orang kaya dengan orang miskin, kekerasan terjadi di mana-mana yakni kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, kekerasan kepada para pekerja di perusahaan-perusahaan,  bahkan kekerasan atas nama agama pun masih sering terjadi, sebagian penduduk dunia mengalami kekurangan air bersih, dan sebagainya.

Ketika kita menghendaki adanya kehidupan masyarakat sejahtera, kenyataannya sebagian terbesar dari masyarakat hidup miskin (melarat). Hanya sebagian kecil saja yang menikmati hidup sejahtera. Masyarakat kecil tidak hanya mengalami kehidupan serba kekurangan di tengah-tengah glamour hidup mewah sebagian orang, tetapi sering menghadapi ketidak-adilan. Seorang wanita tua pencuri coklat mendapat vonis hukuman beberapa bulan di meja pengadilan, sementara para koruptor kelas kakap berkeliaran dengan bebas tanpa pernah disentuh oleh hokum.

Nampaknya kesejahteraan umat (masyarakat) masih merupakan cita-cita ideal yang harus terus menerus diperjuangkan. Sikap hidup dan moral sebagian masyarakat sudah sangat merosot yang ditandai dengan perilaku anak-anak bangsa yang korup, memakan makanan orang-orang kecil dan miskin, melahap apa saja yang bisa dilahap tanpa memiliki perasaan peri kemanusiaan lagi. Gereja harus benar-benar menolak segala bentuk penyimpangan perilaku di dalam masyarakat termasuk KKN, mengembangkan sikap kritis kepada pemerintah yang korup, menentang segala perilaku  yang tidak berpihak kepada masyarakat.

            Dalam konteks Synode Godang ke-59 HKI saat ini, barangkali kita perlu melihat kembali apa yang dicita-citakan para pendirinya dahulu:

Pertama, agar gereja yang mandiri (zelfstandig) di bidang daya, dana dan teologi berdiri. Mereka memiliki pendirian yang jelas, tegas dan berani dengan mengatakan bahwa suatu suku bangsa akan mampu berdiri sendiri (majujung baringinna) tanpa mengharapkan bantuan dari suku bangsa lainnya.  Cita-cita itu memang luar biasa dan ideal, tetapi nampaknya sulit diwujudkan jika taraf kehidupan masyarakat yang rata-rata bekerja sebagai petani belum dapat diperbaiki.

Kedua, para pendiri dan pemimpin HChB terdahulu berupaya untuk mewujudkan cita-cita ideal mensejahterakan masyaraka dengan: memberi perhatian kepada pendidikan dengan mendirikan sekolah di setiap jemaat. Berbagai usaha telah dilakukan agar sekolah-sekolah tersebut bisa bertahan dan mampu menghasilkan murid-murid yang berkualitas. Tetapi nampaknya, sama seperti sekolah-sekolah Kristen lainnya (Sumut), banyak sekolah yang telah dimulai dengan baik dan sempat menjadi sekolah unggulan akhirnya tutup. 

            Oleh karena kita sepakat bahwa gereja harus terlibat aktif untuk turut mengupayakan kesejahteraan umat, gereja harus benar-benar memikiran dan merencanakan program yang dapat mendukung terciptanya umat (masyarakat) sejahtera, melanjutkan apa yang telah dilakukan pimpinan terdahulu dan pimpinan periode yang lalu. Gereja tentu tidak mungkin melupakan bahwa semua tindakan nyata dari orang-orang Kristen dalam wujud diakonia harus berangkat dari persekutuan (koinonia) yang kokoh dan teguh. Jika tidak, pelayanan gereja tidak ada bedanya dengan pekerjaan lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Gereja memberdayakan masyarakat dan memperjuangkan kesejahteraannya, tetapi semuanya itu dilakukan dalam pemahaman teologi bahwa kehidupan di dalam Kerajaan Surga telah dinikmati ketika masih berada di bumi ini. Itu bisa terjadi jika setiap orang dapat merasakan syalom (damai sejahtera) dari Allah dan menyadari hidupnya sebagai hidup yang berguna untuk Tuhan dan untuk dunia.

Penutup   

            Mudah-mudahan butir-butir pemikiran yang sederhana ini dapat menolong kita untuk sungguh-sungguh lebih memberi perhatian kepada peran gereja (HKI) secara keseluruhan, dan membiarkan Tuhan dengan kuasa Roh Kudus bekerja di dalam hati semua synodisten untuk mengupayakan yang terbaik bagi HKI ke depan. Persekutuan, keutuhan, kedamaian dan keberhasilan HKI dalam merumuskan program-programnya ke depan melalui Synode ini dan memilih Pimpinan HKI untuk periode berikut menjadi berkat pertama-tama bagi warga HKI dan kemudian juga bagi gereja-gereja dan masyarakat bangsa secara keseluruhan.

*********************************


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: